Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Seleksi PPPK Adalah Bukti Pemerintah Setengah Hati Memikirkan Guru Honorer

Aldian Wijaya, S.Pd oleh Aldian Wijaya, S.Pd
20 September 2021
A A
seleksi pppk pns guru honorer birokrasi amburadul mojok.co

pns guru honorer birokrasi amburadul mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Meskipun saya bukan bagian dari peserta seleksi PPPK karena saat ini masih menyandang status mahasiswa. Nantinya apa yang dirasakan para peserta begitupun juga saya rasakan. Saya kuliah di jurusan pendidikan, dan jelas, proyeksi kerja akan menjadi seorang guru. Sudah pasti berkeinginan menjadi PNS atau lolos PPPK.

Seleksi PPPK tahun ini sangat ditunggu oleh banyak orang. Pasalnya, alasan dasar pemerintah mengadakan tes seleksi PPPK untuk mengentaskan para pegawai honorer se-Indonesia yang telah menjamur, termasuk guru honorer. Namun, ada juga kok yang dibuka untuk non-guru. Tetapi, yang jadi isu utama adalah, bagaimana bisa lulusan PPG bisa ikut seleksi ini, padahal guru honorer masih banyak dan berlipat ganda?

Saya tidak mau memperdebatkan mengenai kalangan PPG. Mungkin satu sisi biar adil, mempertimbangkan biaya kuliah profesi mereka segede gaban, ehm. Mungkin pemerintah niatnya baik, semua orang berhak sejahtera, meski mengabaikan starting point tiap orang jelas beda. Tapi, niat baik itu justru punya masalah.

Bagaimana tidak, untuk menjadi pegawai setara PNS yang diselipkan embel-embel “kontrak” ini harus mengikuti tes seleksi penerimaan yang ribetnya minta ampun. Kalau dari saya pribadi sih sah-sah saja agar apa biar yang masuk telah melewati serangkaian kompetensi supaya menjadi seorang PNS benar-benar orang profesional. Akan tetapi yang menjadi sorotan mata banyak orang adalah seleksi kompetensi PPPK. Ada apa memangnya?

Akhir-akhir ini yang menjadi perbincangan khalayak ramai bahwa seleksi kompetensi PPPK yang sangat sulit. Pada seleksi kompetensi PPPK tahap pertama tanggal 13-17 September lalu ditemukan para peserta banyak nilainya yang tidak mencapai ambang batas. Pokoknya banyak kabar yang beredar bahwa hampir semua peserta di setiap lini bidang mata pelajaran berguguran. Artinya, sangat sulit menembus ambang batas yang telah ditetapkan.

Seperti apa yang dialami kakak saya sendiri. Blio barusan mengikuti seleksi PPPK, tetapi gagal dalam seleksi kompetensi PPPK. Padahal jauh-jauh hari persiapan belajar sudah dilakukan blio. Tiba saat ujian, yang dipelajari tidak keluar. Padahal blio sendiri belajar dari modul resmi yang dikeluarkan pemerintah. Apakah ini bisa masuk dalam kategori prank?

Belum lagi saya ceritakan perjalanan blio ke lokasi ujian yang memakan waktu satu jam. Itu pun waktu ujiannya dimulai pukul 07.00 harus on time, meskipun diberikan 15 menit batas toleransi waktu. Ini mah namanya harus berpacu pada melodi waktu. Mungkin peserta lain ada yang lebih dari blio dalam hal waktu perjalanan. Kalau ini pasti ngekos atau menginap di sekitar lokasi ujian yang diikuti.

Jadi teringat sebuah kisah yang baru-baru ini viral di media sosial, seorang guru usia senja ikut ujian PPPK. Singkat cerita blio seorang guru honorer yang berusia lebih dari 50 tahun. Alhasil gagal dalam ujian kompetensi PPPK. Mungkin ada juga yang senasib dengan blio tetapi tidak terekspos oleh media. Saya menulis ini sampai mau meneteskan air mata lho.

Baca Juga:

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

Bantuan untuk Guru Honorer Memang Sering Ada, tapi Dapodik Bikin Segalanya Jadi Ribet dan Guru Nasibnya Makin Sengsara

Ada yang mengatakan, “Kan masih ada dua kesempatan ujian lagi?” Begitulah kalimat penyambung harapan meski para peserta gagal telah insecure di awal. Maksudnya, buat apa mengharapkan tes kedua kalau tes pertama aja udah nggak ngotak kadar kesulitannya?

Lalu, ada segelintir orang mengatakan, “Kalau (ujian) tidak mencapai ambang batas kan masih ada afirmasi PPPK?” Sebelum saya menjawab pertanyaan ini lebih jauh, saya harus jelaskan apa yang dimaksud dengan afirmasi PPPK. Afirmasi PPPK adalah kebijakan nilai tambahan yang diberikan pada penilaian Kompetensi Teknis dengan kriteria tertentu.

Merujuk pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Bikrokrasi (PermenPANRB) No. 28 Tahun 2021, pasal 28 dijelaskan yang termasuk kriteria,yaitu: (1) pelamar dengan sertifikat pendidik liner mendapat penambahan nilai 100%, (2) pelamar berusia 35 tahun ke atas mendapat penambahan nilai 15%, (3) pelamar penyandang disabilitas mendapatkan tambahan nilai sebesar 10%, (4) pelamar THK-II dan aktif mengajar sebagai guru paling singkat 3 tahun mendapatkan tambahan nilai masing-masing 10%. Udah kelihat ketimpangannya kan?

Hal tersebut jelas bikin guru honorer makin resah. Pada akhirnya muncul sebuah petisi yang dilayangkan oleh Pengurus Forum Honorer Non-kategori Dua Persatuan Guru Honorer Republik Indonesia (FHNK2 PGHRI) dari Kab. Banyuwangi, Jawa Timur sebagaimana inti poinnya agar menaikkan nilai afirmasi yang dinilai kurang adil.

Kalau sudah begini siapa yang semestinya disalahkan, apakah Mendikbud Ristek yang menyusun soal atau salah peserta sendiri yang tidak belajar sehingga tidak bisa capai nilai ambang batas? Nggak tahu sih, tapi yang jelas sekarang isu yang beredar tentang Kemendikbud Ristek adalah tentang renovasi ruang kerja. Loh, penting lho itu, seleksi PPPK yang nggak adil mah apa atuh.

Harapan saya, Semoga suara keluhan para peserta PPPK didengar oleh pemerintah untuk kemudian disetujui. Kalau bisa kedepannya guru honorer itu diangkat saja deh tanpa mengikuti tes seperti zaman SBY lalu. Ah sudahlah mana mungkin, beda zaman beda kebijakan~

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 September 2021 oleh

Tags: Guru Honorerkebijakankesejahteraanseleksi PPPK
Aldian Wijaya, S.Pd

Aldian Wijaya, S.Pd

Alumni kece dari Universitas Negeri Medan~

ArtikelTerkait

PNS Diizinkan Berwirausaha Adalah Bukti kalau BKN Saja Menyerah Memperjuangkan Kesejahteraan PNS

PNS Diizinkan Berwirausaha Adalah Bukti kalau BKN Saja Menyerah Memperjuangkan Kesejahteraan PNS

8 Mei 2023
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Bantuan untuk Guru Honorer Memang Sering Ada, tapi Dapodik Bikin Segalanya Jadi Ribet dan Guru Nasibnya Makin Sengsara

20 Januari 2026
Nasib Guru Honorer Menjelang Idulfitri: THR Nggak Turun, Upah Bulan Lalu Nanti Dulu orang tua guru korea

Tak Ada Solusi, Guru Honorer Tanpa Sertifikasi Dipaksa Sakit Hati Lagi

1 Desember 2024
5 Penumpang yang Sebaiknya Nggak Naik Bus TransJakarta Terminal Mojok tap out

Tap Out, Kebijakan Baru Transjakarta yang Menjengkelkan

20 Oktober 2022
Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru Mojok.co

Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru

1 November 2023
PPG Prajabatan Bikin Saya Menunda Cita-cita Bahagiakan Ortu (Unsplash)

Cita-cita Membahagiakan Orang Tua Harus Tertunda karena Kewajiban Ikut PPG Prajabatan: Tips dari Peserta yang Berharap Segera Lulus

1 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

29 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”
  • Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.