Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Kuliah S3 Memang Bergengsi, tapi Menyimpan Sisi Kelam yang Jarang Diketahui Orang

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
8 Mei 2025
A A
Kuliah S3 Memang Bergengsi, tapi Menyimpan Sisi Kelam yang Jarang Diketahui Orang

Kuliah S3 Memang Bergengsi, tapi Menyimpan Sisi Kelam yang Jarang Diketahui Orang (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di balik gelar bergengsi dan kebanggaan akademis, perjalanan kuliah S3 menimbun kisah-kisah pilu yang jarang terungkap di permukaan. Bukan sekadar tentang tumpukan jurnal atau ujian proposal, pertarungan sesungguhnya berada pada pertaruhan mental. Tekanan psikologis yang diam-diam menggerogoti dan fase kehilangan arah dalam penyusunan penelitian tak jarang membuat mahasiswa menyerah di tengah jalan.

Seperti puncak gunung es yang terlihat kecil, dunia doktoral sejatinya memiliki duri tak kasat mata. Hal ini  hanya dimengerti oleh mereka yang benar-benar menjalaninya. Ada harga mahal yang harus ditebus untuk menggapai kata lulus. Jika kuliah di jenjang S1 yang banyak ditempuh orang diibaratkan seperti musim semi, kuliah S3 tak ubahnya menghadapi musim dingin dalam sunyi.

Kuliah S3 tak sekadar duduk di kelas, mendengarkan dosen, ikut ujian, lalu jadi wisudawan

Anggapan bahwa kuliah S3 hanya berkutat pada rutinitas duduk di kelas, menyimak perkuliahan dosen, dan menghadapi ujian adalah sebuah penyederhanaan yang jauh dari realitas. Sebab, esensi pendidikan doktoral jauh melampaui rentetan aktivitas tersebut, melainkan sebuah proses inkubasi bagi para calon peneliti dan pemikir orisinal. Artinya, para calon mahasiswa S3 sudah harus paham betul mereka hendak memberikan kontribusi kebaruan apa untuk kerangka pengetahuan. Bahkan sebelum resmi diterima di kampus impian, para calon mahasiswa diminta menerangkan rencana penelitian mereka secara lisan dan tulisan untuk proses seleksi.

Kegiatan perkuliahan S3 jauh melampaui sekadar mendengarkan penjelasan di kelas, di mana dosen cenderung menyuapi ilmu untuk dicerna setiap kepala. Sementara bangku S3 lebih sebagai wadah konfirmasi karena mahasiswa dianggap sudah menguasai berbagai teori. Diskusi bersifat common sense tak lagi berfungsi, yang berlaku adalah dasar penelitian yang mewakili argumentasi.

Kebingungan menentukan kesenjangan penelitian membuat mahasiswa sering mengganti proposal

Kuliah S3 melatih mahasiswa untuk berpikir analitis dan kritis terhadap berbagai teori, konsep, dan temuan penelitian sebelumnya. Di sisi lain, mereka mesti piawai mengidentifikasi celah pada studi terdahulu untuk digunakan sebagai pangkal penyusunan disertasi. Kemampuan ini jelas tak dapat diperoleh dalam satu semester berbekal mencatat pemaparan dosen maupun diskusi di kelas.

Sebaliknya, satu celah penelitian bisa jadi baru ditemukan setelah kelar membaca ratusan artikel ilmiah. Proses panjang yang melelahkan ini kerap menimbulkan kebimbangan dan kewalahan karena seseorang terlalu banyak menyerap ide. Meski wawasan bertambah, tak ayal pendirian mahasiswa justru goyah. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa S3 yang sering gonta-ganti topik sehingga tak kunjung menuntaskan studinya.

Kuliah S3 siap ujian berulang kali yang tak pernah luput dari revisi. Rentan bikin depresi

Ketika menyelami dunia S3, maka isi kuliah adalah gempuran terhadap isi disertasi. Sialnya, tahap pembantaian tersebut tak cukup dilalui satu atau dua kali. Di suatu universitas ternama, ujian resmi yang kudu dijalani berjumlah lima kali, belum termasuk ujian ulang jika dinyatakan tidak lolos.

Ditambah lagi sebelum diizinkan mengajukan ujian, mahasiswa akan terlebih dahulu ditempa di tahap kolokium. Praktis, revisi yang menanti seakan tak kunjung berhenti. Seperti maraton, tekanan berulang setiap kali berhadapan dengan dosen sampai mencapai garis akhir rentan membuat kewarasan jiwa luluh lantak dan berimbas pada kesehatan fisik.

Baca Juga:

Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Jadi Harapan, Bikin Saya Juga Ingin Bilang kalau Kuliah Itu Scam

Pengalaman Kuliah S3 dan Menyusun Disertasi Pakai Laptop Kentang: Tiba-tiba Mati, Storage Nggak Cukup, Ujian Mental Sesungguhnya bagi Saya  

Tuntutan publikasi sebagai syarat mutlak kelulusan

Sebagai kandidat doktor, mahasiswa S3 diharapkan untuk aktif berpartisipasi dalam komunitas akademik yang lebih luas. Dengan kata lain, mereka diminta mengajukan presentasi hasil penelitian di konferensi nasional maupun internasional serta publikasi artikel ilmiah di jurnal-jurnal bereputasi. Bahkan, beberapa perguruan tinggi mewajibkan hal ini sebagai syarat mutlak lulus, berikut menyertakan nama dosen terkait untuk kepentingan kampus.

Guna memenuhi ketentuan tersebut, ada pengeluaran yang timbul selain biaya kuliah. Publikasi jurnal bereputasi mungkin saja membutuhkan biaya cukup tinggi. Belum lagi dana yang dikeluarkan untuk mengumpulkan dan mengolah data. Desakan beruntun di berbagai sisi ini berpotensi membuat mahasiswa semakin patah arang menaklukan kuliah S3.

Jadi, ingatlah bahwa di balik senyum dan jabat tangan erat saat wisuda seorang doktor, tersembunyi sebuah perjalanan penuh liku dan pengorbanan tak terbayangkan yang mungkin sukses merontokkan sendi kehidupan. Jika selama ini kuliah S3 dipandang sebagai puncak gunung cendekiawan, sesungguhnya di dalamnya tersimpan riak-riak yang menguji ketahanan emosional.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Pertimbangan Penting Sebelum “Menjual Jiwa” pada Kuliah S3.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Mei 2025 oleh

Tags: kuliah S3mahasiswa S3S3
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

4 Pertimbangan Penting Sebelum “Menjual Jiwa” pada Kuliah S3 Mojok.co

4 Pertimbangan Penting Sebelum “Menjual Jiwa” pada Kuliah S3

10 April 2025
Pengalaman Kuliah S3 dan Menyusun Disertasi Pakai Laptop Kentang: Tiba-tiba Mati, Storage Nggak Cukup, Ujian Mental Sesungguhnya bagi Saya  

Pengalaman Kuliah S3 dan Menyusun Disertasi Pakai Laptop Kentang: Tiba-tiba Mati, Storage Nggak Cukup, Ujian Mental Sesungguhnya bagi Saya  

27 September 2025
Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Bisa Diharapkan (Unsplash)

Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Jadi Harapan, Bikin Saya Juga Ingin Bilang kalau Kuliah Itu Scam

9 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

8 Januari 2026
Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang Mojok.co

Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang

7 Januari 2026
Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

5 Januari 2026
Muak 30 Tahun Menyandang Nama Acep Saepulloh dan Diejek “Abdi Kasep Sumpah Demi Allah” Mojok.co

Muak 30 Tahun Menyandang Nama Acep Saepulloh karena Sering Diejek “Abdi Kasep Sumpah Demi Allah”

6 Januari 2026
Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

5 Januari 2026
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme
  • Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup
  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 
  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.