Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Sebagai Orang Sunda, Saya Termasuk yang Nggak Doyan Makan Seblak

Jasmine Nadiah Aurin oleh Jasmine Nadiah Aurin
23 November 2020
A A
Sebagai Orang Sunda, Saya Termasuk yang Nggak Doyan Makan Seblak terminal mojok.co

Sebagai Orang Sunda, Saya Termasuk yang Nggak Doyan Makan Seblak terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Emangnya orang Sunda harus doyan seblak?

Seblak, makanan yang terbuat dari kerupuk direbus ini memang menjadi jajanan primadona bagi masyarakat khususnya warga Jawa Barat. Teman-teman saya kebanyakan pada suka jajan seblak, tetapi saya nggak. Seumur hidup terhitung empat kali saya pernah membeli seblak, itu pun pertama kali beli ketika SMP dan pedasnya membuat lambung saya berkontraksi dan berujung maagnya kumat.

ADVERTISEMENT

Melihat tulisan perdebatan sengit antara Kang Ridwansyah dan Mbak Aisyah, di sini saya ingin menjadi penengah sebagai orang Sunda yang nggak doyan makan seblak. Baiklah, setiap orang pasti memiliki argumennya tersendiri. Mbak Aisyah menganggap seblak adalah makanan yang paling aneh dan Kang Ridwansyah sebagai orang Priangan merasa ke-trigger dan tidak menyetujui argumen tersebut.

Terus terang saya dulu ketika mendengar seblak sebagai makanan berbahan dasar kerupuk yang direbus pun rasanya sudah aneh. Orang tua saya juga menganggap demikian, padahal dua-duanya asli Sunda. Saya pun asli Sunda, lahir dan besar di tanah Jawa Barat seumur hidup. Pada dasarnya kerupuk itu diciptakan untuk digoreng dan memang kodratnya seperti itu. Namun, seiring berkembangnya inovasi dunia kuliner, kerupuk pun mulai mengalami pergeseran kodrat dari yang tadinya hanya digoreng sekarang bisa direbus dan diolah menjadi seblak.

Sama seperti halnya makaroni. Menurut sejarahnya, makaroni merupakan makanan asal Cina yang kemudian dibawa oleh Marcopolo ke Italia pada tahun 1292. Namun, ada juga sumber yang mengatakan bahwa makaroni memang asli makanan Italia. Makaroni sama halnya seperti pasta, diciptakan sebagai makanan kenyal. Akan tetapi, makaroni yang kita kenal umumnya digoreng dan dapat dinikmati sebagai camilan dalam toples. Makaroni saja sudah mengalami pergeseran kodrat, masa kerupuk nggak boleh wqwqwq.

Lalu, soal nyeblak yang katanya sudah menjadi tradisi orang Sunda. Maksudnya orang Sunda secara keseluruhan atau bagaimana, nih? Saya pikir nggak semuanya orang Sunda menjalankan tradisi tersebut karena berbagai faktor, salah satunya keadaan lambung yang tidak mendukung dan memang terlahir dengan lidah nggak kuat pedas seperti saya. Orang tua saya juga nggak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk makan seblak karena sekeluarga merupakan penderita maag. Huhuhu.

Mengenai topping seblak yang makin hari makin bervariasi, itu wajar menurut saya. Dari awalnya seblak hanya berisi kerupuk basah berselimut bumbu-bumbu dapur tiba-tiba kedatangan teman-teman baru entah itu telur, sayuran, sosis, bakso, ceker ayam, bahkan sampai tulang ayam. Seblak juga terbagi menjadi jenis kering, basah, dan kuah. Namanya juga inovasi kuliner, semakin banyak pedagang seblak bermunculan di dunia ini, semakin banyak pesaing, otomatis setiap pedagang harus kreatif membuat modifikasi terhadap makanan bernama seblak.

Sebagai pribadi yang nggak suka seblak, saya cukup heran ketika melihat teman saya nekat membeli seblak dengan tingkat kepedasan tinggi sampai kuahnya merah sekali. Apa nggak takut diare? Ada juga teman yang kelaparan tetapi belinya malah seblak bukannya nasi beserta lauknya. Apa kabar lambungnya? Saya sih lebih memilih untuk membeli nasi dan lauk atau roti daripada beli jajanan yang belum tentu dapat mengganjal perut seharian.

Baca Juga:

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

Dosa Besar Menganggap Bakso Aci Sebagai Bakso: Sebuah Tutorial Merusak Mood Pecinta Bakso Daging Sapi

Kemudian saya juga pernah merasa sedikit kesal saat melihat sebuah tweet menyatakan bahwa perempuan Sunda itu sudah pasti pecinta seblak. Lha, berarti yang nggak suka seblak sudah pasti bukan perempuan Sunda, begitu? Tolonglah, jangan menggeneralisir semua perempuan Sunda doyan makan seblak. Nyatanya ada beberapa spesies makhluk Sunda nggak doyan makan seblak atau makanan-makanan pedas lainnya. Entah itu karena terlahir dengan lidah nggak kuat pedas atau pantangan dari dokter sebab memiliki penyakit tertentu misalnya penyakit lambung.

Emang sih, ada seblak yang nggak pedas, saya pernah membelinya. Tapi rasanya justru malah hambar di lidah. Kayak ada yang kurang gitu. Terakhir kali beli seblak pun kuahnya sangat encer, kurang asin, dan sangat pedas. Lantaran track record per-seblak-an saya cukup buruk, maka dari itu saya nggak pernah beli seblak lagi sampai sekarang. Mau pedas mau nggak sama aja. Nggak doyan.

Intinya, kita saling menghormati kesukaan masing-masing, deh. Yang suka seblak silakan menikmati seblaknya, yang nggak suka seblak juga silakan cari makanan lain. Semua punya selera masing-masing. Jangan sampai perbedaan ini memecah belah umat seperti halnya penganut madzhab bubur diaduk dan nggak diaduk.

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Seblak Adalah Makanan yang Paling Aneh dan Saya Punya Argumen Logis dan tulisan Jasmine Nadiah Aurin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2021 oleh

Tags: seblakSunda
Jasmine Nadiah Aurin

Jasmine Nadiah Aurin

Suka nulis yang iya-iya.

ArtikelTerkait

Nona Penjual Seblak Paling Dicintai Mahasiswa Unesa (Unsplash)

Nona Penjual Seblak Paling Dicintai Mahasiswa Unesa

30 Mei 2023
Penggunaan Umpatan “Anjing” Berdasarkan Tingkatan Emosi dalam Percakapan Bahasa Sunda Sehari-hari

Penggunaan Umpatan “Anjing” Berdasarkan Tingkatan Emosi dalam Percakapan Bahasa Sunda Sehari-hari

4 Desember 2023
Panduan Memahami Istilah-istilah Main Gaple Orang Sunda terminal mojok.co

Panduan Memahami Istilah-istilah Main Gaple Orang Sunda

17 November 2020
fonetik fonologi fonemik makassar sunda sasak bima tolaki lombok cara ngomong bunyi kata linguistik mojok

Fonetik Orang Makassar, Sasak, Bima, dan Tolaki Bisa Biking, Eh, Bikin Salah Paham

15 April 2020
Suku Sunda Nggak Kuat Merantau Itu Anggapan Sesat (Unsplash)

Benarkah Orang Suku Sunda Nggak Punya Nyali untuk Merantau seperti Suku Lain?

28 Oktober 2023
sunda majapahit gajah mada penaklukan mojok

Mengapa Sunda Tidak Pernah Menjadi Bagian dari Majapahit?

25 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa

Kalah war tiket kereta Dhoho Penataran artinya harus menderita, karena berdiri di kereta ini betul-betul menyiksa

29 Juli 2026
Suka knalpot brong indikasi sadisme, psikopat, dan narsisme (Wikimedoia Commons)

Kenapa sih kita gampang banget emosi lalu ngamuk kalau ada orang blayer-blayer knalpot brong?

29 Juli 2026
Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.