Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Alasan Perang Tidak Pernah Betul-Betul Pergi dari Timur Tengah

M. Fitrah Wardiman oleh M. Fitrah Wardiman
18 Februari 2020
A A
Alasan Perang Tidak Pernah Betul-Betul Pergi dari Timur Tengah
Share on FacebookShare on Twitter

Well, sebelum membaca tulisan ini, kita mesti bersepakat dulu kalau ada korelasi positif antara sejarah dan yang akan menjadi sejarah. Biar saya cerita dulu. Pada suatu hari, ditemukan sebuah negeri di mana rasa aman, tentram, dan damai bagai ungkapan ‘sampai ketemu nanti’. Perang tak pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal dari tempat itu: Timur Tengah.

Konon katanya, kala melacak sejarah asal-usul konflik di Timur Tengah, sumber yang paling sering dikutip para peneliti adalah catatan Ibn Jubayr (antara 1183-1185) berjudul Rilah. Seorang politisi yang kurang populer, Ronald Broadhurst, menerjemahkan catatan itu menjadi The Travels of Ibn Jubayr.

Diceritakan, di bagian utara Damaskus (sekarang Suriah) menjulang Gunung Qasiyoun setinggi 1.151 mdpl. Di tempat ini, terjadi pembunuhan manusia yang pertama kali di muka bumi. Yakni Kain membunuh adiknya bernama Abil. Kain dan Abil bersaudara dan keduanya adalah putra Nabi Adam.

Peristiwa pembunuhan ini sejalan dengan penjelasan Alquran surah Al-Maidah ayat 27-31. Salah satu ayatnya berbunyi, “Ceritakanlah kepada mereka tentang kedua kisah putra Adam (Kain dan Abil) menurut yang sebenarnya.” Kemudian di ayat berikutnya, “Kain berkata: aku akan membunuhmu Abil.”

Cerita selanjutnya setelah Abil terbunuh, muncullah sebutan Damaskus yang berasal dari kata Damshak. Dam berarti darah dan Shak artinya terbelah. Demikian istilah Damaskus merujuk pada tanah yang dialiri darah Abil menjadi terbelah. Dengan kata lain, kita akan terus menyaksikan pertumpahan darah mengaliri tanah Damshak: Syria, Palestina, Irak, Israel, Jordan, dan sekitarnya.

Sejak itu pertumpahan darah memang tidak mengenal jeda. Dari era klasik Imperium Romawi vs Khilafah Islam, Kekaisaran Byzantium vs Kesultanan Ustmani, atau Pasukan Al-Fatih (Sultan Mehmed II) vs Tentara Konstantinopel, serta masih banyak lagi peristiwa berdarah lainnya.

Tongkat estafet tentang bunuh-membunuh ini berlanjut hingga ke masa kontemporer. Hanya sepuluh kilometer dari tanah Damaskus misalnya, di Palestina tahun 1967, pernah pecah perang Intifadah. Menelantarkan ribuan mayat dari anak kecil yang masih cadel mengucapkan huruf ‘r’ (MELDEKA) hingga yang sudah bungkuk dan berusia senja. Tiga puluh enam tahun kemudian, gerakan Intifadah kedua kembali berkecamuk. Bangunan porak-poranda. Korban tewas demikian banyak: tiga ribuan Palestina dan seribuan Israel.

Bergeser sedikit ke bagian utara Damaskus, 326 km dari Gunung Qosiyoun tempat Abil terbunuh, krisis kemanusiaan melanda Kota Idlib dan Aleppo, Suriah. Menurut catatan Kompas (14/02/2020), dari 17 juta penduduk Suriah, 5,5 juta di antaranya di pengungsian dan sisanya berlindung di sejumlah wilayah. Masjid-masjid penuh sesak. Gedung roboh dan bangunan yang belum rampung tendernya sekalipun digunakan sebagai tempat bersembunyi dari gempuran senjata. Geletakan mayat menjadi pemandangan biasa. Kalau dibayangkan, lebih mirip kota kuburan, sih.

Baca Juga:

Tiga Makanan Para Pengembara di Timur Tengah

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

Fakta penting yang tak kalah hangat adalah perang saudara di Irak. Andaikata harus dibuktikan, cukup dengan menengok Google atau mengetik frasa ‘Perang Timur Tengah’ di laman pencarian YouTube. Akan muncul sedikitnya 3.320 jenis tontonan mengerikan. Hantaman rudal, muntahan bubuk mesiu dari senjata otomatis serta tampilan meriam berada di deretan paling atas. Menakutkan.

Memang, menjelajahi perang di Timur Tengah ibarat menjelajahi wahana di Dufan yang tidak ada habis-puasnya. Belum lagi perang NIIS yang punya franchise di Indonesia, Daulah Islamiyah. Sekadar informasi, NIIS adalah organisasi yang pertama kali mengadopsi sistem franchise dan marketing multi level ke dalam perang. Jangan salah, peminatnya dari Indonesia cukup banyak, mencapai 600 orang.

Sampai hari ini, benang kusut konflik di Timur Tengah masih berlangsung, malahan hampir bertambah. Ini juga yang digambarkan oleh penyair Nizar Qabbani melalui kekuatan narasi syair, di tanah ini (maksudnya Timur Tengah), “Tak ubahnya melihat gadis kecil nan cantik dengan jari-jarinya terbakar.” Qabbani memang tidak menerangkan kalau cepat atau lambat apinya akan menjalar ke lengan, badan, kaki, lalu naik ke bagian kepala.

Lantaran itu muncul pertanyaan dalam benak banyak orang, akankah ada mimpi indah di tanah Damshak? Jawabannya, hampir mustahil. Setiap upaya perdamaian tak ubahnya menghidupkan Abil yang sudah terbunuh —sebagaimana catatan Ibn Jubayr diawal. Hal ini juga menegaskan pernyataan di awal tulisan tentang korelasi positif antara sejarah dan yang akan menjadi sejarah.

Lebih tegas lagi, peristiwa Kain membunuh Abil juga meneguhkan adagium tentang sejarah serupa percikan darah yang menempel di dinding. Tak peduli berapa banyak pemilik baru yang memilikinya, tak peduli berapa kali mereka mengecatnya. Selalu ada tambal-menambal.

BACA JUGA Isu World War III: Berhenti Jadikan Perang Bahan Guyonan! atau tulisan M. Fitrah Wardiman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: aleppoperangsyuriahtimur tengah
M. Fitrah Wardiman

M. Fitrah Wardiman

Lulusan pembangunan sosial yang suka dengan FGD dan snack box. Gemar melakukan riset tentang kebijakan pembangunan sosial.

ArtikelTerkait

7 Tontotan Anti Perang untuk Pengingat Pahitnya Masa Perang Terminal Mojok.co

7 Tontonan Soal Perang untuk Pengingat Pahitnya Masa Perang

28 Februari 2022
Hal-hal yang Media Barat Tak Katakan tentang Perang di Ukraina

Hal-hal yang Media Barat Tak Katakan tentang Perang di Ukraina

4 Maret 2022
Hari Gini kok Masih Ada yang Debat Israel Benar atau Salah, Apakah Fetish-mu Adalah Terlihat Goblok?

Hari Gini kok Masih Ada yang Debat Israel Benar atau Salah, Apakah Fetish-mu Adalah Terlihat Goblok?

13 Oktober 2024
6 Gaya Rumah Estetik dari Berbagai Negara yang Bisa Kamu Tiru terminal mojok.co

6 Gaya Rumah Estetik dari Berbagai Negara yang Bisa Kamu Tiru

8 Oktober 2021
biden trump amerika mojok

Kita Sebenarnya Sedang Merayakan Menangnya Biden atau Merayakan Kalahnya Trump?

17 November 2020
This War of Mine

This War of Mine: Gim Perang Anti-Perang

29 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

3 Juni 2026
Di Balik Solo yang Syahdu Sehabis Hujan, Ada Ancaman yang Mengintai Pengguna Jalan Terminal

Di Balik Solo yang Syahdu Sehabis Hujan, Ada Ancaman yang Mengintai Pengguna Jalan

31 Mei 2026
Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

2 Juni 2026
5 Kuliner Malang yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari Mojok.co

Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali

3 Juni 2026
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

4 Juni 2026
Tegal, Kota Militer yang Kalah Pamor dari Magelang

Tegal, Kota Militer yang Kalah Pamor dari Magelang

2 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.