Sekolah Angkringan Klaten, Tempat Belajar Buka Usaha Angkringan dari Nol hingga Siap Jualan

Sekolah Angkringan Klaten, Tempat Belajar Buka Usaha Angkringan dari Nol hingga Siap Jualan Mojok.co

Sekolah Angkringan Klaten, Tempat Belajar Buka Usaha Angkringan dari Nol hingga Siap Jualan (Dok: Felisitas)

Angkringan bukanlah hal yang asing bagi mereka yang tinggal di Klaten, termasuk saya. Dahulu, bapak sering mengajak saya makan di angkringan setidaknya seminggu sekali. Itu mengapa, makan di angkringan jadi core memory yang akan selalu saya ingat sepanjang hidup. 

Berawal dari ajakan bapak itulah saya mengenal angkringan dan menjadikannya tempat makan malam bersama keluarga maupun teman-teman. 

Sebagai pelanggan setia dari dahulu hingga sekarang, saya melihat ada sedikit pergeseran cara pandang masyarakat terhadap angkringan.

Sejauh ingatan saya, dahulu angkringan bukan sekadar tempat makan, tapi ada sentuhan gaya hidupnya. Anak muda hingga orang berumur menjadikannya tempat nongkrong dan bersosialisasi. Sementara sekarang ini, pasar anak muda lebih banyak nongkrong di kafe-kafe viral yang menjamur.

Akan tetapi, satu hal yang pasti dan tetap, peluang usaha angkringan ke depan masih cerah. 

Angkringan yang legendaris

Buat kalian yang belum tahu konsep angkringan, biar saya jelaskan sedikit soal tempat makan legendaris ini. 

Angkringan adalah tempat yang menjajakan berbagai macam makanan. Salah satu yang populer adalah sego kucing atau nasi kucing. Disebut sego kucing karena porsinya yang sedikit seperti makanan kucing. Selain nasi, penjual juga menjajakan berbagai macam lauk seperti sate dan gorengan. 

Angkringan juga menjual minuman yang tidak kalah beragam dan enak. Sebut saja, teh panas/es, jeruk panas/es, minuman jahe, hingga es tape, semua ada. 

Semua menu itu dijejer rapi di gerobak atau pikulan. Harganya yang murah dan penjualnya yang ramah membuat tempat ini punya tempat sendiri di hati pembeli. Tidak heran kalau tempat makan ini menjelma jadi budaya yang sulit dipisahkan dari warga.  

In this economy, bisa jadi pilihan mencari cuan

Kendati pasar anak muda berebut dengan kafe-kafe viral, buka usaha angkringan masih menarik. Harganya yang terjangkau dan sejarahnya yang panjang membuat angkringan belum akan terganti ke depan. 

Potensi usaha berjualan angkringan masih terbuka lebar mengingat masyarakat Indonesia didominasi oleh warga kelas menengah ke bawah yang butuh makanan murah dan cepat. Terlebih, masih ada banyak daerah di luar Jawa yang belum terjamah angkringan.  

Penjual angkringan biasanya belajar dari keluarga atau kenalan sebelum punya angkringan sendiri. Biasanya mereka jadi “asisten” penjual sebelum benar-benar menjalankan usahanya. 

Kalau kalian tidak punya kenalan dan belum punya dasar-dasar jualan angkringan sama sekali, di Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten ada program Sekolah Angkringan Brayat atau biasa disebut Selang.

Di program ini peserta akan diajarkan dari A sampai Z soal jualan angkringan. Peserta program juga akan mendapat pengalaman langsung dari penjual yang terjun di lapangan. 

Program ini mungkin terdengar lucu atau main-main saja. Namun, jujur saja, Sekolah Angkringan tidak kalah serius dengan kursus-kursus lain yang biasa diselenggarakan oleh kota-kota besar. Malah lebih praktikal, bisa langsung diterapkan dan berdampak. 

Mampir ke Sekolah Angkringan 

Berbekal rasa penasaran akan Sekolah Angkringan, saya mencoba memastikan dengan mata kepala sendiri program ini. Saya mampir ke Desa Ngerangan, Brayat, Klaten. Asal tahu saja, Desa Ngerangan adalah cikal bakal angkringan yang kini tersebar di berbagai daerah. 

Saya singgah di angkringan dekat balai desa dan disarankan oleh warlok umenghubungi Bapak Swar dari Cikal Bakal Angkringan untuk tanya-tanya soal program ini.

Sebelum bertemu beliau, saya sempatkan berkeliling di Desa Ngerangan. Ternyata di sana ada Monumen Angkringan dan Museum Angkringan juga. Desa yang menarik. 

Pak Swar menjelaskan, Sekolah Angkringan Brayat mengajarkan banyak hal. Mulai dari sejarah angkringan, teknik berdagang, resep makanan minuman, hingga praktik jualan selama 5 hari. 

Program ini punya beberapa paket. Ada yang harganya Rp1 juta hingga Rp 4 juta. Untuk harga 1 juta, peserta akan dapat materi saja. Sementara mereka yang ambil paket Rp4 juta akan dapat materi dan peralatan angkringan. 

Sekilas, harga yang harus dibayar mungkin terlihat mahal. Namun, bayangkan itu sebagai investasi. Dengan harga segitu dan potensi keuntungan yang didapat kelak, rasa-rasanya harga tersebut pantas. 

Dari Pak Swar saya baru tahu kalau Program Sekolah Angkringan sudah mencetak 5 orang penjual angkringan. Namun, terlepas dari sekolah itu, sudah ada puluhan warga setempat yang langsung belajar di lapangan dan turun temurun dari keluarga. 

Menarik bukan? In this economy, program Sekolah Angkringan Brayat tampaknya patut dicoba. Daripada menanti-nanti lapangan kerja dari pihak lain, tidak ada salahnya juga menciptakan peluang sendiri. Syukur-syukur bisa sukses berdampak bagi sekitar. 

Penulis: Felisitas Dewi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Alasan Desa Karanganom Layak Jadi Tempat Tinggal Paling Ideal di Klaten.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version