Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Saya Pendemo yang Usai Demonstrasi, Pulang ke Rumah Seorang Polisi

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
10 Oktober 2020
A A
Saya Pendemo yang Usai Demonstrasi, Pulang ke Rumah Seorang Polisi terminal mojok.co

Saya Pendemo yang Usai Demonstrasi, Pulang ke Rumah Seorang Polisi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya tak pernah menganggap seorang demonstran itu keren. Lebih tepatnya, saya tak pernah menganggap diri saya menjadi keren setelah melakukan demonstrasi. Saya adalah ekor dalam demonstrasi, saya tak pernah berada di garda terdepan. Namun, beberapa kali saya mencemplungkan diri ke kawah di mana ban dibakar atau water cannon ditembakkan. Rasanya, bukan hanya menjadi seperti Iron Man, tapi setidaknya nyawa yang diembuskan ke dalam raga saya ini, ada gunanya walau tak seberapa.

Entah sejak kapan, sosok polisi di mata saya itu sungguh menyebalkan. Saya tak mendiskreditkan keseluruhan karena masih ada polisi tidur. Sejak dipentung penuh perasaan (mungkin karena saya menggemaskan) pada medio 2016, amarah itu saya simpan. Tidak baik memang menyimpan dendam, saya akui. Demo demi demo berikutnya, rasa itu tetap membuncah walau hanya sebatas ingin njiwit, nggak lebih. Misuh? Itu urusan personal.

Sialnya, saya tidak bisa lepas begitu saja dari keadaan ini. Banyak faktor, salah satunya adalah lingkungan saya di Bilangan Banguntapan adalah lingkungan polisi. Saya tak tahu namanya apa, entah mereka janjian atau bagaimana saat membuatnya, yang jelas dalam satu desa, menyebar polisi-polisi yang menghuni. Kasus kemalingan paling baru, adalah tahun 2011. Itu pun yang dicuri seperangkat alat tani yang sudah rapuh dan sengaja ditinggal di sawah. Aman dan tentram, begitu kata penduduk desa. Jika menurut saya, kondisi ini adalah neraka terselubung.

Anak dari polisi-polisi ini, entah mengapa, kebanyakan mengikuti jejak langkah sang ayah. Sisanya, masih tak lepas dari bau-bau seragam yang mentereng, yaitu sekolah penerbangan. Sedangkan satu-satunya seragam yang pernah saya kenakan adalah seragam pramuka. Itu pun tak seketat mereka. Bisa gila kalau saya pakai baju ketat. Kancing-kancingnya, akan berteriak, “Referendum kami, ya Gusti (nama saya)!”

Ada hal yang lebih nggapleki lagi, kawan-kawan. Sebuah fakta kehidupan yang menohok bagi saya. Sebuah fakta yang tak bisa diganggu gugat, yakni ayah saya adalah pensiunan polisi. Artinya, nasi yang saya makan, pakaian yang saya kenakan, pendidikan yang dicekoki, udara dingin yang saya terima tiap malam, bahkan, lebih nggathelinya lagi, dinding kosan saya yang bertuliskan A.C.A.B. akronim dari All Cops Are Bastards adalah suntikan dana yang ia berikan kepada saya.

Lucu jika membayangkan saya menghabiskan sarapan pagi, saya salam dengan Bunda minta restu untuk pergi demonstrasi, sedangkan Ayah meminta izin menahan laju demonstran. Yang kasihan ya bunda saya, entah doanya berat kepada siapa. Di titik ini, mungkin saya bisa melihat rasa cinta Bunda ke anak apakah lebih besar daripada kepada sang suami. Tentu ini hanya bercanda, karena pengalaman saya, kebanyakan doanya menang ke pihak suaminya.

Bahkan buku-buku yang dicap begundal seperti Statism and Anarchy, Das Kapital, Gerpolek hingga Aksi Massa yang saya beli, dibiayai dari uang beliau. Bagaimana saya sebagai demonstran bisa membenci seutuhnya sedangkan objek yang saya benci, melimpahkan rasa sayang yang luar biasa kepada saya.

Ada gunanya juga lulus lama (sebagian orang akan mengatakan ini adalah alasan klasik saya), saya jadi bisa menyikapi sebuah demonstrasi dengan agak baik kali ini. Saya yang semester satu, berbeda dengan saya yang semester sepuluh. Saya melihat polisi adalah sosok yang mengemban tugas. Saya lihat sorot matanya, ada wajah anak dan istrinya (atau bahkan pacar) yang sedang menunggu di rumah.

Baca Juga:

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

3 Rekomendasi Film Indonesia yang Relevan dengan Hiruk Pikuk Negara Saat Ini

Saya akui perasaan itu memang timbul tenggelam. Di media sosial, saya tak jarang muntab kepada arogansi beberapa polisi muda. Namun, dalam aksi Malioboro kemarin, saya tak melempar barang satu botol pun. Saya lebih memilih menyisir sekitar, membantu para pedagang yang kelimpungan.

Ketika massa demonstrasi berteriak, hati saya turut mendidih. Jika saja bisa membedakan polisi baik dan polisi yang kemlinthi, tentu saya akan melempar mosi tidak percaya kepada oknum tersebut. Tapi ini berbeda. Yang baik bercampur dengan yang buruk. Kala beberapa manusia berkontemplasi di pegunungan sunyi, saya malah berkontemplasi saat demonstrasi. Jyaaan, ra mbois banget.

Saat itu pula, entah kenapa, rasa rindu kepada sosok Ayah muncul. Bagaimana bila batu yang saya lempar, jebul mengenai polisi yang kebetulan Ayah dari seorang anak yang saat itu sedang menangis karena rindu? Bagaimana jika ia sedang ditunggu Ibunya yang sedang sakit? Bagaimana jika ia ditunggu istrinya yang khawatir dan memantaunya melalui televisi? Rasanya bercampur aduk.

Sampai muncul pertanyaan, “Apakah polisi juga merasakan hal yang sama terhadap demonstran?” Menjawab pertanyaan itu, rasanya seperti onani. Hanya melegakan sesaat, lantas melihat wajah kawan sendiri berdarah-darah karena dipukul dan represif.

Walau raganya kini telah tiada, jiwa dari sosok polisi seperti memenuhi rumah saya. Tiap langkah datang ke rumah dengan baju bau sangit, rambut bau asap, dan mata penuh odol, seakan Ayah saya menunggu di teras, seraya bertanya, “Bagaimana perjuanganmu? Aku juga berjuang, tahu. Kita sama-sama berjuang, asal kau tahu. Jika kamu merasa sudah benar, tetaplah di jalanmu. Maaf jika jalan yang Ayah tempuh itu salah di matamu. Ayah hanya bisa berdoa, semoga ada sisa tempat di surga sana untuk Ayah.”

Kini, tiap pulang demonstrasi, rasanya seperti bergelut dengan perasaan hampa, bermuara ke rumah milik seorang aparat. Mungkin Gus Dur salah, polisi jujur bukan hanya ada tiga, tapi empat. Yakni Jenderal Hoegeng, polisi tidur, patung polisi, dan segenap polisi-polisi baik di luar sana. Polisi yang sayang keluarganya, sayang pula kepada para keluarga demonstran. Sebab sejatinya, musuh kita sama. Panjang umur perjuangan!

BACA JUGA Negeri Wano Ternyata Sudah Lama Terapkan Omnibus Law, Ini Dampak Positifnya dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2020 oleh

Tags: demonstranpolisi
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Quo Vadis Hak Privasi: Dari Mental Kerumunan Polisi Sampai Bebas Geledah Modal Asumsi terminal mojok.co

Quo Vadis Hak Privasi: Dari Mental Kerumunan Polisi Sampai Bebas Geledah Modal Asumsi

18 Oktober 2021
Pengalaman Saya Saat Hendak Wawancara Polisi di Tengah Aksi terminal mojok.co

4 Hal yang Mungkin Terjadi Ketika Jadi Anggota Keluarga Polisi

8 November 2020
Surat Terbuka dari Tukang Bakso Keliling untuk para Intel di Indonesia

Surat Terbuka dari Tukang Bakso Keliling untuk Intel di Indonesia

12 Oktober 2021
Kontrakan Seribu Pintu Cikarang Labirin yang Bikin Tersesat (Unsplash)

Satpol PP dan Polisi Gerebek Kontrakan Seribu Pintu Cikarang, Begitu Selesai Mendata 2.600 Pintu Langsung Pensiun

10 Februari 2024
bollywood polisi india mojok

Stereotip Polisi yang Sering Kita Temukan di Film Bollywood

16 Juli 2020
Liga 1 ditunda pilkada pandemi mojok

Keputusan Menunda Liga 1 dan Tetap Melanjutkan Pilkada Itu Sudah Sangat Tepat

30 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit
  • Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.