Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Sebuah Rezim Tidak Selalu Jatuh karena Aksi Jalanan

Ahmad Irfani oleh Ahmad Irfani
10 Maret 2026
A A
Sebuah Rezim Tidak Selalu Jatuh karena Aksi Jalanan

Ilustrasi ini merupakan hasil generate dari aplikasi AI.

Share on FacebookShare on Twitter

“It’s the economy, stupid.” — James Carville

Kalimat pendek itu muncul dalam kampanye presiden Amerika Serikat tahun 1992. Maksudnya sederhana tetapi tajam: dalam politik, pada akhirnya keadaan ekonomi sering menjadi faktor yang paling menentukan. Bukan retorika, bukan propaganda, bukan pula simbol-simbol kekuasaan—melainkan apakah kehidupan ekonomi rakyat berjalan atau tidak.

Selama ini banyak orang membayangkan runtuhnya sebuah rezim sebagai peristiwa dramatis: jalanan dipenuhi massa, spanduk dibentangkan, slogan diteriakkan, dan gedung-gedung kekuasaan dikepung oleh rakyat yang marah. Gambaran itu memang sering muncul dalam sejarah politik berbagai negara. Demonstrasi besar dianggap sebagai puncak kemarahan publik sekaligus momentum ketika sebuah kekuasaan akhirnya tumbang.

Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Sebuah rezim tidak selalu jatuh karena aksi jalanan. Dalam banyak kasus, kekuasaan justru runtuh lebih dahulu di tempat yang jauh dari sorotan kamera: di pasar yang sepi, di pabrik yang berhenti berproduksi, dan di meja makan keluarga yang semakin kosong.

Ekonomi sering menjadi fondasi yang menopang keberlangsungan sebuah pemerintahan. Selama roda ekonomi berputar, selama rakyat masih bisa bekerja, berdagang, dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, banyak orang masih bersedia memberi toleransi kepada kekuasaan—bahkan kepada pemerintahan yang tidak sepenuhnya mereka sukai. Stabilitas ekonomi menciptakan semacam kontrak tak tertulis antara negara dan rakyat: pemerintah memerintah, sementara masyarakat masih bisa menjalani kehidupan dengan relatif wajar.

Tetapi ketika ekonomi mulai macet, kontrak itu perlahan retak.

Inflasi yang melambung, lapangan kerja yang menyusut, harga kebutuhan pokok yang tak terkendali, dan aktivitas ekonomi yang melemah akan menggerus kepercayaan publik sedikit demi sedikit. Pada tahap ini, mungkin belum ada demonstrasi besar. Jalanan masih terlihat normal. Namun sesungguhnya sebuah proses pelapukan sedang berlangsung.

Yang pertama terkikis adalah legitimasi. Rakyat mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah mengelola keadaan. Mereka mungkin tidak turun ke jalan, tetapi kepercayaan mereka memudar. Dalam politik, hilangnya kepercayaan sering lebih berbahaya daripada teriakan protes.

Baca Juga:

Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Dosen Bukan Lagi Manusia Setengah Dewa, tapi Memang Sudah (Cosplay) Jadi Dewa

Pada saat yang sama, krisis ekonomi juga menggoyahkan struktur dukungan di sekitar kekuasaan. Pengusaha kehilangan kepastian usaha, birokrasi kesulitan menjalankan program, dan kelompok-kelompok elite mulai merasakan bahwa sistem yang ada tidak lagi memberi manfaat bagi mereka. Ketika ekonomi memburuk, loyalitas yang sebelumnya tampak kokoh bisa berubah menjadi keraguan.

Sejarah memberikan banyak contoh tentang hal ini.

Di akhir dekade 1980-an, Uni Soviet mengalami stagnasi ekonomi yang panjang. Sistem ekonomi yang kaku membuat produksi menurun dan distribusi barang terganggu. Toko-toko kosong dan antrean panjang menjadi pemandangan sehari-hari. Ketika ekonomi tidak lagi mampu menopang kehidupan masyarakat maupun negara, struktur politik raksasa itu perlahan kehilangan daya tahannya hingga akhirnya bubar pada tahun 1991.

Contoh lain dapat dilihat pada krisis yang melanda Argentina pada tahun 2001. Bertahun-tahun utang menumpuk dan kebijakan ekonomi semakin sulit dipertahankan. Ketika pemerintah membatasi penarikan uang dari bank—kebijakan yang dikenal sebagai corralito—kepercayaan publik runtuh. Perekonomian lumpuh dan presiden akhirnya mengundurkan diri.

Indonesia sendiri pernah mengalami pengalaman serupa pada 1997–1998. Krisis finansial Asia membuat nilai rupiah jatuh tajam, perusahaan-perusahaan kolaps, dan harga kebutuhan pokok melonjak. Demonstrasi mahasiswa memang menjadi momen politik yang menentukan. Namun banyak pengamat sepakat bahwa tanpa krisis ekonomi yang begitu dalam, tekanan politik mungkin tidak akan mencapai titik yang sama. Demonstrasi menjadi simbol perubahan, tetapi krisis ekonomi adalah pemicu utamanya.

Semua contoh ini menunjukkan satu pola yang sama: sebelum sebuah rezim jatuh di jalanan, ia sering kali sudah runtuh terlebih dahulu di bidang ekonomi.

Pelajaran ini penting untuk direnungkan oleh pemerintah mana pun, termasuk pemerintah Indonesia hari ini. Perekonomian adalah fondasi kepercayaan publik. Ketika fondasi ini goyah, stabilitas politik pun ikut terancam.

Beberapa indikator ekonomi belakangan ini menunjukkan sinyal yang perlu dicermati dengan hati-hati. Kantor berita Reuters, misalnya, melaporkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menimbulkan tekanan pada sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kenaikan harga energi global ini berpotensi menambah beban anggaran negara, terutama bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Tekanan eksternal seperti ini sering kali menjalar ke berbagai sektor ekonomi. Ketika harga minyak dunia naik, biaya energi meningkat, inflasi dapat terdorong naik, dan pemerintah menghadapi dilema antara menaikkan harga energi atau menambah beban subsidi dalam anggaran negara.

Di saat yang sama, pasar keuangan domestik juga sensitif terhadap ketidakpastian global. Ketika investor melihat risiko meningkat—baik karena konflik geopolitik maupun ketidakpastian ekonomi—pasar saham dapat mengalami tekanan dan nilai tukar mata uang ikut melemah.

Semua tanda ini tentu tidak otomatis berarti krisis. Namun ia adalah pengingat bahwa pengelolaan ekonomi harus dilakukan dengan kehati-hatian yang tinggi.

Karena itu pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan fiskal dijalankan secara disiplin. Alokasi anggaran harus benar-benar berbasis prioritas, program-program besar perlu dihitung secara matang, dan setiap rupiah dari uang negara harus dikelola secara transparan serta akuntabel. Dalam situasi ekonomi global yang tidak pasti, ketepatan memilih prioritas jauh lebih penting daripada sekadar memperbanyak program.

Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuasaan politik sering runtuh bukan karena teriakan massa di jalanan, tetapi karena ekonomi yang tidak lagi mampu menopang kehidupan masyarakat.

Sebab pada akhirnya, sebuah rezim tidak selalu jatuh oleh gemuruh demonstrasi. Kadang ia runtuh lebih dahulu oleh sesuatu yang jauh lebih sunyi: ekonomi yang melemah, kepercayaan yang memudar, dan kebijakan yang kehilangan arah.

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: aksi jalanankebijakan fiskalkekuasaanrezimsistem ekonomi
Ahmad Irfani

Ahmad Irfani

Penyuka sepakbola dan pengamat perkembangan dunia teknologi informasi.

ArtikelTerkait

Wajar Kalau Kita Jadi Nggak Suka Slank karena Kedekatan Mereka dengan Penguasa

Wajar Kalau Kita Jadi Nggak Suka Slank karena Kedekatan Mereka dengan Penguasa

6 November 2022
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Jokowi Jadi Presiden Biar Aman Saat Mengkritik Negara: Sebuah Plot Twist

31 Mei 2021
Aming Salah Bilang Orang Kaya Matiin Orang Miskin Karena Panic Buying

Aming Salah, Orang Kaya Nggak Matiin Orang Miskin Karena Panic Buying

8 Maret 2020
4 Cara Membedakan Preman Asli dengan yang Mengaku Preman

4 Cara Membedakan Preman Asli dengan yang Mengaku Preman

24 Juni 2022
Kalau PAN Melempar-lempar Kursi Itu Bukan karena Brutal, Itu Namanya Dermawan!

Kalau PAN Melempar-lempar Kursi Itu Bukan karena Brutal, Itu Namanya Dermawan!

15 Februari 2020
Dosen Bukan Lagi Manusia Setengah Dewa, tapi Memang Sudah (Cosplay) Jadi Dewa

Dosen Bukan Lagi Manusia Setengah Dewa, tapi Memang Sudah (Cosplay) Jadi Dewa

12 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

27 Maret 2026
8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli

28 Maret 2026
Pengalaman Naik Whoosh Pertama Kali, Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang Bikin Mental Orang Kabupaten Jiper Mojok.co KA Feeder Whoosh

Pengalaman Menyenangkan Naik Kereta Whoosh, Kereta Cepat yang Jauh Lebih Baik ketimbang Kereta Cepat Taiwan

26 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.