Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sisi Menyedihkan Kebumen yang Jarang Diceritakan Warga Lokal: dari Lapangan Kerja yang Itu Aja sampai Ruang Publik yang Stagnan

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
28 November 2025
A A
Sisi Menyedihkan Kebumen yang Jarang Diceritakan Warga Lokal: dari Lapangan Kerja yang Itu Aja sampai Ruang Publik yang Stagnan

Sisi Menyedihkan Kebumen yang Jarang Diceritakan Warga Lokal: dari Lapangan Kerja yang Itu Aja sampai Ruang Publik yang Stagnan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Merantau bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban

Kalau dulu merantau itu prestise, sekarang merantau lebih ke arah “kalau mau hidup layak ya harus keluar”. Saya sendiri merasakan ini. Setelah lulus kuliah, saya sempat galau pulang atau stay di kota.

Waktu itu, saya mencoba mencari lowongan kerja di Kebumen lewat berbagai platform. Hasilnya? Kosong melompong. Atau kalau ada, gajinya setengah dari standar kota besar dengan beban kerja yang sama.

Akhirnya saya putuskan untuk tidak pulang. Bukan karena tidak cinta kampung halaman. Tapi karena secara realistis, Kebumen belum bisa memberi saya apa yang saya butuhkan untuk berkembang.

Ruang publik yang stagnan

Sejujurnya, Kebumen punya alun-alun yang lumayan oke. Ada taman kota yang bersih, ada mall yang cukup ramai di akhir pekan. Tapi selama puluhan tahun, itu-itu saja.

Teman saya yang pernah tinggal di Bandung sempat berkomentar, “Kebumen itu enak, tapi membosankan.”

Kalau mau nongkrong, ya ke alun-alun atau mall. Tidak ada coffee shop kreatif yang jadi tempat komunitas berkumpul. Tidak ada co-working space untuk anak muda yang mau kerja sambil ketemu orang baru. Tak ada ruang seni yang hidup.

Jogja yang jaraknya cuma sejam dengan Prameks jadi pelarian. Mau nonton konser? Ke Jogja. Mau cari buku bagus? Ke Jogja. Mau ikut workshop kreatif? Ya ke Jogja lagi.

Kebumen jadi tempat tidur. Bukan tempat hidup. Beberapa kali ada acara seni atau musik lokal, tapi responsnya dingin. Penonton sedikit, liputan minim, gaungnya cepat hilang.

Baca Juga:

Pengakuan dari Saya, Warga Asli Kebumen yang Menyadari Bahwa Daerah Saya Memang Sulit Dipahami Khususnya Para Pendatang yang Sedang Beradaptasi

Pantai Menganti Kebumen, Pantai Terindah di Jawa Tengah, tapi Perjalanan ke Sana Adalah Simulasi Jantungan yang Dibungkus Liburan

Mental “sudah cukup begini saja”

Ini bagian yang paling berat untuk ditulis. Karena ini tentang mindset yang mengakar.

Saat ada wacana pembangunan baru di Kebumen, entah itu cafe chain atau toko retail modern, saya sering bertanya dalam hati. “Untuk apa? Yang ada sekarang aja sudah cukup.”

Padahal persoalannya bukan soal “cukup” atau “tidak”. Ini soal perkembangan ekonomi, soal lapangan kerja baru, soal daya tarik daerah. Ketika sebuah brand besar masuk, itu artinya ada investasi, ada pajak, ada sirkulasi uang baru.

Tetapi mentalitas “sudah cukup” ini terlalu kuat mengakar di warga Kebumen. Dan yang paling terdampak adalah generasi muda yang ingin perubahan. Mereka jadi merasa tidak punya ruang untuk berekspresi, untuk mencoba hal baru.

Infrastruktur yang timpang

Geopark UNESCO terdengar megah di telinga. Dan memang, ini pencapaian luar biasa. Tapi coba tanya warga di desa-desa pinggiran Kebumen apa mereka merasakan dampaknya?

Jalan menuju beberapa geosite masih rusak parah. Fasilitas wisata setengah jadi. Promosi yang tidak merata membuat turis bingung mau ke mana.

Saya pernah ngobrol dengan pedagang di salah satu pantai selatan Kebumen. Katanya, “Turis datang, foto-foto, terus pulang. Jarang yang beli makanan atau cinderamata.”

Kenapa? Karena tidak ada upaya membangun ekosistem pariwisata yang utuh. Tidak ada pelatihan untuk pedagang lokal, tidak ada packaging produk yang menarik.

Sementara itu, di pusat kota, pembangunan terus berjalan. Mall diperluas, jalan utama diperbaiki. Tapi desa-desa? Masih dengan jalan berlubang, akses internet lemot, fasilitas umum seadanya.

Kesenjangan ini nyata. Dan semakin lama, semakin terasa.

Kenyataan di balik ketenangan Kebumen

Kebumen dari luar memang terlihat tenang. Bahkan nyaman. Apalagi bagi orang-orang seperti saya yang hanya pulang sesekali, semua terasa baik-baik saja. Tetapi saat duduk lebih lama, ngobrol lebih dalam dengan warganya, cerita yang muncul jauh dari kata “baik-baik saja”.

Ada frustrasi anak muda yang ingin berkembang tapi tidak punya ruang. Ada kekecewaan terhadap pembangunan yang tidak merata. Dan ada harapan yang perlahan memudar karena tidak ada perubahan signifikan.

Reuni malam itu berakhir dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, saya senang bisa ketemu teman lama. Di sisi lain, saya sedih karena menyadari bahwa banyak dari kami yang sebenarnya ingin pulang, tapi tidak bisa.

Kebumen punya PR besar. Bukan cuma soal infrastruktur atau ekonomi. Tapi soal bagaimana membuat generasi mudanya merasa bahwa kampung halaman mereka layak diperjuangkan.

Karena kalau generasi mudanya terus pergi, siapa yang akan membangun Kebumen di masa depan? Siapa yang akan menjaga agar Geopark UNESCO bukan cuma jadi label, tapi benar-benar memberi manfaat untuk warganya?

Mungkin sudah waktunya Kebumen berhenti merasa “cukup”. Dan mulai bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi lebih baik?”

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Saran Pikir Dua Kali Sebelum ke Kebumen Itu Benar tapi Itu Dulu karena Sekarang Nggak Lagi Mengenaskan, Sejajar sama Jogja dan Purwokerto.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 29 November 2025 oleh

Tags: Geopark KebumenKabupaten KebumenKebumenkebumen jawa tengahkota kebumenpotensi kebumen
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Moro Soetta, Malioboro Kebumen yang Layak Diapresiasi

Moro Soetta, Malioboro Kebumen yang Layak Diapresiasi

1 Oktober 2025
Pertigaan Wadaslintang bak Pusat Kota bagi Warga Perbatasan Wonosobo-Kebumen Mojok.co

Pertigaan Wadaslintang bak Pusat Kota bagi Warga Perbatasan Wonosobo-Kebumen

15 Agustus 2024
Tomira, Minimarket Milik Rakyat di Kulon Progo, Culture Shock di Tengah Perjalanan Kebumen-Jogja

Tomira, Minimarket Milik Rakyat di Kulon Progo, Culture Shock di Tengah Perjalanan Kebumen-Jogja

22 November 2024
Pertigaan Sruni Kebumen Adalah Anomali, Nggak Bikin Pengendara Emosi

Pertigaan Sruni Kebumen Adalah Anomali, Nggak Bikin Pengendara Emosi

23 Agustus 2024
Sudah Saatnya Purworejo Turunkan Ego dan Belajar dari Kebumen daripada Semakin Tertinggal Mojok.co magelang

Tutorial Menyelamatkan Purworejo: Jiplak Saja Wisata Kebumen dan Cara Magelang Menciptakan Lapangan Kerja

6 Mei 2026
Banjarnegara-Kebumen via Gombong: Jalur Berbahaya yang Nggak Disarankan buat Pengendara Amatiran

Banjarnegara-Kebumen via Gombong: Jalur Berbahaya yang Nggak Disarankan buat Pengendara Amatiran

23 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
Karyawan Indomaret Pekerja Paling Underrated di Indonesia (Unsplash)

Karyawan Indomaret adalah Pekerja Paling Underrated di Indonesia

2 Juni 2026
Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan Mojok.co

Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan

5 Juni 2026
Tips Belanja di Warung Madura supaya Menjadi Pelanggan Kesayangan Pemilik Tokonya Mojok.co

Tips Belanja di Warung Madura supaya Menjadi Pelanggan Kesayangan Pemilik Tokonya

31 Mei 2026
Keindahan Pantai Nanggelan Jember Hanya Bisa Dinikmati oleh Mereka yang Rela Repot, Wisatawan Manja Minggir Dulu Mojok.co

Keindahan Pantai Nanggelan Jember Hanya Bisa Dinikmati oleh Mereka yang Rela Repot, Wisatawan Manja Minggir Dulu

31 Mei 2026
5 Kuliner Malang yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari Mojok.co

Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali

3 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.