Secara Karakter, Nam Do-san 'Start-Up' Lebih Mashok Ketimbang Ji-pyeong – Terminal Mojok

Secara Karakter, Nam Do-san ‘Start-Up’ Lebih Mashok Ketimbang Ji-pyeong

Artikel

Avatar

Saya sedikit dibuat terenyak belakangan ini menyaksikan lini masa, baik di Twitter maupun Facebook, yang sangat gegap drama Korea Start-Up. Scroll ke atas, kemudian ke bawah, isinya benar-benar gaduh perkara siapa yang lebih pantas jadi calon menantunya Halmoni. Saking onarnya, banyak yang bilang jika kubu-kubuan ini lebih parah dari perang-perangan antara Team Cap dan Team Iron Man perkara Sokovia Accord. Perang tim Nam Do-san dan Han Ji-pyeong sudah sebarbar ini.

Setelah beberapa kali membaca, saya bisa lihat jika sebagian warganet punya empati yang kelewat menggelembung untuk karakter Han Ji-pyeong. Ya bagaimana tidak, sebagai karakter sekunder, Pak Han ini kelewat banyak nongolnya. Kan bikin netizen salah fokus jadinya. Ditambah statusnya sebagai cowok matang, mapan, dan menarik yang seolah bikin orang-orang kepincut.

Namun, di sini saya nggak mau mencoba untuk merasionalisasi alasan para pengikut sekte Han Ji-pyeong. Justru saya sebagai penonton “netral” mau memberikan pledoi untuk karakter Nam Do-san yang sering banget diamuk massa. Ada beberapa alasan mengapa karakter ini lebih “masuk Pak Eko!”.

Nam Do-san adalah karakter yang “klik” dengan kebanyakan milennials

Jujurlah kalian para penonton, Do-san adalah kita. Pria lajang 20 tahunan yang nggak jelas-jelas amat hidupnya. Self-esteemnya payah, nggak ngerti mau ngapain, takut mikir masa depan, plus punya seperangkat orang tua khas Asian parents yang berisiknya naudzubillah.

Coba deh kalian putar ulang adegan ketika Do-san naik kereta sambil merajut, di kanan-kirinya orang-orang berjas kantoran, sibuk kasak-kusuk soal beli apartemen dan mobil baru. Apa tidak mbrebes mili dirimu jika jadi Do-san? Sebagai manusia on-the-way seperempat abad yang nggak sakses-sakses amat, saya merasa sangat terhubung dengan adegan itu.

Ditambah lagi ketika adegan permintaan dia masuk ke Sand Box ditolak mentah-mentah sama Ji-pyeong. Lihatlah bagaimana wajah Do-san yang seolah bilang, “Dahlah, nggak ada harapan gue!” Nam Do-san yang cupu itu, seperti kebanyakan dari kita wahai kawula muda, adalah pribadi visioner yang nggak paham medan bertarung dan nggak punya relasi. Punya sih dua partner kerja, tapi sama-sama noob ya buat apa?

Kembaran beda bapak-ibu dengan Dal-mi

Saya bilang begini karena ya dua-duanya itu saling konek dan complementary. Ingat adegan ketika di Hackathon, Do-san selalu jadi orang pertama yang ngeh sama konsep abstraknya Dal-mi? Atau ketika Dal-mi meracau soal anjing pengawal tuna netra yang bisa ngomong? Yap, di antara empat manusia yang duduk mengelilingi meja bundar itu, cuma Do-san yang nyambung.

Do-san ini juga kalau ditelaah secara awas, adalah tipe suami zaman jigeum alias dia bisa jadi sosok suami yang feminis gitu. Do-san ini tipe karakter yang bakal selalu mendukung istri berkarier, tidak hobi membatasi pergerakan istri, selalu mau mendengarkan cerita istri, dan tentunya punya keterikatan “sahabat-gue-banget” dengan istri.

Kalau memang predestinasinya Dalmi-Dosan endgame, kalian bisa bayangkan kapel super supportive ala Ruth dan Martin Ginsburg–berjuang, jatuh-bangun, dan langgeng bareng. Duh so sweetnya!

Tipe manusia yang berani ambil risiko dan nggak nanggung

Okelah kalau ngomong perkara siapa yang jor-joran, semua karakter jelas habis-habisan. Bahkan si sepupu Do-san yang ngaku editor kelas kakap itu juga nggak effortless, lho. Cuma di sini saya mau memberi highlight kalau kadang ­ketekunannya Do-san itu disepelekan.

Ayo coba kita hitung berapa kali dia keluar dari comfort zone. Pertama, nekat pergi ke Networking Party punya Won In-jae. Perginya itu juga pakai modal lho, Guys, mulai dari cukur ke salon, pinjam jas, dan keberanian membuang sisi introvertnya buat ketemu orang yang entah siapa di acara yang juga entah punya siapa.

Kedua adalah ketika dia melepas “anak kesayangannya” alias Samsan Tech buat diasuh sama Dal-mi. Jangan lupa aksi beringasnya Do-san saat di ruangan bapak tirinya In-jae. Dan mungkin rentetan kampanye Do-san lainnya untuk Dal-mi dan Halmoni.

Percaya deh, ikhtiarnya Do-san memang sering kelelep karena kalian membandingkan sama karakter yang punya power alias duitnya eksesif banget, Bok. Coba deh dilihat dengan tidak menggunakan prasangka, pasti nanti kelihatan kok hilalnya!

Nam Do-san adalah pendengar paripurna yang nggak gengsi buat belajar dan memperbaiki diri

Kalau konteksnya peran manusia di sebuah fraksi, Do-san ini termasuk sosok yang krusial. Oke, dia memang culun punya dan sering banget out-of-touch, tapi kita jelas nggak bisa menyangkal kalau Do-san adalah sosok yang taat mendengarkan. Dia nggak pernah abstain untuk mendengar masukan, saran, dan keluh-kesah dari komplotan Samsan Tech (terutama Dal-mi).

Di era Hackathon misalnya, apa pernah Do-sana nggak menghargai pendapat Dal-mi? Di saat Chul-san dan Yong-san kembang-kempis sama status Dal-mi yang notabenenya hanya lulusan SMA, Do-san enggak kendur dan justru bisa mengambil sikap.

Bahkan ketika ditoyor kalimat pedas oleh Pak Han perkara dirinya nggak pantas jadi CEO, dia diam-diam merenungkan. Ya meskipun awalnya seperti sambaran gledek dan bikin dia nggak santai. Pun ketika Dal-mi beres presentasi di Sandbox, Do-san sadar dia sangat kurang dan mau menerima kesahihan baru kalau dia memang nggak punya kualifikasi CEO-ing.

Karakter yang mematahkan stereotip peran utama pria di drama Korea

Ini menurut saya yang paling penting. Banyak dari kita-kita ini yang nggak “jodoh” dengan Do-san karena ya dia memang bukan karakter peran utama pria mainstream yang sering kita cicipi di drama Korea. Bisa dikatakan Nam Do-san ini adalah karakter yang membuat orang mikir, “Kok pemeran utamanya gini banget ya?”

Sahih kok kalau kalian ilfeel atau hilang mood sama Do-san. Pemeran utama kok canggung, tidak karismatik, terlihat nggak niat, dan tidak sengsara. Bandingkan dengan Pak Han yang kelihatan sekali ngetrill di pasaran sebagai ikon “pemeran utama pria yang tertukar”. Namun, kalian sungguh zalim kalau melafalkan karakter Do-san cuma sebagai “karakter yang gitu-gitu doang”.

Sebab kalau boleh jujur, impresi pertama saya kepada Do-san itu tidak jauh berbeda ketika nonton Brian Johnson di The Breakfast Club. Tipikal nerd yang sebenarnya powerful, cuma butuh dorongan dan lingkungan yang kompatibel dengan kepribadiannya.

Saya justru mengapresiasi penulis Park Hye-ryun yang berani keluar dari zona nyaman konsep mainstream pemeran utama pria. Ibu Park berani untuk membuat karakter yang compeng sana-sini untuk kemudian kita saksikan bersama character development-nya. Terlebih lagi nih saya mau tanya, apa sih parameternya sebuah karakter itu disebut sebagai peran utama? Patokannya juga nggak jelas, terus kenapa ribut?

Keuletan dua kubu berperang ini juga mengacu pada siapa yang paling nelangsa hidupnya. Tim Pak Han bersikukuh kalau kapten mereka melewati masa kecil yang sulit karena yatim-piatu, selalu sendirian, dan bujang lapuk. Sekte Do-san membela kalau hidup jadi Do-san itu juga nggak enteng–penuh tekanan sana-sini karena pribadi mindernya dan punya bapak yang gila prestasi.

I mean, seriously, Guys! Kita perlu ingat adegan Alyssa dan James di The End of the F***ing World 2, saat mereka main klaim siapa yang paling menderita ketika putus. Padahal keduanya sama-sama porak-poranda dan mengalami hari super berat. Kesengsaraan itu bukan acara sabung ayam. Kenapa diadu?

Ada juga bahan debat kusir menyoal sosok Do-san cuma aji-mumpung dan tidak berhak untuk maju. Sekarang kita sama-sama realistis, siapa sih yang tidak mau jalan di atas karpet merah yang kanan-kirinya berjejalan orang bersorak-sorai? Lagian Do-san juga tidak sebegitu oportunisnya kok. Beberapa kali dia merasa tersayat dengan semua dosa kolektif itu dan memberanikan diri untuk jujur.

Fakta lapangan juga abai sih dengan adagium “hasil tidak akan mengkhianati usaha”. Terlebih lagi nih fenomena tikung-menikung ini memang sedang tren di tahun 2020. Lihat saja Raisa-Hamish dan Dinda Hauw-Rey Mbayang itu–yang menanam siapa, eh yang panen siapa?

Akhir kata

Yuk, kita sudahi perang sipil tidak berkeputusan ini. Hal-hal begini bisa jadi cuma trik marketing dari tim produksi supaya kita kegocek dan bikin dramanya jadi trending. Ketika kita saling pakai otot, mereka-mereka itu mungkin sedang haha-hihi karena strategi jualannya moncer.

Sumber gambar: Netflix

BACA JUGA Berkumpullah Para Second Lead Syndrome Han Ji Pyeong di Drama ‘Start-Up’

Baca Juga:  Argumen Paling Menjengkelkan Saat Debat Film. Ra Mashook!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
73


Komentar

Comments are closed.