Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Selain Saya, Siapa yang Tidak Pintar dalam Menawar Harga Ketika Berbelanja?

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
28 Januari 2020
A A
Selain Saya, Siapa yang Tidak Pintar dalam Menawar Harga Ketika Berbelanja? kartu member belanja

Selain Saya, Siapa yang Tidak Pintar dalam Menawar Harga Ketika Berbelanja? kartu member belanja

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika pergi ke pasar tradisional, saya selalu dibuat kagum oleh interaksi yang terjalin di dalamnya. Interaksi yang melibatkan antara penjual dan pembeli mengenai harga suatu pangan atau barang, hingga terjadinya kesepakatan harga antara kedua belah pihak. Kelihatannya mudah dan menyenangkan. Berawal dari pertanyaan, “Harganya berapa, Bang?”, kemudian lanjut bertanya perihal spesifikasi, kualitas, dan lain sebagainya.

Proses tawar-menawar ini tidak melulu terjadi di pasar tradisional, sih. Biasanya juga dapat dilakukan di banyak pusat perbelanjaan yang memungkinkan untuk melakukan proses tawar-menawar.

Nyatanya, saya juga selalu kagum setiap melihat pembeli yang memiliki kemampuan menawar harga dengan para penjual untuk sesuatu yang dibeli di pusat perbelanjaan. Sebetulnya ada perasaan iri juga, sih. Sebab, saya cukup yakin tidak semua orang bisa atau pun pede dalam proses tawar-menawar. Ada yang pada akhirnya tidak bisa mempertahankan harga yang diinginkan, ada pula yang sedari awal sudah malu-malu untuk mengajukan penawaran kepada si pedagang. Alhasil, sering kali malah membeli dengan harga awal tanpa melakukan percobaan untuk menawar lebih dulu.

Selain memang harus diakui, sadar atau tidak para pedagang justru sering kali lebih lihai dalam mempertahankan harga dibanding si pembeli itu sendiri. Sekalipun harga berhasil diturunkan, biasanya sih nggak akan jauh dari harga awal. Yang umum dan sering terjadi, paling harga hanya dikurangi sekira 5 ribu sampai 10 ribu dari harga awal. Ya, mau bagaimana pun, para pedagang berjualan untuk mendapatkan keuntungan, kan. Menawar harga tentu boleh, tapi jangan sadis, plis!

Saya pun termasuk orang yang tidak pandai dalam proses tawar-menawar. Kadang malu-malu tapi mau, seringnya sih tidak bisa mempertahankan harga yang diinginkan dengan si pedagang. Karena kurang memiliki kemampuan dalam menawar harga, saya sempat diejek oleh beberapa teman. “Masa nggak bisa nawar, sih? Nggak berani? Nawar kan gampang, cuma gitu-gitu aja.”

Lha, apanya yang gitu-gitu aja, selain butuh kemampuan negosiasi yang baik, pedagang pun berhak mempertahankan harga awal. Jadi, bukan sekadar “cuma gitu-gitu aja”, dong?

Saya bukannya nggak bisa menawar harga sama sekali, sih. Hanya saja kadang bingung kalau mau menurunkan harga itu baiknya berapa. Soalnya ketika nawar, saya paling sering minta harganya dikurangi ke penjualnya paling banter antara 5 sampai 10 ribu saja. Dan bagi teman-teman saya, harusnya harga segitu masih bisa ditawar lagi, masih bisa lebih murah lagi.

Bahkan beberapa teman saya memiliki pendapat dan rumusan yang sama perihal bagaimana cara menawar harga kepada para pedagang. Bukan rumusan pasti, tapi cara ini sering mereka gunakan dan biasanya berhasil. Kira-kira seperti ini gambarannya:

Baca Juga:

Etika Tawar-Menawar yang Perlu Diperhatikan biar Nggak Baku Hantam

Nggak Usah Sok Ngomong Bahasa Jawa Saat Belanja di Malioboro, Nggak Semua Pedagangnya Orang Jawa Kok!

Misal ketika ingin membeli sepatu seharga 100 ribu. Tawar dengan setengah harganya lebih dulu, 50 ribu. Biasanya penjual akan berkata, “Belum bisa segitu, belum balik modal. Tambahin lagi deh, 20 ribu (harga menjadi 70 ribu).” Nah, pada saat sudah memasuki percakapan seperti ini, langsung ajukan penawaran lagi. Seperti, “Yaudah, pasnya aja ya, Bang. 60 ribu.” Biasanya deal-deal an harga akan segera terjadi.

Lain halnya dengan Ibu saya yang memiliki template ketika ingin melakukan penawaran. Blio selalu menggunakan teknik dan pembicaraan yang terbilang template seperti, “Segini (menyebutkan harga penawaran) nggak bisa, Bang? Nanti saya ke sini lagi deh, jadi langganan.” Kadang disetujui dan langsung sepakat, kadang juga tidak. Namun, ketika belum terjadi kesepakatan, Ibu selalu melipir begitu saja ke pedagang lain. Setelah itu, ajaibnya pedagang langsung memanggil Ibu, “Bu, Bu! Yaudah ambil Bu, oke harga segitu!” Ajaib memang.

Masalahnya, saya pernah menggunakan cara serupa tapi tidak berhasil. Wajar dong jika kemudian saya agak keheranan dan mempertanyakan, jangan-jangan soal tawar-menawar selain butuh kemampuan, juga diperlukan bakat alami? Atau para pedagang memiliki insting alami, kapan mereka harus mempertahankan harga, kapan juga mereka harus sepakat dengan penawaran harga dari para pembeli? Sebab sepengetahuan saya, pedagang berjualan untuk mendapatkan keuntungan, bukan malah sebaliknya.

Dari dahulu ketika sudah mulai bisa membeli sesuatu sendiri hingga sekarang, saya masih saja belum pintar dalam melakukan proses tawar-menawar dengan para pedagang. Hal tersebut membuat saya pasrah ketika berbelanja di pasar dan sering kali tanpa menawar harga. Paling-paling hanya sekadar bertanya sambil basa-basi, “Harganya masih bisa kurang nggak, Bang?” Dan lagi-lagi, dikasih diskon 5 sampai 10 ribu saja sudah syukur.

BACA JUGA Nggak Usah Sok Ngomong Bahasa Jawa Saat Belanja di Malioboro, Nggak Semua Pedagangnya Orang Jawa Kok! atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2020 oleh

Tags: bekanjatawar menawar
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Etika Tawar-Menawar yang Perlu Diperhatikan biar Nggak Baku Hantam terminal mojok

Etika Tawar-Menawar yang Perlu Diperhatikan biar Nggak Baku Hantam

28 September 2021
Nggak Usah Sok Ngomong Bahasa Jawa Saat Belanja di Malioboro, Nggak Semua Pedagangnya Orang Jawa Kok!

Nggak Usah Sok Ngomong Bahasa Jawa Saat Belanja di Malioboro, Nggak Semua Pedagangnya Orang Jawa Kok!

25 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati Mojok.co

Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati

31 Maret 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.