Dulu, ada yang bilang Honda Beat itu motor “kantor-kantoran”, motor “ibu-ibu”, mesinnya kecil cuma 108 cc, nggak bakal kuat boncengan bertiga apalagi diajak nanjak Ijen. Ada juga yang nyinyir, “Masa laki-laki naik Beat? Mending Vario atau Mio aja.” Tapi bagi saya, Beat biru 2013 punya cerita yang nggak bisa dijelaskan oleh gengsi semata.
Ini motor yang dibeli mertua buat putrinya. Waktu itu tahun 2013, baru keluar dari dealer, kinclong warna biru. Saya belum kenal istri, ya jelas belum pernah naik motor ini. Baru setelah saya menikah di tahun 2018, Beat biru ini mulai saya pakai setiap hari. Dan dari situlah saya tahu, omongan orang tentang Beat itu banyak yang meleset.
Fakta teknis yang sering dilupakan orang tentang Honda Beat
Honda Beat FI 2013 ini sebenarnya salah satu motor matic pertama di kelas 110 cc yang pakai injeksi PGM-FI (Programmed Fuel Injection). Bukan karburator lagi. Ini penting karena banyak yang masih ngira Beat lawas itu karbu dan boros. Padahal fakta di lapangan, dengan mesin 108,2 cc SOHC 4-tak pendingin udara, tenaga maksimalnya 8,9 PS di 7.500 rpm dan torsi 9,3 Nm di 6.500 rpm.
Standar sih, tapi untuk urusan irit, Honda dulu mengklaim 58 km/liter berdasarkan metode ECE R40. Bahkan di kondisi riil banyak yang nyampe 60 km/liter.
Sekarang setelah 13 tahun, Beat biru saya masih konsisten di 50-55 km/liter. Padahal setiap hari saya tempuh jarak pulang pergi kantor hampir 95 kilometer. Ya, 95 kilometer PP. Rumah di Banyuwangi kota, kantor di selatan. Kondisi jalan kadang rusak bebatuan, kadang mulus aspal bekas balapan sepeda internasional tour de Ijen. Tangki bensin cuma 3,7 liter, tapi buat perjalanan sejauh itu, saya cuma perlu isi sekitar 1,7-1,9 liter sekali jalan. Artinya, sekali isi penuh bisa buat dua harian.
BACA JUGA: Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel
Kenapa saya lebih pilih Honda Beat?
Di rumah sebenarnya ada mobil. Tapi untuk jalan-jalan di Banyuwangi, saya, istri, dan anak-anak lebih suka naik Honda Beat. Alasannya sederhana: satset dan lincah.
Pernah saya ajak keluarga ke Kawah Ijen. Jalannya tanjakan, tikungan tajam, dan kadang becek. Mobil sih bisa, tapi repot kalau papasan dengan truk tambang belerang. Nah, Honda Beat lebih lincah. Anak-anak malah seneng karena anginnya langsung kena. Istri di belakang sambil pegangan. Mesin Beat meraung pelan tapi tetap stabil. Sampai basecamp, nggak ada masalah.
Pernah juga ke Alas Purwo. Jalannya hutan, sebelumnya juga melewati pedesaan yang jalannya banyak bolong-bolong, Beat biru tetap melibas. Suspensi depan teleskopik dan rem cakram hidroliknya terbukti andal. Ban belakang selip dikit di jalan licin, tapi motor masih bisa dikendalikan. Saya cuma bilang, “Astaga, keras juga ini motor.”
Masalah yang muncul setelah 13 tahun
Tentu nggak ada motor yang sempurna. Setelah 13 tahun, Honda Beat biru ini mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Saya mulai denger suara “cetek-cetek” dari CVT. Ternyata roller dan v-belt aus. Ganti baru, beres.
Pernah juga suatu pagi motor nggak mau starter elektrik. Cuma bunyi “tek-tek-tek” lemah. Saya kira mesin udah tekor. Padahal cuma aki soak dan dinamo starter kotor. Ganti aki, bersihin dinamo, nyala lagi mulus.
Yang paling baru, beberapa bulan lalu oli mulai rembes. Karet seal dan gasket yang udah tua mulai kendur. Bawa ke bengkel langganan di Banyuwangi, ganti seal, sekarang aman. Mesin utamanya masih sehat. Sampai sekarang, starter elektrik masih nyala sekali pencet (kecuali kalau aki sedang rewel).
Soal harga jual, saya nggak peduli, wong bukan untuk dijual
Di marketplace Banyuwangi, Honda Beat 2013 warna biru kondisi bagus harganya sekitar 8-9 jutaan. Tapi motor saya pakai plat K (Jawa Tengah). Kalau dijual di Banyuwangi, proses mutasi bikin harga turun. Paling banter laku 6,5-7 juta. Itu pun kalau ada yang mau repot urus surat.
Tapi buat saya, motor ini nggak punya harga. Bukan karena sentimental semata. Tapi karena sampai sekarang, setiap pagi saya starter dan langsung nyala, setiap hari menempuh 95 kilometer, setiap akhir pekan boncengan istri dan anak-anak keliling Banyuwangi, motor ini nggak pernah bikin saya kecewa.
Orang boleh bilang Honda Beat itu motor sederhana, motor murah, motor nggak bergengsi. Tapi saya balik tanya: sebutkan salah satu motor yang setelah 13 tahun masih bisa dipakai keras setiap hari, irit bensin, jarang rewel, dan nggak pernah minta ganti part mahal? Buat saya, Beat biru 2013 ini jawabannya.
Dan yang paling penting, motor ini adalah saksi bisu perjuangan keluarga kecil saya. Dari awal menikah, punya anak pertama, punya anak kedua, sampai sekarang. Setiap lecet di bodinya punya cerita. Setiap bunyi khas mesinnya jadi pengingat kalau sesuatu yang sederhana bisa setia menemani sejauh ini.
Jadi, kalau ada yang bilang Honda Beat itu motor cewek, ya terserah. Saya laki-laki dan bangga naik Beat biru 2013 setiap hari. Nggak perlu ganti motor baru selama yang ini masih bisa diajak kerja keras.
Penulis: Muhammad Faishol
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Nggak Masalah Dikatain Miskin karena Pakai Honda BeAT, yang Penting Menang Pemikiran!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
