Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Seserahan Bikin Pemuda Plat K Trauma Nikah, karena Gengsi dan Jumlah Seserahan Jauh Lebih Penting ketimbang Cinta dan Kesiapan

Budi oleh Budi
23 September 2025
A A
Seserahan Bikin Pemuda Plat K Trauma Nikah, karena Gengsi dan Jumlah Seserahan Jauh Lebih Penting ketimbang Cinta dan Kesiapan

Seserahan Bikin Pemuda Plat K Trauma Nikah, karena Gengsi dan Jumlah Seserahan Jauh Lebih Penting ketimbang Cinta dan Kesiapan

Share on FacebookShare on Twitter

Ada keresahan yang tak pernah bisa saya redam tiap kali mendengar kabar pernikahan di kampung sendiri. Bukan soal restu orang tua, bukan pula soal biaya gedung atau katering, melainkan seserahan. Ya, seserahan. Bagi pemuda plat K seperti saya, kata itu sudah cukup membuat dada sesak.

Bayangan lemari yang harus diisi penuh, motor baru yang disiapkan, hingga mobil jika gengsinya lebih besar. Rasanya, menikah bukan lagi tentang menyatukan dua hati, tapi menyatukan katalog barang elektronik, kredit kendaraan, dan rekening tabungan yang diperas sampai kering.

Lalu, siapa sih yang sebenarnya yang pertama kali memulai tradisi nyusahin ini? Apa memang sudah turun-temurun atau hanya kesepakatan diam-diam antar tetua kampung supaya calon pengantin laki-laki benar-benar diuji kemampuan finansialnya. Kalau memang begitu, maka sungguh licik sekali. Laki-laki yang masih menabung sambil kerja serabutan harus rela menggadaikan masa depan hanya demi memenuhi gengsi yang entah siapa yang pasang standarnya. 

Nikah jadi ajang pamer

Di kalangan pemuda plat K, obrolan soal pernikahan sering jadi bahan bercandaan. Bukan karena kami tidak serius, tapi karena realitas begitu nyeleneh. Ada kawan saya yang bilang, kalau nikah sekarang itu ibarat ikut pameran. Harus bawa lemari sak isine, dari pakaian dalam sampai baju pesta, dari sprei sampai parfum. Kalau bisa, isi lemari itu bukan barang murahan, melainkan merek yang bisa dibanggakan keluarga mempelai perempuan saat arisan.

Belum cukup sampai situ, motor pun harus ada, biar calon istri bisa langsung dipamerkan keliling kampung. Dan jika gengsinya lebih tinggi, mobil jadi kewajiban yang tidak bisa ditawar.

Sungguh miris, seorang pemuda plat K dengan gaji UMR yang baru saja selesai membayar cicilan kos dan bensin motor bebek, tiba-tiba dituntut menyediakan fasilitas setara showroom elektronik dan dealer kendaraan. Mau tidak mau, kami cuman bisa nanya aja, ini pernikahan atau lomba pamer kekayaan.

Bukankah seharusnya menikah itu tentang kesiapan mental, saling memahami, dan membangun rumah tangga bersama. Bukan sekadar menumpuk barang sebagai tanda kesanggupan.

Masalahnya, kalau tak sanggup memenuhi, risikonya besar. Semacam cibiran tetangga yang bilang calon suami pelit, sampai rasa malu yang ditanggung keluarga. Padahal yang akan menikah kan anaknya, bukan seluruh kampung. Tapi aneh, kenapa kampung merasa berhak ikut menilai dan menimbang seserahan itu seperti juri kontes kecantikan.

Baca Juga:

Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan 

Alasan Orang Jepara Malas Liburan di Daerah Sendiri dan Memilih Plesir ke Kudus

Sederhana itu mustahil di plat K

Ada yang bilang menikah bisa sederhana. Tidak perlu pesta besar, tidak perlu seserahan berlebihan, yang penting sah. Itu teori di kota. Di daerah plat K, teori itu sering berakhir jadi mitos. Sebab di kampung, kata sederhana nyaris tidak berlaku. Bahkan kalau ada yang mencoba menikah sederhana, tetap saja jadi bahan omongan.

Orang-orang akan bilang, kok tidak ada isi lemari, kok tidak ada motor, apa sih kerjaannya calon suami itu. Nyelekit tenan lah pokok e.

Saya pernah menyaksikan sendiri pernikahan sepupu yang berani melawan arus. Dia hanya memberikan seserahan seperangkat alat salat, pakaian secukupnya, dan sedikit perhiasan. Awalnya semua berjalan lancar. Namun beberapa minggu setelah menikah, mulai terdengar bisik-bisik di warung kopi. Katanya seserahannya tidak pantas, katanya masa depan istrinya dipertaruhkan karena suaminya dianggap tidak mampu.

Padahal mereka baik-baik saja, bahkan tampak lebih bahagia daripada pasangan yang menikah dengan seserahan segudang. Dan yah, stigma sosial di plat K itu tidak bisa dihindari.

Sebenarnya, apa tak bisa seserahan dikembalikan ke niat awalnya. Sebagai simbol, bukan beban. Bukankah agama saja hanya mewajibkan mahar, bukan lemari berlapis kayu jati. Kalau seserahan terus dibiarkan jadi alat ukur kemampuan, maka pernikahan hanya akan jadi mimpi yang makin jauh untuk pemuda sederhana. Kalau pun nekat, solusinya ya utang. Dan utang inilah dosa yang rasanya masih membekas sampai sekarang. Dosa karena kita membiarkan gengsi mengalahkan akal sehat.

Siapa yang salah?

Kalau ditanya siapa yang salah, jawabannya rumit. Orang tua ingin anaknya bahagia, sekaligus ingin menjaga gengsi di hadapan tetangga. Calon pengantin laki-laki ingin membuktikan kesanggupan, meski harus pontang-panting cari pinjaman. Calon pengantin perempuan sering kali pasrah, meski ada juga yang ikut menuntut karena tidak mau kalah dengan teman sebaya. Semua akhirnya terjebak dalam lingkaran setan. Tidak ada yang benar-benar salah, tapi semua salah.

Saya jadi membayangkan, bagaimana kalau tradisi di plat K ini dihentikan. Seserahan cukup simbolis saja, tidak perlu lemari sak isine. Cukup doa, mahar, dan niat baik untuk memulai rumah tangga. Apakah kampung akan ambruk tanpa motor seserahan? Apakah rumah tangga akan gagal tanpa isi lemari penuh? Saya rasa tidak.

Justru dengan kesederhanaan, pasangan bisa lebih fokus membangun kehidupan bersama daripada sibuk membayar cicilan barang yang dibeli demi gengsi.

Keresahan yang meliputi pemuda plat K

Sebagai pemuda plat K, keresahan ini terus menghantui. Setiap kali ada undangan pernikahan, yang terlintas bukan soal menu katering atau dekorasi pelaminan, tapi daftar seserahan yang katanya harus dipenuhi. Rasanya seperti lomba yang tidak ada ujungnya. Bahkan sebelum menikah, beban sudah menumpuk. Padahal menikah seharusnya jadi awal kehidupan baru, bukan awal hutang baru.

Saya tidak tahu kapan tradisi ini akan berubah. Mungkin butuh keberanian kolektif untuk bilang cukup. Bahwa menikah bisa sederhana, bahwa cinta tidak perlu diukur dengan lemari dan kendaraan. Kalau tidak, dosa sosial ini akan terus diwariskan. Anak cucu kita kelak akan mengulang cerita yang sama, dengan seserahan yang mungkin lebih absurd lagi.

Bisa jadi bukan hanya mobil, tapi rumah mewah pun masuk daftar. Dan saat itu terjadi, pernikahan benar-benar tidak lagi tentang menyatukan hati, melainkan menyatukan daftar cicilan.

Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengendara Plat K Memang Jago Membahayakan Pengendara Lain Lantaran Hobi Banget Mendahului dari Sisi Kiri Jalan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2025 oleh

Tags: budaya seserahan di Patikuduspatiplat kseserahan menikahseserahan pernikahan Pati
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

Alun-Alun Jakenan Pati, Alun-Alun Seharga Miliaran yang Berakhir Mengenaskan Mojok.co

Alun-Alun Jakenan Pati, Alun-Alun Seharga Miliaran yang Berakhir Mengenaskan

15 Februari 2024
Warga Ibu Kota, Nggak Perlu Nyinyir kalau Orang Daerah Antre Mie Gacoan Terminal Mojok.co kudus

Pengalaman War Opening Outlet Mie Gacoan di Kudus: Hanya Orang yang Sabarnya Sundul Langit yang Sanggup Antre Berjam-jam demi Mi Pedas

17 Agustus 2023
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan 

23 Desember 2025
Jalan Kudus-Demak buat Pengendara yang Bernyali Besar

Jalan Kudus-Demak buat Pengendara Bernyali Besar

7 Juni 2023
Surat Terbuka untuk PO Nusantara, Bus Legendaris yang Perlahan Kehilangan Pamor Mojok.co

Surat Terbuka untuk PO Nusantara, Bus Legendaris yang Perlahan Kehilangan Pamor

25 Agustus 2025
Kisah Pilu Kudus-Semarang: Macet 4 Jam Akibat Banjir Rob yang Tak Kunjung Ditangani dan Terkesan Dianggap Sepele

Kisah Pilu Kudus-Semarang: Macet 4 Jam Akibat Banjir Rob yang Tak Kunjung Ditangani dan Terkesan Dianggap Sepele

14 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warung Gunung Semeru Lumajang Ikonik, tapi Nggak Cocok untuk Kalian yang Kesabarannya Setipis Tisu Mojok.co

Warung Gunung Semeru Lumajang Ikonik, tapi Nggak Cocok untuk Kalian yang Kesabarannya Setipis Tisu

5 Januari 2026
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co

3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah

9 Januari 2026
Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

5 Januari 2026
3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal Mojok.co

LinkedIn Adalah Aplikasi Paling Toksik yang Pernah Saya Gunakan, Ini 4 Alasannya!

3 Januari 2026
Omong Kosong Rumah di Desa dengan Halaman Luas Pasti Enak (Unsplash)

Punya Rumah di Desa dengan Halaman Luas Itu Malah Menjadi Sumber Keresahan, Hidup Jadi Nggak Tenang

8 Januari 2026
Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

8 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.