Selama Gaji Guru Tidak Naik, Universitas Pendidikan macam UNY Hanya Akan Jadi Pencetak Orang Miskin Baru

Selama Gaji Guru Tidak Naik, Universitas Pendidikan macam UNY Hanya Akan Jadi Pencetak Orang Miskin Baru

Selama Gaji Guru Tidak Naik, Universitas Pendidikan macam UNY Hanya Akan Jadi Pencetak Orang Miskin Baru (Pixabay.com)

Saya pernah berkelakar, kalau gaji guru tetap semenyedihkan ini, maka kampus pendidikan macam UNY akan jadi pencetak orang miskin baru. Ironisnya, guyonan gelap ini kerap ada bukti nyatanya. Saya sendiri adalah pihak yang mengalaminya secara langsung. Eh, sebelum lanjut, ini saya nggak ngejek UNY lho ya. Nggak ada, sumpah.

Saya dan istri saya lulusan UNY, dari jurusan yang sama, hanya berbeda prodi. Istri saya dari Pendidikan Bahasa Inggris, saya dari Sastra Inggris. Dilihat dari prodinya, jelas istri saya lebih punya kepastian karier ketimbang saya. Dia hampir pasti jadi guru, saya hampir pasti jadi pengangguran. Tapi, syukurlah tidak. Istri saya jadi guru, dan saya jadi redaktur Mojok. Nasib kami sama-sama baik, yang berbeda adalah perkara finansial.

Istri saya jadi guru honorer, menempuh jalan terjal mengerikan yang sama-sama dijalani oleh ribuan, bahkan mungkin ratusan ribu guru lain. Saya tidak ada masalah tentang itu, memang begitulah langkah yang saya tahu selama ini. Masalahnya adalah, gaji guru honorer begitu mengerikan.

Saya tidak sedang mengutuk tempat di mana istri saya kerja. Tidak. Yang saya masalahkan adalah, dari dulu, perkara gaji guru, honorer atau tidak, tak pernah kelar. Selalu mengenaskan, selalu mengerikan.

Padahal, kita tahu sendiri, guru adalah profesi paling krusial untuk sebuah negara. Tak berlebihan jika ada yang bilang kalau yang menentukan nasib bangsa itu adalah guru. Tapi untuk profesi sekrusial itu, kesejahteraan guru malah tak ada bedanya dengan lelucon. Guru honorer digaji hanya ratusan ribu per bulan. Pekerjaannya pun berat, dan di beberapa kasus, malah nggak ada bedanya dengan guru PNS.

“Kan ada yang sertifikasi, Bang, gajinya pada gede tuh?”

Sing sertifikasi piro suuu, sing kejerat pinjol kae lho akeh tenan mergo gajine ora enek bedane karo idu.

Gaji guru harusnya di atas UMR

Cara pikir saya amat sederhana: beban kerja harus sesuai gaji. Gaji harus menyesuaikan beban kerja. Jika bebannya berat, gajinya harus besar. Begitu juga sebaliknya. Hal itulah yang bikin saya menuntut bahwa gaji guru, honorer atau tidak, harus layak. Ya nggak harus sebesar janji Ganjar Pranowo sih, yang menyatakan akan menaikkan gaji guru jadi 30 juta per bulan. Meski sebenarnya, angka itu amat pantas.

Angka layak itu ya setidaknya UMR atas sedikit lah. Misal UMR sebuah kabupaten itu dua juta, ya gaji guru terendah ada di angka 2.2 juta. Kalau sudah begini, baru ngomongin kualitas pendidikan. Kalau belum, ya menengo.

Kenapa saya mengaitkannya ke kualitas pendidikan, ya karena bagi saya nggak ada masuk akalnya ngomongin peningkatan kualitas, tapi yang dibebani tentang peningkatan malah nggak dapat kompensasi layak. Peningkatan kualitas kan artinya akan ada beban tambahan baru entah dari program atau apalah itu, tapi kalau gajinya jalan di tempat ya sama aja. Mau ningkatin kualitas gimana kalau kebutuhan nggak terpenuhi?

Orang-orang tuh sering lupa, kerja makin keras, artinya kebutuhan badan seperti nutrisi harus terpenuhi, atau ditambah. Guru honorer itu mau dapat asupan nutrisi yang bagus dari mana kalau gajinya rata dengan tanah gitu? Tubuh makin diperas, otak makin disiksa, pemasukannya jalan di tempat. Yang meningkat bukan kualitas pendidikan, tapi stres!

Tak ada logika tanpa logistik

Gaji guru bagi saya adalah hal yang harus diselesaikan pertama sebelum bikin program peningkatan kualitas. Udahlah nggak usah tutup mata, orang digaji besar karena beban kerjanya besar, atau mereka diberi tanggung jawab besar. Orang yang digaji besar cenderung lebih beres kinerjanya. Saya tulis cenderung, soalnya ya masih ada kasus orang digaji gede kinerja kek tai. Saya pernah lihat sendiri, kalian juga pasti pernah lihat sendiri. Tapi, ya kinerja kek tai gini nggak usah dijadikan alibi buat nggak naikin gaji guru sih.

Nah, kalau gaji guru udah dibikin naik, baru pilah guru mana yang pantas untuk dipertahankan. Saya nggak menutup mata kalau emang ada guru yang baiknya nggak usah ngajar. Saya pikir bisa lho bikin kurikulum yang bagus buat mahasiswa pendidikan agar mereka ketika lulus, udah siap ngajar siswa. Nggak usah nunggu bikin, kayaknya universitas yang dianggap kampus pendidikan macam UNY ya udah siap sih dengan hal itu. Dari pengalaman saya, meski hanya bisa mengambil sampel dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, saya yakin kalau lulusannya capable untuk mengajar.

Kalau gaji guru nggak diberesin, ya maaf-maaf saja, peningkatan kualitas pendidikan ya mimpi. Dari dulu cuman bikin kurikulum inilah, sekolah inilah, nanti ganti menteri, ganti lagi. Padahal ya, ini perkara pendidikan. Hal yang amat krusial untuk bangsa. Program muluk-muluk itu nggak ada gunanya jika pondasinya sudah goyah duluan.

In short, lu mau siswa berpikiran ajaib, perlu kasih gurunya “nutrisi” yang ajaib juga. Salah satu nutrisinya, ya gaji yang layak. Kecuali memang situ berpikir bahwa masih ada guru yang mau dibayar murah tapi kerja serius, ya nggak akan ke mana-mana negaranya.

Baca halaman selanjutnya

Tau gaji guru kecil, terus ngapain jadi guru?

“Kalau gaji guru kecil, kenapa masih mau jadi guru?”

“Kalau nggak puas sama gaji guru, kenapa jadi guru?”

Saya sering buanget nemu orang ngomong kek gini. Saya sih heran, bisa ya ngomong guoblok begini tapi pede. Tapi ya, logika kayak gini entah kenapa dilestarikan juga sama orang-orang. Orang tuh selalu ngomong kalau nggak mau, ya udah kasih kesempatan ke orang yang mau. Logika kayak gini yang bikin lingkaran setan tetap terjaga.

Ya gimana nggak terjaga. Misal ada guru honorer yang muak, akhirnya berhenti, dan digantikan guru honorer baru lainnya. Penderitaannya tetep sama, cuman beda orang aja. Gitu terus sampai kiamat.

Padahal ya, penyelesaiannya itu sederhana: naikkan gaji guru honorer. Bikin sistem, entah gimana, yang bikin guru tetap terjaga kesejahteraannya. Guru-guru deadwood dibuang aja atau digantikan oleh guru muda yang semangatnya masih membara. Kekhawatiran-kekhawatiran akan efek buruk gaji guru yang meningkat itu nanti akan menghilang kok. Bikin kebijakan yang menguntungkan guru itu nggak ada buruknya, sumpah.

Tapi ya, kalau pusatnya sono cuman bisa ngomongin kurikulum, istilah sulit tanpa esensi, sama bikin program yang jelas nggak ada kaitannya sama kesejahteraan, ya mon maap, ngimpi doang. Makin hari, makin banyak (calon) guru muak, padahal formasi yang dibutuhkan masih amat banyak. Terus situ mau isi formasi tersebut dengan orang yang bukan dari non-pendidikan? Bahahaha, good luck. Dapetmu ya murid-murid yang nganggep TikTok adalah kebenaran.

Digugu, ditiru, dan diguyu

Tulisan ini saya buat karena saya kasihan melihat istri saya. Tidak, saya tidak menyesal dia memilih jadi guru. Justru amat bangga karena saya tahu betul dedikasinya untuk muridnya. Tentu saya nggak akan meragukan kualitasnya, wong lulusan UNY. Betul bahwa UNY itu nggak keren, atau malah dianggap medioker dan mahasiswanya kuliah pake sepatu futsal. Tapi, saya pikir, lulusan jurusan pendidikan mereka tetap nggak bisa dipandang remeh.

Saya hanya sedih melihat fakta bahwa negara, dari dulu, terkesan nggak adil dengan guru. Miris, melihat profesi semulia ini, tak dihargai dengan sebagaimana mestinya. Itu pun masih dibebani dengan masa depan bangsa. Padahal, yang bertugas untuk memastikan masa depan bangsa, justru sedang saling bentrok mengamankan jagoan masing-masing.

Dan saya akan mengulang kelakar saya di paragraf awal. Jika gaji guru tak segera diberesi, ya lulusan universitas pendidikan macam UNY hanya akan jadi orang miskin baru. Ya gimana nggak miskin, siapa yang bisa sejahtera jika gajimu hanya ratusan ribu per bulan?

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Apa Jadinya Jika Tak Ada Lagi Guru Honorer?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version