Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink! (Unsplash.com)

Sebagai peringatan, kalian akan muak dengan warna pink setelah membaca tulisan ini. Sama halnya dengan perasaan warga Jember selama ini

Meskipun saya jarang memiliki barang dengan warna pink, saya tidak punya masalah dengan warna itu. Sungguh, saya benar-benar tidak ada masalah dengan warna pink. Namun, itu semua berubah sejak pilkada serentak yang lalu.

Warna pink biasanya digambarkan sebagai simbol dari kasih sayang, ceria dan kedamaian. Secara tradisional warna ini sering diidentikkan dengan feminitas. Pink biasanya dominan terletak pada alat-alat kecantikan, tas, dompet, maupun dekorasi kamar.

Semua keceriaan dan kedamaian itu sirna jika kalian jadi warga Jember. Warna pink di Jember menjadi alat kampanye dan memoles citra pemkab.

Awalnya saya pikir hanya akan sesaat menghiasi Jember

Sejak awal kontestasi pilkada, Bupati dan Wakil Bupati yang sekarang menjabat memang warna dominan yang digunakan untuk kegiatan kampanye adalah warna pink. Semua printilan-printilan kampanye, mulai dari kemeja yang digunakan oleh paslon, baliho, gamis-gamis yang dibagikan ke emak-emak, hingga mobil operasional selama kampanye pun tak luput untuk diwarnai pink.

Saya kira itu hanya akan terjadi selama masa kontestasi dan nantinya setelah terpilih tidak akan menonjolkan warna tertentu selama menjabat. Dugaan saya salah, ketika saya mengikuti KKN Kolaboratif yang diadakan oleh Pemkab Jember pada 2025 lalu.

Balon yang ditermbangkan sebagai bentuk simbolis pelepasan mahasiswa KKN warnanya pink. Topi yang saya gunakan masih ada unsur-unsur pink-nya dengan kombinasi warna putih. Bahkan, desain kaos berkerah yang akan diberikan kepada mahasiswa KKN pun warnaya pink, meskipun kaos tersebut hingga sekarang tidak ada wujudnya.

Kalau jalan-jalan ke Kabupaten Jember, kalian akan melihat warna pink bertebaran di mana-mana. Mulai dari baliho sebagai alat memoles citra (meskipun sudah bukan masa kampanye), puskesmas, rombong UMKM, hingga gerobak mlijo, semaunya warna pink!

BACA JUGA: Saya Rindu Jember, tapi Tidak dengan Kenangan Buruknya

Memang tidak ada parpol di indonesia yang warnanya pink, tapi jangan kebablasan

Bupati Jember, Muhammad Fawait, dalam beberapa kesempatan ketika ditanyai mengapa sering menggunakan warna pink, menjawab bahwa tidak ada partai politik di Indonesia yang menggunakan warna pink sebagai warna utamanya sehingga diharapkan tidak menimbulkan kesan untuk menonjolkan partai politik tertentu selama dirinya menjabat.

Kalau memang itu alasannya, kan masih banyak lagi warna yang tidak digunakan oleh partai politik tetapi masih enak dipandang di mata dan bersifat netral, misalnya abu-abu, krem, hitam atau coklat.

Ini sudah bukan masa kampanye lagi yang memerlukan identitas tertentu untuk membedakan dengan pasangan calon yang lain. Berkaca dari Kabupaten sebelah di wilayah Tapal Kuda, misalnya Situbondo, Bupati-Wakil Bupati yang saat ini menjabat pada saat pilkada identik dengan warna oren. Namun, pilkada telah usai dan jarang kita temui warna tersebut di Kabupaten Situbondo. Bahkan, hal tersebut sudah diultimatum oleh sang bupati untuk tidak selalu menggunakan warna tersebut pada setiap kegiatan pemerintah kabupaten.

Sekali lagi, saya sudah muak dengan warna pink dan mohon untuk dikurangi penggunaannya

Dalam memoles citra kepala daerah, tidak perlu semua keberhasilan kinerja diidentikkan dengan warna tertentu, terlebih lagi pink. Apabila memang kinerja bupati dianggap berhasil, masyarakat akan dengan sendirinya merasakan keberhasilan tersebut. Ia dikenali dari kerja nyatanya yang terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Pada saat tulisan ini dibuat, saya juga mencari di Google apakah ada orang yang memiliki phobia terhadap warna. Ternyata hal tersebut ada dan dalam istilah medis disebut dengan istilah kromophobia. Bahkan, secara khusus warna pink yang menjadi pokok permasalahan dalam tulisan ini, dikenal dengan istilah rhodophobia.

Pesan saya adalah mengajak untuk mengurangi penggunaan warna tersebut pada setiap program Pemerintah Kabupaten Jember. Jangan sampai jumlah orang yang menderita rhodophobia—yang jumlahnya sedikit—bertambah akibat booming-nya warna pink di Jember. Bahkan yang saya takutkan adalah orang yang mengalami rhodophobia mayoritas berasal dari Kabupaten Jember.

Saya juga yakin bahwa kalian yang membaca tulisan ini muak dengan kata “pink” yang hampir ada pada setiap paragraf tulisan ini. Begitulah yang dirasakan oleh warga Jember, muak.

Penulis: Muzemmil Ubaidillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version