Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Saya Sempat Kegocek Narasi Keliru Kapitan Pattimura Sebelum Baca Sumber yang Lebih Kredibel

Iqbal AR oleh Iqbal AR
6 Juli 2022
A A
Saya Sempat Kegocek Narasi Keliru Kapitan Pattimura Sebelum Baca Sumber yang Lebih Kredibel

Saya Sempat Kegocek Narasi Keliru Kapitan Pattimura Sebelum Baca Sumber yang Lebih Kredibel (The Ian via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Di linimasa Twitter sedang ramai perbincangan mengenai narasi Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura, pahlawan asal Maluku, yang beragama Islam. Ini diawali dari cuplikan ceramah seorang ustaz yang mengatakan bahwa Thomas Matulessy ini sebenarnya beragama Islam dan bernama asli Ahmad Lusy. Ustaz ini menukil sumber dari sebuah buku berjudul Api Sejarah, yang mana buku itu sudah mendapat banyak kritikan dari ahli sejarah.

Sontak narasi ini memulai perdebatan di linimasa. Mulai dari masyarakat awam, pengikut ustaz tersebut, hingga pakar dan ahli sejarah bergumul di linimasa saling mengadu argumennya. Para pakar dan ahli sejarah mengatakan bahwa narasi Thomas Matulessy beragama Islam adalah narasi yang keliru, sembari menyodorkan bukti-bukti yang sangat kuat. Sedangkan para pengikut ustaz dan orang yang percaya akan kebenaran buku Api Sejarah membalasnya dengan mengatakan bahwa sumber dari ahli sejarah adalah sumber yang keliru. Sementara itu, masyarakat awam memilih untuk menikmati keributan dan perdebatan ini.

ADVERTISEMENT

Saya? Saya udud aja ini, sambil rebahan nyamping. Enak, Lur, coba aja kalau nggak percaya.

Sebenarnya, narasi mengenai Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura beragama Islam sudah lama muncul dan sudah sering diperdebatkan. Narasi ini bersumber salah satunya dari buku Api Sejarah, buku yang sebenarnya cukup kontroversial, meski harus diakui isinya cukup menarik. Bahkan sejak belasan tahun lalu, narasi ini sudah berhasil “menghasut” orang lain untuk percaya, termasuk saya sendiri. Iya, saya adalah salah satu orang yang pernah percaya dengan narasi Thomas Matulessy beragama Islam.

Ceritanya begini. Dulu ketika SMP, saya pernah belajar di sebuah pesantren yang bisa dibilang cukup konservatif. Di pesantren tersebut, ada beberapa pengajar atau ustaz yang tingkat konservatifnya cukup tinggi dan terkesan anti-Barat. Segala sesuatu yang bersumber dari dunia barat, seperti ditolak mentah-mentah dan lebih memilih sumber dari “Timur” atau sumber dari dunia Islam. Tidak terkecuali untuk urusan sejarah.

Nah, di sinilah pertama kali perkenalan saya dengan buku Api Sejarah dan narasi Thomas Matulessy beragama Islam dimulai. Salah satu pengajar saya membawa buku Api Sejarah dan mengenalkannya kepada saya dan teman-teman sekelas saya. Salah satu narasi yang ditekankan kepada kami yang ada di dalam buku tersebut adalah bahwa Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura beragama Islam dan bernama asli Ahmad Lussy.

Beliau juga menambahkan bahwa Thomas Matulessy beragama Nasrani itu adalah narasi buatan Belanda, yang dibuat sengaja untuk memecah belah. Beliau juga menambahkan analogi yang sebenarnya kacau, tapi entah mengapa dulu saya percaya. Analoginya begini: “Kalau Thomas Matulessy itu Nasrani, mengapa dia berperang melawan Belanda yang juga Nasrani? Bukannya lebih baik mereka bersatu? Ini adalah akal-akalan Belanda untuk memecah belah umat.” Begitu kurang lebih analoginya.

Saya, yang saat itu masih belum paham betul mengenai Kolonialisme, Imperialisme, dan seluk beluknya, percaya saja dengan narasi dari pengajar saya. Apalagi ada embel-embel agama yang dibawa, yang membuat narasi tersebut terkesan sangat kuat dan kredibel bagi anak SMP pesantren berusia belasan tahun seperti saya.

Baca Juga:

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

Buku Api Sejarah dari pengajar saya dulu itu bahkan jadi buku favorit saya dan teman-teman. Kami meminjam buku tersebut dan pengajar saya mengiyakan dengan senang hati. Buku itu keliling dari satu kamar ke kamar yang lain, dari satu kelas ke kelas yang lain. Buku itu bahkan jadi salah satu sumber diskusi kami, diskusi “sok tahu” ala anak SMP, lah. Bahkan sampai lulus SMP pun saya masih memercayai bahwa Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura itu beragama Islam dan bernama asli Ahmad Lussy.

Hingga akhirnya saya lulus SMP dan lulus juga dari pesantren tersebut. Saya masuk ke SMA Negeri (SMK, sih, sebenarnya), dan mulai terbuka akan berbagai macam bacaan, termasuk bacaan sejarah dari berbagai sumber. Saya juga mulai membaca dan memahami apa itu Kolonialisme dan Imperialisme secara lebih mendalam. Saya juga mulai membaca berbagai macam jurnal, hingga buku sejarah, yang mana beberapa di antaranya membantah narasi Thomas Matulessy beragama Islam.

Lebih jauh, bahkan saya juga mulai membaca beberapa argumen bantahan terhadap buku Api Sejarah, buku yang dulu ketika SMP di pesantren sangat saya percayai isi dan narasinya. Akhirnya, saya juga tahu bahwa buku Api Sejarah adalah buku yang cukup problematis, yang sering mengabaikan sumber-sumber primer sejarah. Perlahan, kepercayaan saya tentang Thomas Matulessy yang beragama Islam luntur perlahan, dikikis oleh sumber-sumber yang lebih kredibel dan lebih dapat dipercaya.

Maka ketika narasi Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura beragama Islam kembali muncul di linimasa Twitter dan membuat banyak orang ikut berdebat, saya cuma senyum-senyum saja, sambil membatin heran, “Kok saya dulu bisa semudah itu percaya, ya…”

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Gaj Ahmada dalam Pusaran Tragedi Pertanyaan “Kapan Kawin?”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Juli 2022 oleh

Tags: agamakapitan pattimuranarasi
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

ateis mojok.co

Riuh Rendah Mereka yang (Mengaku) Ateis

6 Juli 2020
Ternyata Orang Jepang Sangat Religius, lho! terminal mojok

Ternyata Orang Jepang Sangat Religius, lho!

4 Desember 2021
Betapa Menyebalkannya Jika Dosen Filsafat yang Mengajarmu Adalah Seorang Fundamentalis Agama

Mempertanyakan Agama dan Eksistensi Tuhan Adalah Hal yang Wajar

17 November 2020
Mengubah Redaksi Azan dengan Seruan Jihad Itu Randomnya Minta Ampun terminal mojok.co

Mengubah Redaksi Azan dengan Seruan Jihad Itu Randomnya Minta Ampun

4 Desember 2020
Tanggapan buat Netizen yang Ngeluh Prestasi Bidang Agama Tak Pernah Diliput Media terminal mojok.co

Tanggapan buat Netizen yang Ngeluh Prestasi Bidang Agama Tak Pernah Diliput Media

26 Desember 2020
Agama baru Hellbound

Kiat-kiat Bikin Agama Baru ala Hellbound

27 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Apa salahnya mahasiswa kkn di kota? Mereka sedang belajar, bukan cuma nyari enak

20 Juli 2026
Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak Mojok.co

Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak

17 Juli 2026
Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera Mojok.co

Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera

19 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026
Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua (Mojok.co/Aly Reza)

Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua

17 Juli 2026
Drama pembayaran tunai ojol, uang kembalian jadi menguras waktu dan energi saya Mojok.co

Niat beli makanan lewat layanan pesan antar ojol supaya praktis, eh berujung repot karena driver tak punya kembalian

20 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.