Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pengalaman Mengunjungi Tamansari Jogja, Istana Air di Mana Sejarah Kerajaan Berpadu dengan Kehidupan Sosial Masyarakat

Nurhafizah Amalia oleh Nurhafizah Amalia
8 Desember 2025
A A
Sisi Lain Tamansari Jogja yang Membuatnya Misterius (Unsplash)

Sisi Lain Tamansari Jogja yang Membuatnya Misterius (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Pukul 13:20 WIB, di hari Jumat yang cerah, 14 November 2025, kami tiba di kawasan Tamansari Jogja, sebuah istana air yang megah. Suasana di luar gerbang cukup bising oleh suara motor dan panggilan riuh dari tukang parkir yang sibuk mengatur kendaraan. 

Namun, saat kami mendekati loket, ada perasaan bahwa kami akan melangkah memasuki batas waktu yang berbeda. Di loket, interaksi berlangsung cepat. Uang diterima, dan kami menerima tiket. Bukan tiket kertas biasa, melainkan gelang biru dengan tulisan “DOMESTIK” dan tanggal kunjungan tercetak jelas. 

Kami melihat petugas dengan sabar membantu memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan rombongan lain yang tampak kesulitan. Gelang ini terasa seperti izin resmi untuk menyentuh sejarah di Tamansari Jogja.

Aroma bangunan tua menyambut kami

Melewati ambang pintu masuk Tamansari Jogja, suara dunia luar perlahan meredup. Aroma bangunan tua yang lembab mendominasi. Kami mulai menjejakkan kaki di atas jalur yang lantainya terasa tidak rata. Setelah hujan turun, beberapa bagian jalan terasa sedikit becek. Kerikil kecil terasa di telapak kaki kami.

Pemandangan pertama yang memukau adalah area kolam yang luas. Airnya tampak jernih, membiaskan cahaya terang matahari di permukaannya. Suara gemercik air dari air mancur yang bekerja menambah dimensi akustik yang menenangkan di Tamansari Jogja.

Saat mendekat ke tepian, mata kami menangkap detail kecil yang tersebar di dasar kolam. Beberapa koin tergeletak, ditinggalkan oleh pengunjung dengan harapan atau doa. Koin-koin itu, kontras dengan air kolam yang tampak kuno, menjadi saksi ritual permohonan yang berlanjut hingga kini.

Menikmati arsitektur Tamansari Jogja

Bangunan-bangunan di Tamansari Jogja sebagian besar berwarna krem dan usia tuanya tak bisa disembunyikan. Beberapa dinding menunjukkan lapisan cat yang memudar menjadi abu-abu, dan di sudut-sudut yang lembab, terhampar lapisan lumut berwarna hijau. 

Semua bangunan menampilkan ritme ruang yang seragam. Baik dari bentuk gapura dan bangunan yang serupa, dengan pintu tanpa kusen berambang melengkung setengah lingkaran.

Baca Juga:

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

Kami terus berjalan, menyusuri detail motif ukiran pada dinding bangunan Tamansari Jogja yang terlihat repetitif namun memesona. Kami melintasi salah satu pintu melengkung, dan tiba-tiba cahaya berubah drastis.

Saat memasuki sebuah ruangan, suasana menjadi redup. Lampu alami sulit menembus, membuat ruangan terasa gelap, dan udara yang kami hirup terasa pengap. 

Kami terpaksa menggunakan senter handphone, dan sinarnya yang tajam menyala, memantul di dinding batu, mengungkapkan jejak-jejak masa lalu. Ini adalah bagian dari Istana Air yang lebih tersembunyi, mungkin bekas tempat peristirahatan atau meditasi.

Setelah melewati lorong-lorong ini, kami kembali ke ruang terbuka, di mana suara rombongan lain dan perbincangan turis dalam bahasa asing mulai terdengar lagi. Di dekat area ini, perhatian kami tertuju pada sebuah sudut.

Sisi manusiawi sejarah Tamansari Jogja

Di beberapa titik Tamansari Jogja, kami menemukan sesajen. Ini menjadi bukti bahwa nilai sakral situs ini masih dipegang teguh. 

Meskipun tidak ada sumur utama yang jelas di hadapan kami, keberadaan persembahan ini, mungkin berupa bunga atau dupa yang aromanya samar tercium menambah lapisan misteri pada reruntuhan Istana Air ini. Tempat ini bukan hanya tontonan, tetapi juga tempat yang dihormati.

Tidak jauh dari sana, kami mendengar suara riang yang disusul tawa. Seorang tour guide sedang berinteraksi dengan rombongan yang dipimpinnya. Dia baru saja menjelaskan tentang sejarah Tamansari Jogja.

Seorang pengunjung kemudian mengajukan pertanyaan yang langsung menyentuh sisi personal sejarah keraton: “Berarti, Sultan dari dulu emang suka poligami ya, Mas?”

Pertanyaan itu ditanggapi oleh tour guide dengan sebuah jeda, sebelumnya dia hanya tertawa. Tawa itu, bukan jawaban lugas, melainkan tawa menggambarkan bagaimana sejarah agung sering beriringan dengan kisah-kisah manusiawi yang kompleks, diceritakan secara lisan dari generasi ke generasi. 

Interaksi seperti ini, antara pemandu yang berpengetahuan dan pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, menjadi inti dari pengalaman wisata.

Perpaduan sejarah dan kehidupan nyata di Jogja

Waktu observasi kami berakhir pukul 14:22 WIB. Kami melangkah perlahan menuju pintu keluar, meninggalkan bangunan-bangunan yang sebagian besar berwarna krem, lumut hijau di dinding, dan udara yang pengap.

Saat melewati batas gerbang utama, meninggalkan semua gemericik air dan tawa tour guide di belakang, kami kembali disambut oleh hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Tamansari Jogja ternyata berbatasan langsung dengan permukiman warga dan sekolah.

Di titik peralihan inilah, indra penciuman kami mendeteksi pergeseran tajam. Aroma bangunan tua yang lembab, yang menemani kami selama satu jam penuh, segera digantikan oleh dua aroma yang khas.

Pertama, tercium aroma mangga yang kuat dan segar, manis. Berasal dari penjual jus di sekitar pemukiman warga.

Kedua, tercium wangi yang lebih hangat, yaitu aroma lilin malam untuk membatik. Aroma ini terasa begitu nyata, kontras dengan bebatuan kuno yang kami tinggalkan. 

Ini menjadi penanda bahwa kami telah meninggalkan masa lalu dan kembali ke kehidupan Jogja masa kini, di mana tradisi keraton dan kerajinan tangan tetap hidup berdampingan dengan Istana Air yang megah.

Penulis: Nurhafizah Amalia

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Menyelami Sejarah Tamansari Jogja, Sendang Pemandian Raja yang Memiliki Banyak Mitos

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Desember 2025 oleh

Tags: istana air tamansariJogjakeraton jogjatamansaritamansari jogjatiket masuk tamansari jogjawisata jogjawisata sejarah
Nurhafizah Amalia

Nurhafizah Amalia

Mahasiswa, sedang menjalani semeter 3 di Universitas Ahmad Dahlan. Mengambil Prodi Sastra Inggris.

ArtikelTerkait

Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa? TPST Piyungan, ASEAN Tourism Forum, Jogja krisis sampah di jogja bantargebang

TPST Piyungan Ditutup Lagi, Kapan Jogja akan Benar-benar Menemukan Solusi untuk Sampah yang Makin Melimpah?

22 Juli 2023
Kisah Nelangsa Baliho Kepak Sayap Kebhinekaan terminal mojok.co

Baliho di Jogja Angkuh Mengotori Pandangan ketika Alam Sudah Murka

29 Maret 2022
Review Bus Bumel Jogja-Solo Sebagai Solusi Jika Kehabisan Tiket Prameks

Review Bus Bumel Jogja-Solo Sebagai Solusi Jika Kehabisan Tiket Prameks

14 Februari 2020
CCTV Jogja, Sahabat Terbaik Sobat Nglaju, tapi Kadang Nggak Berguna karena Nggak Bisa Diakses

CCTV Jogja, Sahabat Terbaik Sobat Nglaju, tapi Kadang Nggak Berguna karena Nggak Bisa Diakses

7 Februari 2025
Kopi Klotok Jogja Punya 3 Menu Penghilang Selera (Unsplash)

3 Menu Kopi Klotok Jogja yang Sebaiknya Dihindari Biar Selera Makan Tidak Hilang

23 Maret 2024
4 Perbedaan Gado-gado Jogja dan Gado-gado Jakarta yang Bikin Lidah Orang Ibu Kota seperti Saya Kaget Mojok.co

4 Perbedaan Gado-gado Jogja dan Gado-gado Jakarta yang Bikin Lidah Orang Ibu Kota seperti Saya Kaget

22 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil Mojok.co

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

7 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak
  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan
  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.