Sebagai warga Sidoarjo dan memiliki kesibukan ngojol, yang setiap hari harus melintasi jalanan kota ini, saya sering merasa kasihan dengan ambisi kota kelahiran saya ini. Sidoarjo itu seperti adik bungsu yang selalu ingin terlihat sekeren kakaknya, Surabaya. Surabaya punya jembatan penyeberangan estetik, Sidoarjo ikut bikin. Surabaya punya taman kota yang rapi, Sidoarjo berusaha meniru. Ya meski akhirnya lebih sering jadi tempat jualan pentol dan ajang balap lari liar.
Tapi ada satu hal yang lupa disadari oleh para pemangku kebijakan di Sidoarjo. Bahwa kami warga Sidoarjo, tidak butuh kota ini menjadi “Surabaya Cabang Selatan”. Kami tidak butuh trotoar yang lantainya selicin giok dan marmer. Kami cuma butuh satu hal sederhana yang saking sederhananya sampai terasa mustahil yaitu jalanan yang tidak berlubang, itu aja plis.
Ambisi metropolitan vs realitas medan perang
Beberapa tahun terakhir, wajah Sidoarjo memang tampak dipermak. Flyover Aloha sudah berdiri tegak, monumen-monumen baru dibangun, renovasi alun-alun dan lampu-lampu kota mulai berpijar di sepanjang jalan protokol. Tapi coba Anda melipir sedikit ke jalan-jalan penghubung antar-kecamatan. Atau yang lebih ekstrem, lewatlah jalan raya arah Gedangan atau Krian dan Lingkar Timur saat hujan deras baru saja reda.
Di sana, kemegahan Sidoarjo langsung runtuh. Kalian tidak lagi merasa sedang berada di wilayah penyangga metropolitan, melainkan sedang berada di wahana uji nyali. Lubang-lubang jalan di Sidoarjo itu punya karakter yang unik. Mereka tidak sekadar berlubang, tapi memiliki kedalaman dan diameter yang cukup untuk dijadikan tempat pembibitan lele menurut saya, atau setidaknya tempat mandi kambing dan sapi.
Saya sering membayangkan, jika dinas terkait tidak segera menambal lubang-lubang ini, mungkin warga kreatif Sidoarjo akan mulai memasang jaring dan menebar benih ikan di tengah jalan. Toh, genangan airnya awet, sedalam luka hati, dan didukung oleh ekosistem lumpur yang sangat memadai.
BACA JUGA: Tidak Perlu Malu Mengakui Tinggal di Sidoarjo yang Sering Disebut Pinggiran Kota Surabaya
Skill berkendara warga Sidoarjo selevel pembalap motocross
Menjadi pengendara motor di Sidoarjo adalah sebuah pencapaian prestasi tersendiri. Kami tidak butuh sirkuit balap untuk melatih adrenalin. Cukup lewat jalur Sukodono atau lingkar timur saat jam pulang kantor, maka skill manuver kalian akan otomatis terasah dan membentuk semacam muscle memory.
Di Sidoarjo, kita belajar bahwa hidup adalah tentang pilihan yang sulit masuk ke lubang yang dalamnya tidak diketahui. Atau menghindar ke kanan tapi disambut moncong truk kontainer yang besarnya hampir menutupi sinar matahari. Ini adalah latihan ketangkasan yang luar biasa. Mungkin itulah alasan kenapa orang Sidoarjo itu tangguh-tangguh; setiap hari kami dipaksa melakukan Latihan Motocross versi lokal hanya untuk berangkat kerja.
Sampai di titik saya curiga bahwa skill pembalap motocross sepertinya akan kalah dengan ibu-ibu matic sidoarjo yang sudah terbiasa menaklukkan ‘aspal gelombang cinta’.
Pemerintah mungkin berpikir bahwa membiarkan jalan rusak adalah cara untuk menekan angka kecelakaan karena orang jadi tidak bisa ngebut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Para pengendara jadi hobi “berjoget” di atas aspal demi menghindari lubang, yang kalau dilihat dari kejauhan, gerakannya lebih mirip koreografi lagu TikTok daripada gaya berkendara yang aman.
Kepada bapak pejabat estetika itu bonus, aspal Sidoarjo bagus itu pokok!
Sering kali saya merasa ada salah komunikasi antara rakyat dan pejabat. Bapak-bapak di sana mungkin berpikir kami butuh air mancur menari atau taman dengan lampu warna-warni agar Sidoarjo terlihat sejajar dengan Surabaya. Padahal, keinginan kami itu sangat sederhana, mboten neko-neko.
Warga Sidoarjo tidak butuh punya gedung pencakar langit. Kami tidak butuh Sidoarjo punya mal sebanyak yang ada di jalan Basuki Rahmat Surabaya. Tolonglah, kembalikan saja fungsi jalan sebagai media transportasi, bukan sebagai media penguji suspensi motor yang cicilannya masih tiga tahun lagi.
Pajak kendaraan kami bayar tepat waktu, tapi kenapa ban dalam motor kami harus meletus setahun tiga kali karena menghantam “ranjau” aspal yang sudah legendaris itu? Mengaspal jalan dengan benar adalah bentuk penghormatan paling tinggi kepada warga, jauh lebih terhormat daripada membangun tugu yang fungsinya cuma buat latar belakang foto selfie orang lewat, meskipun nggak ikonik-ikonik amat
BACA JUGA: Sidoarjo Cocok untuk Perintis, Tak Harus Kerja Keras di Jakarta Sampai Mental Rusak
Berhenti berhalusinasi jadi Surabaya
Sidoarjo, sadarlah. Tidak perlu capek-capek bersaing gaya dengan Surabaya. Kakakmu itu memang sudah “mboke” kota di Jawa Timur, biarlah dia dengan kemacetan elitnya. Cukuplah Sidoarjo menjadi rumah yang nyaman bagi kami. Rumah yang kalau kami masuki gerbangnya, kami tidak perlu lagi waswas akan terperosok ke dalam “kolam lele” buatan di tengah jalan. Kalau jalanan sudah mulus, tanpa diminta pun kami akan bersyukur dengan sangat khusyuk. Kami akan bangga bilang ke orang luar, “Eh, Sidoarjo itu jalannya halus banget, se halus rayuan fakboy kabupaten.”
Jadi, sebelum bapak-bapak pejabat sekalian berencana membangun gedung serbaguna atau taman rekreasi baru, mbok ya tolong, beli aspal dulu yang banyak. Tutup itu kolam-kolam lele yang tersebar merata dari Waru sampai Porong. Sesungguhnya, kebahagiaan warga Sidoarjo itu sederhana: berangkat kerja wangi, pulang kerja tetap utuh tanpa harus mampir ke bengkel buat press velg dan tambal ban.
Penulis: Krisdian Tata Syamwalid
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
