Senja : Apa sih Istimewanya Bagi Para Pecintanya?

Bayangkan Jika Lagu 'Melukis Senja' Budi Doremi Itu Ungkapan Tuhan untuk Kita terminal mojok.co

Bayangkan Jika Lagu 'Melukis Senja' Budi Doremi Itu Ungkapan Tuhan untuk Kita terminal mojok.co

Kalau dieja baik-baik dan diucapkan pelan-pelan, “senja”, kata yang laris manis di kalangan para penikmat sastra dan pencinta kopi, terdengar seperti sebuah kata yang berarti kotoran manusia. Mungkin ini seperti olok-olok, tapi siapalah saya berani mengolok-olok senja, saya hanya ingin mengingatkan saja bahwa senja dan tinja itu dekat belaka.

Mana mungkin pula saya mencibir salah satu ciptaan Tuhan paling elok tersebut. Sebuah lanskap langit berwarna jingga di ujung sore. Tiada maksud saya menjelek-jelekkan. Tidak sama sekali. Hanya saja, saya agak risih, ketika orang-orang terus-menerus mengatakan satu kata itu seolah-olah tiada kata lain lagi sebagai metafora dari keindahan.

Kita tahu ada buku yang disebut kamus dan dalam buku setebal bantal itu terdapat ribuan kata. Kata-kata untuk menggambarkan keelokan, selain senja dan bunga dan rembulan dan sebutlah-yang-lainnya-kamu-pasti-hapal, tentu sangat banyak. Misal kata “belalang sembah” dan “kloset”. Memang apa lagi yang lebih elok dan indah selain seekor serangga yang rela mati demi cinta terhadap pasangannya dan sebuah benda yang bersedia menampung kotoranmu tanpa sedikit pun rasa marah?

Rasanya kita perlu mempertimbangkan ulang untuk mengobral kata senja. Di Facebook, nulis soal ini; di Twitter, nulis ini; kepsyen Instagram, nulis ini; snap WhatsApp, nulis ini; SMS, nulis ini. Haduh, Mak—ganti kata-kata lainlah.

Bukan apa-apa. Sesuatu yang terlalu sering dikatakan lama-lama akan menyusut tingkat keistimewaannya. Cobalah dengarkan lagu “Sayang”-nya Via Vallen selama 100 jam (karena 10 jam sudah mainstream) secara rutin, niscaya kesakralan lagu tersebut bakal meluntur. Begitu pula perkara mengumbar-umbar kata ini-ini saja.

Sesekali dan ketika sesuai dengan momen boleh-boleh sajalah. Tapi, kalau berlebihan, apalagi setiap hari senja lagi senja lagi, ya menjenuhkan juga sekaligus bisa mereduksi makna kata itu sendiri. Kecuali, kalau kamu ditugasi oleh pemerintah sebagai Pengamat Senja untuk ngomongin soal ini setiap hari dan digaji setara gaji ASN, maka silakanlah.

Lagi pula, apa sih istimewanya hal ini? Maksud saya, apa bukti konkret bahwa langit pada pukul di atas lima sore lebih indah dan lebih baik dan lebih romantis ketimbang matahari pukul enam pagi dan pukul dua belas siang, misalnya. Apakah lantaran pulasan warna yang beraneka rupa di langit pada waktu itu sehingga memunculkan keindahan yang khas atau karena ikut-ikutan belaka—karena orang lain menganggap senja itu identik dengan keindahan, maka kamu pun membeonya?

Atau sesederhana karena kamu merasakan kedamaian pada saat waktu ini, ketika angin sepoi-sepoi mengipasi tubuhmu yang letih setelah menjalani peliknya kehidupan seharian dan cakrawala mengantarkan pemandangan yang menyejukkan mata sehingga seketika percik-percik kebahagiaan pun menyusup ke sanubarimu—begitu?

Tapi betulkah senja sespesial itu atau jangan-jangan semuanya persepsimu belaka?

Adapun, kalau kamu telanjur mencintainya, maka apalah hak saya melarang atau menyuruhmu pensiun sebagai pencinta senja. Tiada hak sedikit pun bagi saya berbuat seperti itu. Namun, kalau boleh, saya hanya ingin mengatakan: Hendaklah jangan berlebih-lebihan dalam mencintai satu bilangan waktu tertentu. Apalagi hanya senja. Apalagi kalau memaksakan diri mencintai waktu tersebut demi eksistensi dan ikut-ikutan keramaian belaka.

Sekali-sekali janganlah berbuat yang demikian. Namun, kalau kamu tetap memilih jalan sebagai pencinta sejatinya, yang akan terus mencintai senja sampai mati dan matahari tak ada lagi, ya, apa boleh buat. Itu urusanmu.

Ngomong-ngomong soal hal ini, saya teringat kata-kata dari salah satu buku yang paling sering saya baca. Judulnya Bakat Menggonggong karangan Dea Anugrah. Tidak ada sastrawi-sastrawinya sama sekali ya, judulnya. Tapi, persetanlah soal sastrawi sastrawo sastrawu atau apapun itu. Yang penting, coba simak baik-baik apa katanya soal senja pada halaman 88:

“Lagi pula senja itu nonsens dan orang yang percaya bahwa ada makna lebih di balik langit berwarna saus tomat itu pastilah punya masalah gawat di otaknya.”

Haduh, Bang Dea ini pasti tidak tahu apa-apa soal senja. Haduh, Bang Dea ini pasti penulis amatiran belaka. Haduh, masa penulis tidak mengagumi hal ini. Haduh, haduh, sudahlah, mari kita lupakan soal tinja, eh senja.

Exit mobile version