Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sebenarnya, Seberapa Penting Rewarding dalam Parenting Itu?

Wafiyah Wahyuningsih Wilma oleh Wafiyah Wahyuningsih Wilma
20 Desember 2020
A A
parenting MOJOK

parenting MOJOK

Share on FacebookShare on Twitter

Ngomong-ngomong soal parenting, kok kayaknya tua amat, ya? Wahai kaum yang beranggapan demikian, percayalah, parenting bukan soal usia dan status. Ini kewajiban kita semua, meskipun kita juga masih dalam masa pengasuhan.

Parenting di segala zaman bukan sekadar pola asuh suami-istri terhadap anaknya. Bahkan untuk manusia-manusia yang belum berkeluarga sekali pun, baiknya sudah mengenal ilmu parenting. Organisasi terkecil dalam kehidupan kita, keluarga, pasti punya goals. Untuk mencapai tujuan-tujuan itulah diperlukan adanya upaya untuk mencapainya. Pengorganisasian inilah yang menggunakan ilmu parenting sebagai dasar. Sederhananya, semakin awal kamu mengenal dunia parenting, akan semakin mudah jalan hidupmu ke depan. Hiyaaa…

Pembahasan ini kita fokuskan dari sisi pandang orang tua terhadap anaknya, ya, shaaay. Orang tua pasti punya harapan besar terhadap kesuksesan anaknya. Bagi yang belum berkeluarga, mari kita mulai berhalusinasi. Seandainya kita sudah menjadi orang tua, tentu harapan kita hanya pada anak. Masa depan, gizi, tumbuh kembang, pengetahuan, dan segala problematika anak pun menjadi hal yang perlu dipikirkan. Singkatnya, keinginan agar anak meraih kesuksesan pasti ada dalam benak tiap orang tua. Di sini kita tidak membahas perihal bentuk kesuksesan, ya, sebab tiap orang punya kadar sukses masing-masing. Yang kita bahas adalah teknis, jalan, cara, atau metode menuju jalan yang bernama sukses.

Biasanya, orang tua memiliki norma tersendiri untuk diterapkan dalam keluarganya. Sebutlah do’s and don’ts-nya. Penerapan ini akan berdampak pada sang anak ke depannya,tentunya dengan konsistensi diri anaknya juga.

Misalnya saat masa-masa sebelum ujian. Dulu ketika zaman belum ramai dengan internet, orang tua saya menyita handphone sejak sebelum ujian hingga masa ujian berakhir. Hal ini berdampak pada saya. Tentunya tidak ada distraksi selama belajar dan fokus lebih meningkat. Sumber belajar berupa buku dirasa sudah mencukupi untuk bekal ujian. Tak ada alasan untuk googling, cari info ujian, ataupun alibi lainnya. Penyitaan ini berdampak pada masa ujian semester berikutnya. Saya jadi lebih aware terhadap distraktor yang satu ini. Sebelum orang tua menyita, saya sudah menyerahkannya lebih dahulu. Itulah contoh sederhananya.

Izinkan saya memberi contoh yang lebih sederhana lagi. Coba dipikir, kira-kira orang tua mana, sih, yang pengen terus-terusan cebokin anaknya? Nggak ada lah, ya. Nah, dari sini muncul ide dari seorang ayah.

“De, nanti Ayah belikan sepeda ya kalau udah bisa cebok sendiri.”

Sounds weird nggak, sih? Tapi, ini penting banget. Dari syarat yang diajukan seorang ayah inilah yang memotivasi anaknya untuk nggak jijik sama tainya sendiri. Inilah prinsip rewarding, bukan sekadar memberi hadiah, tetapi menghargai atas adanya sebuah usaha.

Baca Juga:

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Rewarding ini akan membuat anak bangga. Mereka akan berpikiran bahwa mereka cukup hebat untuk menjawab tantangan dari orang tuanya. Hadiah yang diterimanya juga akan lebih berkesan karena berasal dari hasil jerih payah. Ingat lagu Kring-Kring Ada Sepeda karya Maestro Soerjono alias Pak Kasur?

“Kring kring kring ada sepeda, sepedaku roda tiga

Kudapat dari Ayah karena rajin bekerja”

Lirik di baris-baris berikutnya pun mengajarkan kita tentang konsep rewarding. Lagu ciptaan Pak Kasur benar-benar mulia. Setiap ada usaha, akan ada jasa yang diberikan. Usaha adalah koentji. Tanpa usaha, pintu tidak akan terbuka, hadiah tak akan tiba.

Dilema dalam rewarding muncul ketika anak menjadi tuman terhadap hadiahnya. Ia hanya akan melakukan sesuatu jika diberikan timbal baliknya. Jika tidak ada iming-iming, langsung merengut. Kira-kira, bagaimana solusinya, ya?

Sembari memberikan rewarding atas pencapaian sebuah prestasi, perlu ditekankan pula untuk mengajarkan konsep ikhlas pada anak. Orang tua perlu memberikan pandangan bahwa segala sesuatu yang dilakukan belum tentu mendapat balasan secara langsung. Ibarat kamu mengejar cintanya, tapi dia menolaknya. Hiks. Izinkan saya mengganti perumpamaan. Bagi umat Islam, tentunya tidak asing dengan Surah Al-Ikhlas. Meskipun berjudul “Al-Ikhlas” namun dalam ayat-ayatnya  yang tertulis pada mushaf tidak ada kata “ikhlas” satu pun.

Berikan penjelasan pada anak bahwa ada Maha Besar Tuhan yang telah mengutus malaikatnya untuk mencatat tiap kebaikan. Tiap catatan kebaikan itu terkonversi dengan hal abstrak yang kita sebut pahala. Jelaskan bahwa pahala inilah reward yang sebenarnya, reward yang kontan masuk dalam list kebaikan. Ingatkan pula bahwa utusan malaikat Tuhan tidak hanya satu. Ada pula yang bertugas mencatat keburukan. Anak perlu diberikan motivasi agar mengupayakan catatan kebaikannya lebih banyak. Dengan perlahan, anak akan mengerti. Hingga pada waktu yang tepat, sampaikanlah, “Lakukan segala kebaikan demi Penciptamu, Nak.”

Terlepas dari membimbing anak, adik, ataupun orang yang lebih muda dari kita, sepatutnya kita juga memberikan bimbingan pada diri sendiri. Jangan sampai kita yang mengajarkan justru kita juga yang mengabaikan. Satu hal lagi, siapkan jawaban jika suatu waktu anak bertanya,”Ayah/Ibu, kalau memberi hadiah pahala, kan? Kenapa nggak kasih Adik hadiah setiap hari aja? Kan berpahala juga.”

Selamat berpikir.

BACA JUGA Yogyakarta yang Istimewa Tengah Putus Asa Ditelanjangi Covid-19.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Desember 2020 oleh

Tags: hadiahParentingrewarding
Wafiyah Wahyuningsih Wilma

Wafiyah Wahyuningsih Wilma

Hanya manusia biasa.

ArtikelTerkait

Cara Menang Giveaway di Instagram yang Paling Ampuh

1 Juni 2021
Pesan Yeo Hwa Jeong Hometown Cha-Cha-Cha tentang Reward dan Punishment dalam Parenting terminal mojok

Pesan Yeo Hwa Jeong Hometown Cha-cha-cha tentang Reward dan Punishment dalam Parenting

6 Oktober 2021
Daftar Kesalahan yang Lazim Dilakukan Saat Menyuapi Anak Terminal Mojok

Daftar Kesalahan yang Lazim Dilakukan Saat Menyuapi Anak

3 Maret 2021
dibully

Apa yang Harusnya Orang Tua Lakukan kalau Anaknya Dibully?

20 September 2019
Dengan atau Tanpa Asisten Rumah Tangga, Tak Satu pun Membuatmu Lebih Mulia terminal mojok.co

Dengan atau Tanpa Asisten Rumah Tangga, Tak Satu pun Membuatmu Lebih Mulia

9 Februari 2021
Risiko Jadi Orang Tua yang Melek Kesehatan Anak

Risiko Jadi Orang Tua yang Melek Kesehatan Anak

12 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026
Ide bisnis buat pebisnis Semarang kalau punya punya 100 miliar (Unsplash)

Ide bisnis yang muncul di kepala saya kalau punya uang 100 miliar adalah bikin rumah kesejahteraan khusus anjing di Semarang

2 Agustus 2026
Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara dangdut D’Academy Mojok.co

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara Dangdut Academy

5 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.