Saya yakin kuliah S2 bisa mengubah hidup saya, kaum kelas menengah, jadi lebih baik. Tapi, tolong, caranya gimana?
Saya terharu membaca curahan hati warga kelas menengah yang diwakili oleh Mas Fauzi. Curhatan tersebut dapat dibaca pada tulisannya di Terminal Mojok. Kurang lebih, kata Mas Fauzi warga kelas menengah itu nanggung. Mau dikasih bantuan sosial, tidak masuk kategori miskin. Dibiarkan berjuang sendirian, kondisinya tetap stagnan. Kasihanlah pokoknya!
Ya sebagai salah satu golongannya, saya mengamini apa yang diceritakan oleh Mas Fauzi. Kelas menengah memang senahas itu hidupnya.
Tapi, saya pribadi sebetulnya sudah punya solusi untuk keluar dari masalah ini, yakni saya harus bisa S2. Meskipun banyak yang bilang lulusan S2 tetap susah cari kerja, tak ada salahnya menjadi bagian dari 0,45% penduduk Indonesia. Kebetulan juga, saya dari desa yang lulusan S2-nya masih sedikit. Tentu, hal ini bukan saja akan memperbaiki kehidupan keluarga saya, tapi juga akan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Hias!
Yah tapi, kembali lagi ke masalah di awal, sebagai warga kelas menengah, dari mana saya harus mulai?
Kelas menengah tidak boleh coba-coba, terlebih perka
Bagi kelas menengah, bergantung pada keberuntungan bukanlah pedoman hidup yang bijak. Jadi, tidak ada kata “mencoba keberuntungan” di kamus kelas menengah. Saat mencoba sesuatu, setiap hal harus sudah sangat matang. Jika tidak, apa yang kita coba bisa-bisa beneran hanya jadi cobaan.
Misal nih, saat kita ingin mendaftar beasiswa kuliah S2, LPDP lah contohnya. Oleh karena masuk kategori kelas menengah, kita sejalur dengar orang-orang kaya, yakni jalur reguler. Nah, di jalur ini kita wajib mencantumkan sertifikat kemampuan bahasa Inggris. Problemnya adalah, sertifikatnya tentu tidak gratis, paling murah saja sekitar 600 ribu sekali tes.
Bayangkan, bagaimana kalau skor hasil tesnya nggak sesuai sama yang diminta pemberi beasiswa. Hanguslah 600 ribu itu.
Orang kaya sih tentu gampang mau tes berapa kali, sampai hafal soal tesnya pun mereka masih mampu. Nah, kelas menengah? Jangankan ikut tes lagi, tes pertamanya saja sudah mengurangi uang makan mereka selama sebulan.
BACA JUGA: Kuliah S2 vs Langsung Kerja, Analisis Untung Rugi untuk Masa Depan
Dilema antara bantu ekonomi keluarga atau ngejar cita-cita kuliah S2
Kondisi selanjutnya yang juga cukup mengganggu pikiran kelas menengah saat ingin kuliah S2 yakni perasaan dilema. Mereka tidak pernah benar-benar mantap saat harus memilih mengejar cita-cita. Harapan mereka sering terbentur sama kondisi keluarga. Kemarin percaya diri, hari ini merasa nggak yakin, besoknya bisa semangat lagi atau tambah pusing.
Itulah yang saya rasakan beberapa minggu ke belakang ini. Di tengah perjuangan saya mencari jalan kuliah S2, banyak sekali yang membisikkan “udah, ambil yang pasti-pasti saja”. Misalnya, karena saat ini saya menjadi guru, tak sedikit yang menyayangkan keputusan saya tidak mengikuti PPG. Katanya, dengan PPG, saya bisa dapat tambahan 1,8 juta per bulan.
Lalu, kadang kita juga dibuat bimbang, perlu nggak sih kita cari kerja tambahan untuk menambah pemasukan. Tapi saat nambah kerjaan, kita malah sangat sibuk. Nggak ada waktu untuk belajar.
Ya, ketahuilah, tidak mudah bagi warga kelas menengah menyisakan tenaga dan biaya untuk ikut kursus yang mahal. Mending uangnya dibuat beli beras.
Tolong, negara jangan hadir setengah-setengah!
Kita sudah sepakat kalau warga kelas menengah itu perkembangannya stagnan. Bahkan ada yang bilang akan jadi orang miskin baru. Nah maka dari itu, sebetulnya, tak ada yang bisa membantu mereka selain negara. Bantuan yang saya maksud pun harus maksimal, bukan yang setengah-setengah. Kayak, kuliah S2 aja susah banget.
Mosok, mentang-mentang kami kelas menengah, dibantunya juga cuma setengah-setengah?
Maksudnya, ketika kelas menengah ini disandingkan dengan kelas atas, dari start-nya saja sudah beda. Kekuatan kami cuma setengah. Waktu kami habis untuk pekerjaan, tenaga pun sudah habis, eh gajinya cuma cukup buat makan. Untuk bisa naik tingkat sangat sulit. Nah, kalau sudah sekali saja tumbang, kami tentu mudah sekali menyerah.
Jadi kalau bisa, renungkanlah kembali posisi kami. Kami berharap ada kebijakan yang maksimal untuk kelas menengah. Sekali lagi, kebijakan yang nggak setengah-setengah!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
