Sisi Gelap Penulis Novel Online: Syaratnya Gila-gilaan, Persaingan Makin Ketat

Sisi Gelap Penulis Novel Online: Syaratnya Gila-gilaan, Persaingan Makin Ketat

Sisi Gelap Penulis Novel Online: Syaratnya Gila-gilaan, Persaingan Makin Ketat (Unsplash.com)

Sebagai ibu rumah tangga, pekerjaan sampingan yang saya tekuni sampai saat ini adalah menjadi penulis. Saya sempat berpikir bahwa saya akan membiayai jajan anak dengan terus menekuni profesi tersebut. Tapi harapan memang nggak selalu berujung indah. Salah satu pekerjaan menulis yang sekarang mulai saya tinggalkan adalah menjadi penulis di platform novel online.

Sejujurnya, beberapa tahun yang lalu, menjadi penulis novel online itu cukup menguntungkan. Saya sempat merasakan gajian 1-2 juta rupiah setiap bulan. Nominalnya memang terbilang kecil. Tapi sebagai orang Jogja, angka itu sudah sangat menggiurkan. Apalagi saya nggak perlu keluar ongkos bensin atau makan siang. Modal saya cuma kuota internet 100 ribuan per bulan.

Tapi tentu saja uang itu nggak bisa saya peroleh dengan mudah. Tiap malam, saya harus menyisihkan beberapa jam setelah anak-anak tidur untuk meneruskan cerita.

Novel yang saya kerjakan juga nggak hanya satu. Saya pernah mengerjakan beberapa novel dalam satu bulan. Sulit memang. Untungnya, saya menulis berdasarkan kisah nyata. Jadi saya nggak perlu terlalu pusing memikirkan jalan cerita buku tersebut secara garis besar.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang mulai mengenal platform novel online yang menggaji penulisnya. Saya juga melihat beberapa teman penulis yang akhirnya coba-coba menjadi “perekrut” penulis-penulis baru ini. Tiap satu rekrutan berbuah pundi-pundi rupiah yang bisa dipakai jajan bakso.

Akan tetapi makin ke sini, saya merasa situasinya sudah jauh dari kata menguntungkan. Ibarat kata, dulu jadi penulis novel online itu lumayan, tapi sekarang “lu manyun”. Bagi penulis yang sekadar ingin menyalurkan hobinya sih nggak masalah. Namun hal ini berbeda dengan para penulis yang memang menulis untuk mencari sesuap nasi.

Jadi penulis untuk platform novel online: syarat makin gila, persaingan makin ketat

Ada beberapa alasan mengapa saat ini saya merasa jadi penulis novel online itu sudah jauh dari kata enak. Pertama, persaingan semakin ketat. Tak jarang penulis akhirnya membuat cerita 18+ hanya agar mendapatkan banyak tayangan.

Tema-tema tertentu juga mendominasi. Menulis di luar kategori tema populer, sudah pasti akan jadi ikan teri di antara sekumpulan paus.

Baca halaman selanjutnya: Syarat yang ditetapkan platform menulis online makin nggak masuk akal…
Kedua, syarat yang ditetapkan platform menulis online semakin nggak masuk akal. Kadang, untuk mendapatkan 400 ribu rupiah saja, kita harus rutin menulis hampir tiap hari dengan jumlah puluhan ribu kata per bulan. Intinya, dalam sehari minimal setor 1000 kata.

Beberapa waktu lalu, saya malah membaca bahwa yang bisa mendapatkan gaji di sebuah platform novel online, hanya mereka yang menulis ratusan ribu kata dengan tayangan sekian dan pembaca sekian. Kalau syarat ini nggak terpenuhi, wassalam, paling cuma dapat beberapa ribu rupiah tiap bulan. Coba deh bayangin, kamu menulis novel 80 ribu kata lalu cuma dapat 50 ribu rupiah.

Beberapa platform novel online juga sudah angkat tangan membiarkan penulisnya bersimbah keringat. Mereka nggak peduli, bahkan bila penulisnya sudah menghasilkan karya ratusan ribu kata. Padahal janjinya akan ada keuntungan sekian persen.

Yang saya lihat, platform novel online itu akhirnya berperilaku selayaknya start-up pada umumnya. Manis dinikmati di awal, tapi makin lama makin mencekik.

Mereka dulunya memang murah hati karena butuh penulis. Tapi setelah populer, akhirnya kesejahteraan penulis harus dikorbankan demi mempertahankan bisnis ini.

Sempat banting stir jadi ghost writer

Karena pernah sangat membutuhkan uang, akhirnya saya sempat banting stir jadi ghost writer untuk penulis lain. Tapi, menjadi ghost writer pun ternyata harus berjuang gila-gilaan.

Saya pernah menawarkan jasa saya pada seorang penulis dan langsung ditawar dengan upah 10 ribu rupiah per 1000 kata. Padahal menulis 1000 kata itu nggak mudah, lho. Apalagi saya harus menuliskan cerita yang bukan milik saya.

Saya menyepakati harga tersebut karena memang sedang sangat kepepet. Tapi saat ini, saya bertekad untuk menyudahi urusan saya dengan dunia novel online. Terlalu bikin miris hati kalau diteruskan.

Penulis: Nar Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Yang Bisa Dipelajari dari Penulis Novel.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version