Sebagai Pengguna Setia Layanan Yahoo Mail, Saya Berat jika Harus 'Murtad' ke Gmail – Terminal Mojok

Sebagai Pengguna Setia Layanan Yahoo Mail, Saya Berat jika Harus ‘Murtad’ ke Gmail

Artikel

Avatar

Dari sekian banyak teman yang tahu, entah yang baru tahu atau sudah lama tahu jika saya adalah pengguna surat elektronik (email) dari layanan Yahoo, hanya sedikit yang bereaksi, “Ooo”. Sisanya bakal bereaksi, “Hah?” Sebagai orang yang berkenaan langsung dengan ekspresi teman-teman tentang apa yang saya pakai itu, saya bereaksi balik dengan “Oke” saja.

Sudah sejak lama, sekira 2015-an, ketika ada orang meminta email saya, selalu diakhiri dengan saran, “Ganti Gmail deh, Fik.” Alasannya, Yahoo adalah layanan kuno yang sudah ditinggalkan para mantan penggunanya. Namun menurut saya, perkaranya tidak sesepele itu. Walau mereka para pemuja Gmail ini mau menyarankan seribu kali pun, tetap saja saya tidak akan bergeming.

Sejak menginjakkan kaki di Pulau Jawa dan berkenalan dengan dunia online, ada kewajiban untuk membuat email sebagai salah satu identitas diri di dunia internet. Saat diberi pilihan antara Gmail atau Yahoo sebagai layanan email oleh mas saya, seketika itu juga saya langsung menunjuk Yahoo. Banyak alasan yang mendasari ini. Dan saya akan coba memberi penjelasan satu per satu.

Sebetulnya, sangat banyak godaan untuk saya menggunakan Gmail saat itu dan bahkan sampai saat ini. Mulai dari hal teknis sampai pada hal-hal yang tidak bisa dinalar. Misal saja alasan standar yakni karena teman-teman saya menggunakan Gmail, maka saya juga harus pake Gmail.

Pencerahan untuk teman-teman fans garis kerasnya Gmail yang sering menggunakan alasan ini agar saya “murtad” dari Yahoo, mohon maaf, nih! Anda tidak tahu kalau ngirim email itu tidak harus dalam satu layanan. Pakai email itu bukan kayak ngirim chat di Facebook dan WhatsApp yang teman chat Anda juga harus menggunakan aplikasi yang sama. Kalau email, ya cukup Anda punya akun email, entah dari layanan apa pun. Mau dari Yahoo Mail, Gmail, AOL, sampai Hotmail tidak jadi soal.

Alasan yang lebih konyol dari itu, ya ada. Saya diminta ganti ke Gmail karena “katanya” Gmail lebih terkenal dari Yahoo. Padahal kalau boleh saya cerita, pada zaman awal saya mengenal internet, Gmail itu belum se-terkenal dan semasif saat ini. Justru mereka yang menggunakan Gmail adalah orang-orang antik. Para pengguna Gmail ini adalah kaum pinggiran dan minoritas. Di sisi lain, Yahoo adalah penguasa pasar email. Mereka memiliki jutaan pengguna yang militan. Paling tidak pada 2009 dan sebelumnya.

Walau sebenarnya ketertarikan saya pada Yahoo tidak berangkat dari hal itu. Saya melihat saat itu Yahoo memiliki tampilan yang lebih simpel tapi memanjakan mata. Maka saya berani jamin (saat itu) bahwa layanan ini tidak akan mati.

Selain itu, saya melihat bahwa membuat akun baru di Yahoo lebih simpel dibanding Gmail. Cukup masukkan data standar macam nama, tempat tanggal lahir, alamat, kode pos, dan beberapa data lain. Tidak termasuk di dalamnya data nomor hape. Beda dengan Gmail yang waktu itu sudah pakai nomor hape sebagai verifikasi. Walau belakangan verifikasi dengan nomor hape ini begitu berguna agar email kita tidak sampai kena phising, tetap saja bagi saya sendiri hal ini cukup mengganggu. Saya penginnya yang simpel-simpel aja. Ya macam Yahoo pada saat itu.

Dan sampai saat ini, ketika orang sudah mulai migrasi ke layanan yang lebih banyak penggunanya, saya masih dan akan tetap setia dengan Yahoo Mail. Saya tidak mau ikut-ikutan tren. Cukuplah dulu saat membuat email pertama kali di layanan Yahoo, orang berpikir saya ikut-ikutan tren. Walau sebenarnya saya tidak pernah mau ikut-ikutan.

Ada juga isu yang beredar bahwa akhir tahun ini, Yahoo yang saya banggakan akan segera ditutup. Hadeeeh, ini siapa yang mencoba membikin keruh suasana? Saya tahu itu mah akal-akalan Gmail garis keras aja agar pengguna Yahoo pada pindah haluan.

Menurut data yang saya lansir dari Tekno Kompas, info bahwa Yahoo akan dinonaktifkan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, yang akan dinonaktifkan itu hanya layanan Yahoo Group saja. Sedangkan Yahoo Mail ya tetap ada. Jadi nanti, para pengguna Yahoo mail tetap bisa kok menggunakan layanan email. Pasalnya, Yahoo Groups dan Yahoo Mail itu adalah dua layanan yang berbeda. Yahoo Groups adalah forum online para pengguna Yahoo Mail. Matinya layanan Yahoo Group tidak akan memengaruhi kinerja Yahoo Mail, kok. Sama seperti “dimatikannya” Yahoo Messenger beberapa tahun silam. Jadi, kami orang-orang yang “dianggap unik” ini masih bisa kok berkirim email lewat Yahoo Mail.

Fakta menariknya, sebenarnya saya juga punya akun email di Gmail. Namun, itu sekadar agar saya bisa masuk hape pintar dan mengakses aplikasi yang kebanyakan sekarang “memaksa” pemiliknya untuk punya akun Gmail. Untuk layanan berkirim surat elektronik, saya masih dan akan tetap setia menggunakan Yahoo Mail. Nggak tahu lagi kalau nanti malam, kali aja kan tetiba perusahaannya gulung tikar?

BACA JUGA Membandingkan Gmail dan Yahoo!: Mana yang Lebih Nyaman Digunakan dan tulisan Taufik lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Baca Juga:  Balasan untuk Tulisan tentang Seblak sebagai Makanan yang Paling Aneh
---
6


Komentar

Comments are closed.