Seharusnya Pemerintah Bikin Sekolah Khusus untuk Calon YouTuber – Terminal Mojok

Seharusnya Pemerintah Bikin Sekolah Khusus untuk Calon YouTuber

Artikel

Gusti Aditya

PNS memang masih jadi idola bagi setiap orang tua dan calon mantu. Polisi dan tentara apalagi. Kedua aparat tersebut selalu menyimpan pesona khusus. Namun, jika berbicara cita-cita kepada anak milenium baru, profesi YouTuber menjadi primadona baru. Muda, terkenal, persona kuat, apalagi yang lebih indah dari itu?

Salah satu anak kecil yang saya tanyai menjawab begini, “Main gim aja dibayar. Nge-prank temen aja dibayar. Hancurin benda, besoknya dapet uang. Kan enak.”

Pada kenyataannya, menjadi YouTuber itu harus berdarah-darah terlebih dahulu. Kecuali jika sudah punya nama atau terkenal sebelumnya. Memenuhi syarat prasyarat AdSense, gampang. Anak-anak yang saya tanyai paham. Semakin membuat saya kemekelen itu kala mereka bilang, “Coba aja ada kuliah khusus YouTuber, ya!” katanya sambil main layangan.

Tawa saya tiba-tiba menjadi kernyitan dahi. Lho eh, bener juga, ya. Walau siapa pun yang meng-upload video ke YouTube itu bisa disebut YouTuber, tapi sedikit sekali YouTuber yang memenuhi gizi para penikmatnya. Ya, masalah “memenuhi gizi” ini subjektif, tapi kita bisa menakar sosok seperti Ferdian Paleka yang sempat naik itu, nggak layak dan nggak memenuhi gizi.

Betapa indahnya jika negara membangun sebuah sekolah untuk para YouTuber. Bagai Hogwarts dalam jagad sinema Harry Potter untuk menguasai sihir, Sekolah YouTuber ini akan mengampu para “siswanya” guna menjadi seorang YouTuber sesuai keahliannya.

Jika Hogwarts memiliki empat asrama; Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw, dan Hufflepuff, maka sekolah YouTuber ini cukup tiga saja. Yakni asrama toxic, asrama non-toxic, dan asrama mas-mas konspirasi.

Kalau asrama toxic dan non-toxic, kita bisa membayangkan bagaimana jadinya. Pertama, semisal non-toxic, mereka tinggal diberi mata pelajaran yang mudah. Misalnya mata pelajaran Narasi. Tugasnya mudah, mereka belajar menjabarkan apa yang mereka lihat. Mulai dari konten gaming sampai konten sampah semisal konten reaksi.

Ilmu narasi menjadi penting agar video yang mereka hasilkan bisa lebih dari satu jam. Makin lama, makin banyak AdSense yang pating tlecek. Kuning-kuning tiap menit. Walau non-toxic, cuan tetap jadi perhitungan dong, Buos!

Kedua, di asrama toxic, murid-muridnya bisa diibaratkan sekolah yang hobi tawuran. Namun, kebanyakan cuma bisa cangkeman saja. Eksekusi megang gear, sabuk SmackDown, dan clurit? Nihil. Suruh megang gear paling juga gemeteran. Pokoknya mereka ini payah aksi, omong doang yang besarnya bukan main. Kata-kata makian mereka khatam.

Di sekolah ini, atau lebih tepatnya di asrama toxic, mereka dilatih dengan cara fisik. Yakni dikejar-kejar oleh massa, WhatsApp-nya diteror, mentalnya digembleng, tujuannya cuma satu, yakni simulasi semisal mereka blunder dengan ucapannya, mereka bisa mengantisipasi. Jika nanti pada akhirnya mereka diburu ormas atau netizen, mereka kebal.

Di asrama ini, ada salah satu mata pelajaran yang sulit sekali. Pelajaran itu adalah masukin video mereka ke dalam kategori age-restricted. YouTuber toxic yang selalu bilang “mereka bebas milih mau nonton gue atau nggak, itu hak mereka,” mungkin lupa dengan sebuah fasilitas yang namanya age-restricted.

Kebanyakan YouTuber toxic yang masuk mata pelajaran ini akan menangis karena mereka takut tidak mendapatkan AdSense. Level ini, jika di sekolah biasa, sama seperti pelajaran Agama yang menampilkan video siksa kubur. Beberapa ada yang menutup mata, menangis, dan merenung.

Ketiga, di asrama terakhir, asrama mas-mas konspirasi. Lantaran saking spesialnya, mereka dibuatkan asrama tersendiri, di pojok, dan dikelilingi oleh kolam pacet. Mereka dikatakan toxic nggak karena beberapa videonya seperti hooh sedang memberikan petuah mantap. Apalagi dikatakan non-toxic, meresahkan gitu kok dibilang nggak toxic? Karena hadirnya menyebabkan masyarakat bergejolak.

Mata pelajaran untuk penghuni asrama mas-mas konspirasi adalah istirahat. Iya, mata pelajarannya mempersilakan muridnya untuk istirahat sejenak. Kalau bisa sembari mengobrol dengan mereka yang berada di garda terdepan. Bagaimana capeknya, peluhnya, dan dedikasinya yang luar biasa, tiba-tiba masyarakat berubah menyepelekan hanya karena argumentasi ngawurnya.

Mata pelajaran kedua adalah perihal manusia. Blio harus diajarkan apa itu konsep dasar kebebasan. Hal ini sangat penting karena miskonsepsi kebebasan sering kali bergesekan dengan kepentingan. Dan juga blio harus dijejali dengan pertanyaan eksistensi manusia di dunia. Kalau itu terlalu ndakik, ya sudah ajari saja bagaimana caranya tidak meresahkan.

Mata pelajaran ketiga adalah cara bikin judul dan thumbnail YouTube. Ya, setidaknya agar lebih bagus dari “CORONA HANYA SEBUAH KEBOHONGAN KONSPIRASI⁉️”

Sebenarnya saya punya usul satu asrama lagi, yakni tata cara pemilihan narasumber Podcast yang baik dan benar. Namun, saya takut salah karena yang masuk asrama ini ada dua orang. Berhubung yang satu sudah masuk asrama mas-mas konspirasi, ya tinggal satu orang ini. Namun, lebih baik nggak jadi, takutnya nanti ada grebek menggerebek yang malah dijadikan sebuah konten.

BACA JUGA Jadi YouTuber Boleh, Asal Jangan Lupa Juara dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Mengenal Kehidupan Komodo: Hewan yang Paling Paham dengan Situasi Bahaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.