Seragam KKN Itu Nggak Ada Faedahnya, Sumpah!

Seragam KKN Itu Nggak Ada Faedahnya, Sumpah!

Ilustrasi mahasiswa KKN (Irmen Jagau/Shutterstock.com)

Jujur, sampai sekarang, sampai tulisan ini ditulis saya masih nggak paham, kenapa para mahasiswa itu kalau sedang KKN pakai seragam. Padahal, ketika mereka kuliah, nggak ada tuh seragam-seragaman. Mentok paling jas kampus, atau jas praktikum bagi anak saintek. Itu pun nggak dipakai setiap hari. Lah, ini, KKN, hampir setiap hari pakai seragam di lapangan, entah bentuk kaos, jaket, PDH dan yang lainnya.

Apa iya itu gara-gara historisitas awal kemunculan KKN di tahun 1971 yang dilakukan tiga kampus di Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Hasanudin, dan Universitas Andalas. Kala itu ya memang mahasiswa UGM khususnya mengenakan kemeja putih yang seragam ketika KKN. Namun, kalo dipikir-pikir apa iya kita harus manut begitu saja dengan sejarah ini? Apakah kita nggak boleh membongkar kelanggengan pola berpikir aneh ini?

Saya sendiri melakoni salah satu tri dharma perguruan tinggi itu pada 2020 yang lalu, tepatnya di masa-masa sulit pandemi melanda. Tidak begitu banyak yang dapat kami lakukan saat itu karena pembatasan di sana sini. Walhasil, orientasi program kami tidak jauh seputar penanganan pandemi.

Salah seorang ada yang mengusulkan tentang pembuatan seragam KKN, yang mungkin ia berkaca pada anak-anak KKN yang lain. Namun, entah kenapa kebanyakan dari anggota kelompok kami kurang menyepakati itu. Nggak ada yang mau pakai seragam khusus KKN, entah jaket, PDH atau sekadar kaos biasa ala partai.

Nggak ada korelasi antara seragam KKN dan program pemberdayaan

Bagi kami kala itu, yang nggak mau mengenakan seragam KKN, kalo dipikir-pikir nggak ada korelasi antara seragam dan proyek penanganan pandemi saat itu. Maksudnya, emangnya kalo pakai seragam lantas programnya semakin lancar, sukses dan berhasil gitu? kan, nggak. Seragam ya seragam, program ya program, keduanya nggak saling terkait sama sekali.

Ya bayangin aja, salah satu program kami itu yakni membuat alat yang membantu seseorang memakai hand sanitizer tanpa harus menyentuhnya, alias menggunakan kaki untuk mengeluarkan cairannya. Nah, di situ apa korelasinya seragam dengan alat itu coba? Seragamnya mau dipakek lap kalau ada yang becek gitu?

Hanya persoalan kedisiplinan

Dan, menurut saya pribadi, seragam KKN itu hanya persoalan kedisiplinan. Kalau pakai seragam ya keliatan disiplin gitu aja, keliatan rapi, tertata dan semacamnya. Ibarat anak SD yang pakai seragam putih merah kalau gerumbel jadi kelihatan lautan yang berwarna serupa gitu aja.

Namun, asal kalian tau, konsep disiplin dalam perkembangan filosofis abad dua puluh, oleh Foucault misalnya, itu justru memaknai disiplin sebagai bentuk penindasan, ketidakbebasan, pengerangkengan dan lain semacamnya. Seragam adalah bentuk ketidakbebasan berekspresi oleh individu.

Landasan filosofis ini juga lah yang menjadi alasan mengapa mahasiswa nggak pakai seragam ketika kuliah sebagaimana siswa sekolah. Mereka dibebaskan mengenakan pakaian apa pun yang berbeda satu sama lain sesuai kreatifitas masing-masing. Tapi kok anehnya, si mahasiswa ini dilalah pas KKN nya malah seragaman. Why?

Baca halaman selanjutnya

Menciptakan sekat sosial

Menciptakan jarak sosial

Kedisiplinan adalah persoalan internalnya, sedangkan menciptakan jarak sosial adalah eksternalnya. Sebenarnya, dengan penggunaan seragam oleh mahasiswa ketika KKN itu justru menciptakan kesenjangan sosial antara mahasiswa dan masyarakat sekitar. Seolah-olah mahasiswa adalah kaum elit yang sok keminter mencoba menyelesaikan masalah sosial di masyarakat.

Lantas, apa bedanya kalian dengan para pemangku kekuasaan di sana? Yang kalau turun ke masyarakat pakai seragam putih, pakai seragam cokelat, sembari ngomong ngalor ngidul tanpa eksekusi nyata.

Menurut saya, seharusnya kalau KKN itu berbaur dengan masyarakat, tanpa ada sekat-sekat antara mahasiswa dan penduduk lokal. Ya, menyatu gitu aja, layaknya pemuda kampung yang sangat peduli dengan persoalan di kampungnya. Nggak usah tuh pakai apa yang namanya seragam. Ya udah pakaian kaos biasa aja, sendalan jepit, nimbrung dengan masyarakat. Toh, masyarakat nggak butuh apa yang kalian pakai, mereka hanya butuh inovasi dan pikiran kalian.

Seragam KKN itu pemborosan!

Selain persoalan idealis, secara pragmatis sebenarnya membuat seragam khusus buat KKN itu cuma bisa ngabisin uang kas atau iuran aja loh. Bayangin aja, untuk satu jaket aja bisa merogoh kocek 200-an, begitupun dengan kaos yang bisa merogoh puluhan hingga 100-an untuk satu pcs-nya. Itu kalau dikalikan sepuluh orang saja bisa terkumpul jutaan rupiah.

Sayang nggak sih uang jutaan itu hanya untuk persoalan seragam aja. Alangkah lebih baiknya uang jutaan itu diwujudkan dalam bentuk program atau penciptaan alat yang sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Berfaedah banget kan jadinya kalau gitu. Lagi-lagi masyarakat juga nggak butuh ngeliat kalian berpakaian serupa layaknya petugas partai. Yang mereka nantikan adalah kalian bisa memberi apa.

Hanya dikenakan beberapa bulan saja

Sungguh, menjadi sesuatu yang benar-benar pemborosan dalam pembuatan seragam KKN. Lah wong cuma dipakek beberapa bulan saja. Selebihnya mangkir di lemari dan mentok buat gaya-gayaan di rumah kalau sudah melakukan KKN. Halah, basi banget.

Di manapun, yang namanya seragam itu dikenakan untuk waktu yang lama, seperti seragam sekolah dan seragam kerja. Kecuali kalian adalah simpatisan partai, yang mana kalian akan mengenakan seragam di momen-momen tertentu yang sangat singkat aja. Selebihnya akan menjadi kaos biasa yang digunakan untuk ke sawah.

Plis, sekali lagi, pembuatan seragam KKN itu adalah sesuatu yang unfaedah. Eman-eman, hanya digunakan di waktu yang singkat dan hanya pemborosan belaka. Udah, nggak usah ngeyel maksain bikin. Penting dijalani, kelar, dapet nilai. Gitu aja.

Penulis: Mohammad Maulana Iqbal
Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version