Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

Muhammad Iqbal Fawwazi oleh Muhammad Iqbal Fawwazi
5 Februari 2026
A A
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Di lingkungan saya, mendapatkan status mahasiswa Timur Tengah rasanya seperti mendapat kenaikan status sosial. Terutama jika kamu belajar di negara yang memiliki kisah panjang dan sering menelurkan tokoh-tokoh terkenal serta berpengaruh. 

Maka otomatis, sekampung merasa bangga, orang tuamu bangga, dan mendapat perlakuan yang istimewa dari tetangga. Kebetulan, saya beruntung pernah mendapatkan kemewahan menjadi mahasiswa Timur Tengah. 

Ya, saya mengalami hal-hal di atas. Dan saya tidak pernah membayangkan bisa mengunjungi tanah masyhur sebagai “transit “ para nabi untuk menimba ilmu. 

Namun, keistimewaan ini bukan datang tanpa konsekuensi. Masyarakat menstigma siapa saja yang menjadi mahasiswa Timur Tengah punya standar tersendiri. Alih-alih memperhatikan apa yang kami pelajari, masyarakat langsung menilai “Sudah sealim apa?”

Identitas yang saya punya sekarang hanya dibatasi pada tujuan tempat saya belajar, bukan apa yang saya pelajari. Sejak saat itu, saya merasa berhenti menjadi individu dan berubah menjadi sebatas simbol. Dari situlah tulisan ini bermula; dari kelelahan menjadi simbol, padahal saya hanya pelajar biasa.

Baca juga Mengarungi Kehidupan Mahasiswa di Madinah Bersama Banaweer Made In China

Stigma melelahkan menyandang status mahasiswa Timur Tengah

Anggapan yang tersebar memang beralasan. Ia tak mungkin lahir dari ruang fana. Masalahnya, kadang anggapan ini terlalu menyederhanakan posisi mahasiswa Timur Tengah.

Misalnya seperti, anggapan bahwa mahasiswa Timur Tengah pasti bisa Bahasa Arab. anggapan ini, menurut saya, masih wajar. 

Baca Juga:

Tiga Makanan Para Pengembara di Timur Tengah

Pengalaman Impulsif Kuliah Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Banyak Merana walau Akhirnya Lulus Juga

“Ketika belajar di Indonesia pasti menggunakan Bahasa Indonesia, ketika di daerah Arab pasti menggunakan Bahasa Arab.” Ungkapan ini tepat, dan saya tidak menyalahkan. 

Namun, yang perlu saya luruskan di sini adalah bahwa Bahasa Arab memiliki banyak dialek. Dan sialnya lagi, yang kita pelajari di Indonesia seringnya berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Seperti yang saya alami ketika pertama kali menginjakkan kaki di Arab dan resmi berstatus mahasiswa Timur Tengah. 

Suatu ketika saya, ingin membeli suatu hal di semacam “toko kelontong” di sini. Setelah mengutarakan maksud, ternyata tidak ada yang memahami kalimat saya.

Sampai saya perlu menunjukkan gambar agar si penjaga toko bisa memahami maksud saya. Ini seakan menyadarkan saya bahwa, Bahasa Arab tidak sesederhana itu. Jangan beranggapan mentang-mentang kami mahasiswa Timur Tengah langsung bisa akrab dengan orang Arab random yang di jalan.

Menjalar ke gaya hidup

Stigma lain yang menempel ke mahasiswa Timur Tengah adalah gaya hidup. Banyak yang menganggap kami terlalu kaku atau konservatif seperti di beberapa novel populer karangan El-Shirazy. Padahal, yang terjadi mungkin sebaliknya. 

Kami hanya pemuda biasa yang juga suka bersenang-senang layaknya pemuda pada umumnya. Manusia ajaib yang hidupnya seperti yang terdeskripsikan memang ada wujudnya, namun sisanya juga menjalani masa muda seperti biasa. 

Mahasiswa Timur Tengah dari Indonesia juga nongkrong di kafe, nonton pertunjukan musik, dan kegemaran pemuda lainnya. Mungkin masih ada yang beranggapan bahwa orang-orang seperti kami tidak sepantasnya melakukan hal demikian, dan kami paham kenapa anggapan tersebut muncul. 

Kami cuma bisa mengatakan kami hanya pemuda pada umumnya yang juga perlu melepas penat. Selama tidak melewati norma tertentu, kami tidak merasa melakukan kesalahan apa-apa.

Mahasiswa Timur Tengah kalau lulus pasti jadi pendakwah

Stigma yang ini paling bikin saya greget, yaitu mahasiswa Timur Tengah, kalau lulus, pasti paham agama dan nanti jadi pendakwah. Ini fatal menurut saya. 

Memang, nabi pernah tinggal di tempat kami belajar. Berdiri juga lembaga pendidikan agama yang tersohor. Namun, bukan berarti siapa saja yang belajar di sini otomatis punya ilmu agama yang mumpuni. 

Sebagian dari mahasiswa Timur Tengah juga mempelajari ilmu pasti seperti di tempat lainnya di penjuru dunia ini. Bagaimana bisa seseorang yang bidang studinya terfokus di ilmu akuntansi atau teknik sipil bisa menguasai hukum waris atau perdebatan mengenai tata cara ibadah. Ini absurd.

Baca juga Culture Shock Orang Jawa ketika Pertama Kali ke Mekkah dan Madinah

Mahasiswa Timur Tengah mendapat stempel “manusia suci”

Sayangnya, berbagai anggapan ini tidak berhenti di pikiran saja. Kami, mahasiswa Timur Tengah, harus memikulnya dan semua ini menjadi beban. Jujur, saya lelah kerap ditanya tentang hukum ini dan itu, sedangkan saya bahkan tidak menguasainya. 

Belum stempel “manusia suci “ yang juga ikut menempel di jidat mahasiswa Timur Tengah. Sementara kami juga manusia biasa yang kerap lalai dan lelah. 

Orang lain mungkin boleh salah sebagai individu, tetapi kami salah sebagai simbol. Yang diuji bukan lagi apa yang kami pelajari, melainkan seberapa sempurna sikap kami. Seolah, tempat kami belajar adalah pabrik kesalehan instan, bukan tempat berpikir.

Sebenarnya saya paham. Anggapan yang kadung tersebar itu tidak lahir dari ketiadaan. Masyarakat mengamini itu karena mereka membutuhkan sosok rujukan, terutama soal agama, dan mahasiswa Timur Tengah dianggap paling pantas mengisi peran itu. 

Pada intinya, mahasiswa Timur Tengah juga manusia biasa. Kami memang belajar di tanah nabi, tapi jangan berharap kami menjadi bak nabi. 

Memang ada yang belajar agama, ada juga yang belajar bahasa, bahkan ada pula yang sekadar belajar bertahan hidup. Maka wajar jika tak semua siap menjadi figur rujukan, terlebih simbol kesalehan. 

Barangkali yang perlu diluruskan bukan hanya anggapan tentang kami. Kita juga perlu menyudahi kebiasaan menaruh beban berlebihan kepada orang-orang yang hanya belajar dan mencari jati diri.

Penulis: Muhammad Iqbal Fawwazi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jadi Mahasiswa Indonesia di Arab Saudi Berarti Siap Ditanya Harga Kurma sampai Letak Istana Dajjal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2026 oleh

Tags: bahasa Arabbelajar agamakampus di arabmahasiswa arabmahasiswa timur tengahnabistigma mahasiswa arabtimur tengah
Muhammad Iqbal Fawwazi

Muhammad Iqbal Fawwazi

Seorang perantau asal Surabaya yang membawa semangat ke tanah orang. Bukan sekadar berpindah tempat, ia adalah seorang pembelajar yang haus akan pengetahuan

ArtikelTerkait

6 Gaya Rumah Estetik dari Berbagai Negara yang Bisa Kamu Tiru terminal mojok.co

6 Gaya Rumah Estetik dari Berbagai Negara yang Bisa Kamu Tiru

8 Oktober 2021
Alasan Perang Tidak Pernah Betul-Betul Pergi dari Timur Tengah

Alasan Perang Tidak Pernah Betul-Betul Pergi dari Timur Tengah

18 Februari 2020
Emang Bener Ulama itu Pewaris Para Nabi MOJOK.CO

Emang Bener Ulama Itu Pewaris Para Nabi?

17 Juli 2020
Bahasa Inggris Menjadi Anak Tiri, Bahasa Arab Tabungan Akhirat (Unsplash)

Standar Ganda Masyarakat di Desa Terhadap Pelajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris

13 Oktober 2023
Beginilah Rasanya Punya Wajah Kearab-araban

Beginilah Rasanya Punya Wajah Kearab-araban

29 Maret 2020
4 Tipe Mahasiswa yang Sebaiknya Nggak Kuliah di UIN (uin-suka.ac.id)

4 Tipe Mahasiswa yang Sebaiknya Nggak Kuliah di UIN

15 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

12 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
9 Rekomendasi Mobil Bekas di Bawah 100 Juta Terbaik untuk Pemula Berkantong Cekak

Cari Mobil Bekas Murah buat Lebaran? Ini Motuba di Bawah 60 Juta yang Terbukti Nggak Rewel

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.