Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

7 Culture Shock Orang Sulawesi ketika Merantau ke Semarang

Annisa Tiara Ramadhani oleh Annisa Tiara Ramadhani
29 Oktober 2024
A A
7 Culture Shock Orang Sulawesi ketika Merantau ke Semarang Mojok.co

7 Culture Shock Orang Sulawesi ketika Merantau ke Semarang (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak pernah terpikir di benak saya kalau suatu saat akan merantau keluar dari Sulawesi. Akhirnya hal itu terjadi juga setelah saya lulus menjadi sarjana. Pada September 2024 lalu, saya diamanahkan mengabdi selama setahun di Kota Semarang

Itu menjadi pengalaman pertama bagi saya untuk hidup merantau dan pertama kali keluar dari Pulau Sulawesi. Sebagai perantau baru, jelas banyak sekali hal yang benar-benar asing bagi saya. Apalagi kondisi dan budaya dan Semarang jauh berbeda dengan banyak kebanyakan daerah di Sulawesi.   

#1 Udara Semarang panas bukan main

Saat pertama kali turun pesawat dan menginjakan kaki di Semarang, saya langsung disambut dengan udara panas Semarang. Saya sudah mendengar dan membaca banyak informasi bahwa Kota Lumpia ini panas, tapi tidak saya sangka akan separah ini. Saat itu baru saya tahu ada daerah yang lebih panas daripada Makassar. 

#2 Waktu salat lebih cepat

Hidup dan besar di wilayah WITA membuat saya terbiasa dengan jadwal 05.15 untuk Subuh dan 18.20 untuk Maghrib. Awal hidup di Semarang, saya masih menggunakan waktu itu sebagai patokan untuk salat. Ternyata itu kekeliruan besar. Waktu salat di Semarang jauh lebih cepat. 

Pernah suatu ketika, saat saya dalam perjalanan pulang ke kos, waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Betapa kagetnya saya ketika  mendengar suara azan di waktu itu. Pikiran saya mengira mungkin masjidnya cepat menyetel radio. Namun, ternyata saya yang salah,  17.30 WIB merupakan waktu untuk salat Maghrib. 

Akhirnya, saya membiasakan diri dengan jadwal salat di wilayah WIB, seperti azan Subuh pukul 04.15, azan Dhuhur pukul 11.30, dst. Saya pun harus berusaha bangun dengan cepat di subuh hari karena jadwal salat yang sangat cepat bagi anak rantau dari wilayah WITA ini.

#3 Lampu merah Semarang sangat lama

Saat pertama kali berkendara di Kota Semarang, saya sempat kaget dengan durasi lampu merah yang cukup lama. Sepertinya itu kali pertama bagi saya terasa terjebak di lampu merah. Sebab, lampu merah di Sulawesi biasanya terbagi atas 2 ronde saja. Maksud saya begini, apabila lampu merah dari arah timur dan barat menyala, maka lampu hijau yang menyala dari arah selatan dan utara. Begitu pun sebaliknya. 

Sistem lampu merah itu berbeda jauh dengan yang ada di Semarang dan mungkin banyak daerah lain di Jawa. Setiap jalur di persimpangan memiliki rondenya masing-masing ketika lampu merah ataupun lampu hijau, baik persimpangan perempatan ataupun pertigaan.

Baca Juga:

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

#4 Makan sayur mentah

Saya mengalami gangguan pencernaan di pekan pertama tinggal di Semarang. Bagaimana tidak, ketika pertama kali datang saya sudah dijamu dengan berbagai makanan Jawa yang tidak familiar. Saat itu saya mencicipi lalapan yang terdiri dari sayur-sayur segar dan mentah. Itu  kali pertama bagi saya makan sayur segar langsung. 

Di Sulawesi tidak terlalu banyak warung yang menjual lalapan. Mungkin ada, tapi  hanya segelintir saja. Oleh karena itu, saya harus beradaptasi perihal makanan yang ada di sini, salah satunya bahwa mayoritas masyarakat di pulau Jawa suka sama lalapan dengan sayur segar.

#5 Semarang hujan sedikit langsung banjir

Semarang dikenal sebagai langganan banjir. Ketika hujan turun, maka tidak butuh waktu lama genangan air akan naik dan mengakibatkan banjir di beberapa tempat. Salah satu penyebab juga karena kebanyakan air yang tergenang adalah air kiriman. 

Asal tahu saja, Semarang berada di lokasi perbukitan, jalanan yang mendaki dan menurun. Bisa saja ketika kita di perjalanan melihat bangunan di bawah, tapi tidak lama kita akan melihat bangunan berdiri di atas dan itulah menjadi ciri khas Semarang. Akan tetapi Semarang juga akan sangat mengkhawatirkan ketika hujan, karena air kiriman dari daerah atas akan turun ke daerah bawah dan mengakibatkan banjir.

#6 Es teh yang terasa lebih segar

Saya merasa tergoda untuk membeli es teh setiap hari. Ditambah cuaca panas Semarang membuat tubuh butuh minuman yang dingin-dingin. Tidak heran kalau setiap sudut di Semarang  pasti ada penjual es tehnya. Cukup mengeluarkan uang seharga Rp3.000 maka kita sudah menikmati es teh ukuran jumbo. Kalau di Sulawesi sendiri, es teh ukuran jumbo seharga Rp5.000.

#7 Logat medok yang terasa asing di kuping

Terlepas dari banyaknya perbedaan budaya, bahasa, dan adat kebiasaan membuat saya harus terus belajar beradaptasi dan lebih menghargai perbedaan yang ada. Salah satunya perihal bahasa dan logat medok. Saya sendiri kesusahan untuk mengikuti logat di sini, karena lidah saya sudah logat Sulawesi tulen. 

Akan tetapi, saya tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar seraya belajar logat mereka dan menghafal kosakata bahasa Jawa agar mudah berbaur dengan masyarakat yang ada. Saya juga suka belajar bahasa baru sehingga saya enjoy menikmati hari-hari bersama masyarakat sekitar. Bahasa memang mudah dipelajari dan dikuasai, tapi logatnya yang susah diubah. Saya tetap ingin belajar siapa tahu lidah ini bisa beradaptasi, kenapa tidak dicoba saja biar seru.

Itulah culture shock yang saya temukan dari pengalaman merantau dan hidup pertama kali di Kota Semarang. Semoga menambah wawasan dan informasi, bahwa ketika kita merantau ke daerah lain maka kita harus siap mental dan fisik untuk menghadapi culture masyarakat di daerah tersebut. Kuat-kuat selalu untuk para perantau, semoga betah di tanah rantau.

Penulis: Annisa Tiara Ramadhani
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Hal yang Biasa di Semarang, tapi Tidak Lumrah di Magelang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya

Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2024 oleh

Tags: culture shockSemarangsulawesi
Annisa Tiara Ramadhani

Annisa Tiara Ramadhani

ArtikelTerkait

4 Hal yang Biasa di Semarang tapi Nggak Lumrah di Blora

4 Hal yang Biasa di Semarang tapi Nggak Lumrah di Blora

12 November 2025
Jalan Semarang-Demak, Jalan Paling Bikin Emosi di Jawa Tengah

Jalan Semarang-Demak, Jalan Paling Bikin Emosi di Jawa Tengah

15 September 2023
Kecamatan Kaliwungu Semarang, Anak Tiri yang Jauh & Terasing (Unsplash)

Kecamatan Kaliwungu Semarang, Anak Tiri Kabupaten yang Malah Lebih Akrab dengan Boyolali

12 Mei 2025
Culture Shock Ngekos di Jogja Gara-gara Kipas Angin Terminal Mojok

Ternyata Kipas Angin Nggak Penting Amat kalau Ngekos di Jogja

5 Maret 2021
Rekomendasi 5 Mi Ayam Dekat Undip Semarang Terminal Mojok

Rekomendasi 5 Mi Ayam Dekat Undip Semarang yang Pas buat Mahasiswa

20 Juni 2022
5 Hal Menjengkelkan di Semarang yang Bikin Orang Luar Kota Gigit Jari

5 Hal Menjengkelkan di Semarang yang Bikin Orang Luar Kota Gigit Jari

14 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Derita Orang Pasar Rebo, Jauh dari Jakarta Bagian Mana pun, Malah Lebih Dekat ke Depok!

22 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.