Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Sini Tak Bisikin Enaknya Jadi Buruh Pabrik yang Harusnya Dicita-citakan Banyak Orang

Budi oleh Budi
28 Desember 2020
A A
Sini Tak Bisikin Enaknya Jadi Buruh Pabrik yang Harusnya Dicita-citakan Banyak Orang terminal mojok.co

Sini Tak Bisikin Enaknya Jadi Buruh Pabrik yang Harusnya Dicita-citakan Banyak Orang terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Seperti kebanyakan anak-anak, dulu ketika saya ditanya soal cita-cita tentu jawaban klise yang muncul. Saat itu, nggak mungkin saya bilang pengin jadi buruh pabrik. Dengan lantang dan seyakin-yakinnya saya menjawab ingin jadi tentara. Agaknya, bagi saya yang sering jadi sasaran perundungan, menjadi tentara adalah pilihan yang tepat sekali. Saya pikir, siapa yang berani merundung tentara?

Waktu terus bergulir, detik demi detik terlewati dengan sedikit pelajaran yang dipaksa untuk dipetik. Lamat-lamat saya paham, cita-cita untuk menjadi tentara harus terkubur saat mengetahui tinggi badan saya yang sangat jauh dari kriteria minimal untuk mengikuti seleksi.

Padahal, persiapan stamina sudah lumayan terlatih. Saya memilih sekolah di STM salah satu alasannya untuk melatih diri. Semasa di STM, fisik saya jadi cukup terlatih. Push-up tiap pagi karena telat, memanjat pagar setinggi tiga meter menjadi hal yang mudah. Pun, makian dari guru-guru karena nilai jeblok dan total kehadiran di sekolah bisa dihitung jari. Agaknya hal tersebut bisa melatih mental dan nggak kaget ketika mengikuti seleksi jadi tentara.

Akan tetapi, ya gitu, sebelum itu semua terwujud, tentu saja saya sudah sadar duluan. Tinggi badan kurang jadi faktor utama. Alhasil, cita-cita jadi tentara urung saya lakukan. Setelah harapan untuk mencapai cita-cita klise semasa kecil pupus, pilihan jatuh untuk jadi buruh pabrik. Sebuah pelampiasan yang jomplang, memang. Namun, dulu saya nggak ada wacana atau kepikiran buat kuliah, pilihan paling mafhum memang jadi buruh pabrik. Mikir pelajaran saja sudah wegah, apalagi disuruh kuliah, ya tambah wegah.

Jadilah sampai sekarang jadi buruh pabrik. Pekerjaan mulia yang membawa berkah bagi semua yang ikhlas menjalaninya. Saya sendiri menganggap menjadi buruh pabrik harusnya menjadi cita-cita setiap orang untuk menjalani kehidupan yang keras ini.

Kalau masih ragu, sini tak bisikin tentang keunggulan buruh pabrik. Cepat sini deh, tutup telinga kalau perlu pakai headset dulu, gih.

Pertama, buruh pabrik secara alami sudah dipaksa hidup minimalis sampai kempis-kempis. Ini adalah suatu hal yang tentu saja menjadi nilai positif dan penuh kebaikan ketika menjadi seorang buruh, kayak saya. Gaji UMK yang sungguh banyak sekali itu, pun kadang di bawahnya ketika di bulan tersebut ada banyak tanggal merah, sangat cukup untuk makan sederhana dengan lauk seadanya.

Nggak ada istilah selain minimalis untuk keseharian buruh, sebab gaji miris yang didapat hanya untuk makan keluarga di rumah. Terus yang belum punya rumah gimana? Entahlah….

Baca Juga:

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

Jogja Bikin Betah, tapi Kalau Mau Jadi Pekerja yang Tahan Banting dan Sukses, Mending Kerja di Semarang

Ya, bisa dihitung sendiri, gaji UMK daerah masing-masing untuk makan keluarga dan biaya-biaya tambahan lain yang masuk kebutuhan primer. Bukan kayak yang kerjaannya tidur pas rapat yang bisa memuaskan kebutuhan sekunder dan tersier. Hidup buruh pabrik selalu diselimuti kesederhanaan, nggak pernah sombong soal kekayaan, baik betul, toh, buruh itu.

Kedua, ahli mengatur uang gajian yang banyak tersebut. Menerima gaji UMK tiap bulan mengharuskan buruh pabrik harus pintar-pintar mengatur keuangan. Jadi jangan heran, seorang buruh bisa jago banget dalam manajemen keuangan. Lha gimana ya, jika salah sedikit saja me-manage uang, akhir bulan ujung-ujungnya kelaparan. Bahkan sebagian teman saya (yang buruh juga) menerima gaji di bawah UMK yang telah ditentukan. Oleh karena itu, saya, dan kawan buruh sejawat lainnya, akhirnya menjadi ahli pengatur keuangan… dengan terpaksa.

Mau makan daging-dagingan tiap hari menjadi hal yang tabu. Sebab, jika dituruti, bisa-bisa hanya makan sampai pertengahan bulan, setengahnya tentu saja mi instan sebagai pemuas perut hingga kenyang. Betapa terampil dan ahlinya kami mengatur uang segitu banyak, yang jika dihitung cukup buat makan saja. Perihal untuk melunasi cicilan motor, bayar tagihan listrik, dan nyicil bangun rumah yang tanahnya tanah warisan, ini menjadi rahasia Tuhan.

Ketiga, menjadi buruh sama dengan sehat. Jika ingin sehat terus dan mempunyai fisik yang nggak aleman, buruh adalah pilihan yang tepat. Ketika bekerja, buruh lebih dominan mengandalkan kekuatan fisik. Tak ayal, saya sebagai buruh akan terlatih punya fisik dan stamina yang kuat.

Saya ketika memeras keringat demi mendapat gaji UMK yang banyak itu diharuskan untuk berdiri kurang lebih delapan jam. Loh, kan, bisa duduk? Peraturan dari pabrik nggak membolehkan duduk, tuh. Duduk pun paling untuk sedikit melegakan dengkul yang kesemutan sambil jongkok-jongkok manis.

Di bagian lain, teman saya mempunyai kerjaan untuk mengangkat barang-barang dengan berat 30 kilogram selama jam kerja. Pun, teman saya yang lain, menyalurkan cita-cita yang pupus dengan menjadi teknisi listrik di pabrik. Doi kudu manjat-manjat untuk mengatasi kerusakan perihal kelistrikan. Cita-citanya jadi atlet panjat tebing yang gagal sedikit tersalurkan lantas mempunyai tangan dan kaki yang rosa!

Jadi buruh enaknya memang kebangetan, loh! Kadang dianggap sebelah mata karena kerjaannya yang lebih dominan mengandalkan fisik. Pokoknya apa-apa yang menggunakan fisik dan sedikit berpikir, dianggap biasa saja. Lantas, pandangan tersebut membuat buruh pabrik kayak saya jadi lebih kuat mental dan lebih giat lagi memeras keringat meski gaji mentok UMK.

Nggak usah ragu jadi buruh ketika sudah lulus SMA sederajat. Ini adalah suatu hal yang membanggakan setidaknya bagi diri sendiri, bukan di mata calon mertua.

BACA JUGA Kita Harus Menerima Keberadaan Jamet sebagai Subkultur Buruh Lepas Indonesia dan tulisan Budi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 Desember 2020 oleh

Tags: buruh pabrikcita-cita
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

Saya Banting Setir dari Wartawan Jadi Buruh Pabrik, Berujung Dieksploitasi mojok.co

Saya Banting Setir dari Wartawan Jadi Buruh Pabrik, Berujung Dieksploitasi

7 Mei 2025
Di Mata Buruh Pabrik, Tapera Tidak Memberi Manfaat Nyata (Unsplash)

Di Mata Buruh Pabrik, Tapera Tidak Memberi Manfaat Nyata Dibanding Potongan Gaji Lainnya

8 Juni 2024
anggota dpr

Menjadi Anggota DPR yang Terhormat adalah Jalan Ninjaku!

10 September 2019
5 Stereotip Buruh Pabrik yang Perlu Dikoreksi Terminal Mojok

5 Stereotip Buruh Pabrik yang Perlu Dikoreksi

6 Februari 2022
cita-cita

Terlambat Punya Cita-cita : Nggak Masalah

24 Juni 2019
buruh pabrik kuli bangunan ideologi kiri buruh mojok

Tak Perlu Malu Jadi Buruh Pabrik, Malulah kalau Jadi Pejabat Korup

18 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.