Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Saya pernah miskin, saya begitu benci dengan keadaan itu, dan tak pernah ingin jadi miskin lagi

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
23 Agustus 2026
A A
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya pernah miskin, amat miskin malah. Saya benci jadi miskin, dan tak pernah ingin kembali ke keadaan tersebut lagi. Selamanya.

Rumah kakek saya besar. Rumah itu terakhir kali saya tinggali kalau tidak salah di tahun 2006. Saya tidak tahu persis berapa luas rumah kakek. Yang saya ingat, di rumah kakek ada 5 kamar, 3 pohon mangga, 1 pohon jeruk bali, kandang ayam, kandang dara, dan jemuran luar. Luas sekali pokoknya.

ADVERTISEMENT

Apakah kakek saya orang kaya? Kalau yang dimaksud kaya harta, jawabannya adalah ‘Tidak’. Meski kami punya rumah yang besar, perekonomian kami boleh dibilang pas-pasan. Satu masakan bisa dipanaskan hingga berulang kali. Sebutir telur pun tak lepas dari manipulasi. Ia dicampur terigu dan air supaya bisa dimakan 1 keluarga. Singkatnya, kami miskin. Itu saya kira jauh lebih tepat.

Titik terendah terjadi ketika rumah besar itu dibagi waris setelah simbah meninggal. Dua adik bapak—yang berarti om-om saya, memutuskan untuk menjual bagian mereka ke orang lain. Sementara bapak? Beliau tetap bertahan di sisa bagiannya. Mungkin karena beban moral anak pertama, mungkin juga karena sentimentil mengingat terlalu banyak kenangan di rumah itu.

Tinggal di rumah yang temboknya tak utuh

2/3 bagian rumah simbah yang dibeli orang pun perlahan-lahan mulai dihancurkan dan dibangun jadi rumah yang baru. Kala itu, kami hanya bisa memandang dari jauh. Tidak adanya duit membuat keluarga kami tidak bisa merenovasi rumah pasca dibagi 3. Akibatnya, satu sisi tembok rumah dibiarkan tetap bolong, dan hanya ditutup terpal ala kadarnya. Bisa dibayangkan betapa ngerinya tiap malam tiba.

Ada rasa waswas kalau-kalau maling masuk. Meskipun tidak ada yang bisa dicuri dari rumah, tapi tetap saja rasa takut itu membayangi. Belum kalau hujan turun dengan lebat dan disertai angin kencang. Seketika rumah jadi lembab, becek, dan dingin. Dan yang paling menyebalkan dari semua itu adalah suara kibar-kibar terpal yang tertiup angin. Berisik sekali, seperti sedang menertawakan kemiskinan kami.

Saya benci sekali keadaan saat itu. Saya benci jadi miskin. Dan kebencian itu diubah menjadi tenaga kerja rodi pada diri sendiri.

Kerja dari subuh hingga malam karena tak ingin terus-terusan jadi miskin

Selepas subuh, saya berangkat untuk siaran pagi di radio. Habis siaran, langsung tancap gas menjadi admin iklan di koran lokal sampai sore hari. Setelah itu, saya cari tambahan penghasilan di komunitas teater. Jam 9 malam, kadang malah jam 10, saya baru bersiap pulang. Berdiri sendiri di pinggir jalan, menunggu elep atau bis tuyul datang menjemput.

Baca Juga:

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

Saat menunggu itu, sering kali ada orang iseng yang menggoda. Mungkin mereka kira saya wanita murahan. Padahal, wanita murahan mana yang mangkal dengan wajah kusam plus kaos sponsor dan celana training?

Di titik itu, saya tidak tahu mana yang lebih saya benci. Elep yang lama datangnya, atau kemiskinan yang saya alami.

ADVERTISEMENT

Tapi kalian tahu lucunya di mana? Meski saya bekerja dari lepas subuh sampai malam hari, saya tidak kaya-kaya. Saya masih saja tidak bisa membantu orang tua untuk membuat tembok, supaya rumah saya sama dengan ruman-rumah yang lain yang temboknya komplit. Jangankan bikin tembok, sekadar beli sempak yang layak saja, saya masih harus berjuang.

Lagi-lagi, batin saya menjerit: Saya benci jadi miskin.

Trauma jadi miskin itu masih ada

Sekarang, semua tinggal sejarah. Rumah bapak dan ibu sudah layak untuk ditinggali. Saya juga sudah punya rumah sendiri lengkap dengan kendaraan roda dua dan empat. Saldo rekening meski bukan jumlah yang fantastis, cukup aman untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit simpanan untuk pendidikan anak-anak.

Dan apakah itu terjadi karena saya secara membabi buta istiqamah bekerja dari subuh hingga malam, selama bertahun-tahun lamanya?

Tidak. Perubahan itu perlahan terjadi setelah saya pindah kerja, berkat ijazah yang sudah di-upgrade. Kala itu, ada satu kekuatan yang mendorong saya untuk nekat kuliah. Entah kenapa saya yakin bahwa cara untuk keluar dari kemiskinan adalah dengan jalan pendidikan. Dan ternyata, semua itu terbukti.

Anehnya, meski keadaan sekarang sudah jauh lebih baik, badan dan kepala saya sepertinya masih menyimpan memori trauma tentang kemiskinan itu.

Buktinya, saya masih sering menyimpan sisa sambal untuk dimakan keesokan harinya, padahal jumlahnya tinggal seuprit. Tahu tinggal sepotong juga saya simpan karena masih bisa diselamatkan untuk dicampur dengan bahan lainnya. Kebiasaan recook sisa makanan semalam juga masih saja dilakukan. Dan kadang-kadang, ini kadang-kadang, ya, saya merasa bersalah kalau tidur siang atau tidur gasik. Alam bawah sadar saya ternyata masih saja menyimpan kenangan untuk kerja, kerja, kerja, sehingga tidur dianggap sebagai sebuah dosa.

Untuk siapa pun yang saat ini sedang berjuang lepas dari kemiskinan, semoga cahaya terang akan segera datang kepadamu. Tetap semangat, ya.

ADVERTISEMENT

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Agustus 2026 oleh

Tags: garis kemiskinanhidup orang miskinKemiskinanrasanya jadi orang miskin
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Katanya Mau Mengentaskan Kemiskinan, Kok Malah Ngurusin Soal Nikah, orang miskin

Orang Miskin yang Sebenar-benarnya Miskin Adalah Kaum Marjinal Tanpa KTP

9 Mei 2020
Program Wisata Unggulan: Investor Makin Kaya, Warga Lokal (Dibikin) Makin Miskin

Program Wisata Unggulan: Investor Makin Kaya, Warga Lokal (Dibikin) Makin Miskin

12 November 2022
Es Teh Jumbo, Bisnis yang Cuannya Manis, Semanis Rasanya

Dagang Es Teh Jelas Lebih Terhormat ketimbang Dagang Agama

4 Desember 2024
pak tua

Pak Tua itu Lebaran di Penjara

5 Juni 2019
TKI Alias Tenaga Kerja Indramayu: Sebuah Fakta Pahit tentang Kehidupan Warga Indramayu yang Susah Meraih Kesejahteraan

TKI Alias Tenaga Kerja Indramayu: Sebuah Fakta Pahit tentang Kehidupan Warga Indramayu yang Susah Meraih Kesejahteraan

10 Februari 2024
Gambar Menyeramkan pada Bungkus Rokok Adalah Kesia-siaan yang Merusak Karya Seni terminal mojok.co

Rokok Bikin Rakyat Miskin Makin Miskin Itu Omong Kosong

16 September 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

30 menit ngopi di angkringan, puluhan info bawah tanah saya dapat (Shutterstock)

30 menit ngopi di angkringan, saya bisa mengakses puluhan informasi bawah tanah

23 Agustus 2026
Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

20 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026
Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.