Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, di mana stres dan kegelisahan menjadi teman sehari-hari, saya pernah merasa tersesat. Saya mencari sesuatu yang bisa memberikan kedamaian batin. Hingga akhirnya, saya menemukan ketenangan itu di Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar di Indonesia yang modernis dan reformis.

Muhammadiyah bukan hanya sebuah gerakan keagamaan, tapi juga sebuah filosofi hidup. Ia mengajarkan keseimbangan antara iman, ilmu pengetahuan, dan amal shaleh. Artikel ini akan menceritakan perjalanan pribadi saya, bagaimana Muhammadiyah menjadi sumber ketenangan.

Bagi saya, ketenangan yang saya temukan bukanlah sesuatu yang instan. Ini semua hasil dari proses panjang. Melibatkan introspeksi diri dan keterlibatan aktif. Di tengah pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu, ketika dunia terasa gelap, Muhammadiyah hadir sebagai cahaya harapan melalui program-program sosialnya. Itulah awal mula saya tertarik, dan sejak itu, hidup saya berubah.

Baca juga: Fakta Menyeramkan Jika Muhammadiyah Tidak Pernah Lahir di Indonesia

Awal perjalanan menuju ketenangan

Perjalanan saya dimulai dari sebuah kebosanan spiritual. Saya lahir dan besar di kota kecil namun ramai dengan aktivitas ekonomi dan budaya. Sebagai anak muda, saya dulu lebih fokus pada karir dan hiburan duniawi.

Namun, ketika di usia 25 tahun, saya mengalami krisis eksistensial. Pekerjaan sebagai pegawai membuat saya lelah, hubungan sosial terasa hampa, dan saya sering merasa cemas tanpa alasan jelas.

Saya mencoba berbagai cara untuk menemukan kedamaian. Mulai dari olahraga, bahkan traveling ke tempat-tempat indah di Jawa Tengah. Tapi semuanya terasa sementara.

Suatu hari, seorang teman mengajak saya mengikuti kajian di masjid Muhammadiyah dekat rumah. Awalnya, saya ragu karena gambarannya sebagai organisasi yang “kaku” dan terlalu formal. Tapi saat tiba di sana, saya terkejut. 

Kajiannya tidak hanya tentang hafalan ayat Al-Qur.’an, tapi juga diskusi tentang isu kontemporer seperti lingkungan hidup dan ekonomi umat. Pembicara, seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah, menjelaskan cara menerapkan Islam ke dalam kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan esensi modern.

Itu adalah momen pertama saya merasakan ketenangan. Sebuah rasa aman bahwa agama bukanlah beban, melainkan panduan yang fleksibel.

Saya mulai aktif di cabang Muhammadiyah setempat. Melalui program pengajian rutin, saya belajar tentang tajdid (pembaruan) yang menjadi inti Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa Islam harus kembali ke Al-Qur.’an dan Sunnah, tapi juga terbuka terhadap ilmu pengetahuan barat. Ini membuat saya sadar bahwa ketenangan bukan datang dari menghindari dunia, tapi dari menghadapinya dengan bijak.

Selama enam bulan pertama, saya menghadapi tantangan. Ada saat di mana saya merasa tidak layak karena latar belakang saya yang kurang religius. Tapi komunitas Muhammadiyah menyambut saya dengan tangan terbuka. Mereka tidak menghakimi, melainkan mendukung. Ini adalah awal dari transformasi saya, di mana ketenangan mulai meresap ke dalam jiwa.

Nilai-nilai Muhammadiyah yang menginspirasi

Apa yang membuat Muhammadiyah begitu istimewa bagi saya adalah nilai-nilainya yang praktis dan relevan. Pertama, prinsip amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran). Muhammadiyah mengajarkan prinsip bukan sebagai slogan, tapi aksi nyata. 

Di Muhammadiyah, ini terwujud melalui amal usaha sosial. Saya pernah ikut program bantuan bencana alam di Jawa Tengah, di mana relawan Muhammadiyah bekerja tanpa lelah untuk mendistribusikan makanan dan obat-obatan. Melihat bagaimana mereka tetap tenang di tengah kekacauan membuat saya belajar bahwa ketenangan datang dari keyakinan bahwa setiap usaha adalah ibadah.

Kedua, penekanan pada pendidikan. Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah dari TK hingga perguruan tinggi, yang mengintegrasikan ilmu agama dan umum. Saya sendiri mengikuti kursus online dari Universitas Muhammadiyah tentang manajemen stres berbasis Islam. 

Di sana, saya belajar bahwa ketenangan (sakinah) dalam Al-Qur.’an bukan hanya kondisi hati, tapi juga hasil dari pengetahuan dan amal. Ayat seperti “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d: 28) dikaitkan dengan psikologi modern, membuatnya mudah dipahami.

Ketiga, sikap moderat dan inklusif. Muhammadiyah tidak ekstrem. Mereka mendorong dialog antaragama dan toleransi.

Saya pernah menghadiri acara dialog lintas agama dengan tema perdamaian. Muhammadiyah mengajarkan saya bahwa ketenangan bukan milik satu golongan, tapi bisa dicapai melalui kerja sama. Nilai-nilai ini bukan hanya teori. Mereka menjadi panduan harian saya, membantu saya mengatasi konflik internal dan eksternal.

Dalam konteks Indonesia modern, Muhammadiyah juga aktif dalam isu lingkungan. Program “Muhammadiyah Peduli Lingkungan” mengajak anggota untuk menanam pohon dan mengurangi plastik. 

Saya ikut serta, dan aktivitas itu memberikan ketenangan fisik dan mental: berada di alam sambil beramal. Secara keseluruhan, nilai-nilai ini seperti pondasi rumah yang kokoh, melindungi saya dari badai kehidupan.

Baca juga: Alasan Saya Tetap Mau Jadi Dosen Muhammadiyah walau Tahu Hidupnya Bakal Susah

Dampak ke kehidupan sehari-hari

Setelah terlibat di Muhammadiyah, dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari saya. Pertama, di bidang pekerjaan. Dulu, saya sering stres karena pekerjaan.

 Kini, dengan mengaplikasikan prinsip tawakal (berserah diri kepada Allah setelah berusaha), saya lebih tenang. Ini tidak hanya meningkatkan produktivitas saya, tapi juga hubungan dengan rekan kerja.

Kedua, dalam hubungan sosial. Ketenangan yang saya dapat membuat saya lebih sabar dan empati. Saya sekarang aktif di keluarga besar Muhammadiyah, di mana saya bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang. 

Ini memperkaya perspektif saya, dan saya jarang merasa kesepian lagi. Bahkan, saya menemukan pasangan hidup melalui komunitas ini. Seseorang yang sama-sama mencari ketenangan spiritual.

Ketiga, kesehatan mental. Muhammadiyah memiliki program kesehatan jiwa melalui rumah sakit-rumah sakitnya. Saya pernah mengikuti konseling gratis, di mana psikolog berbasis Islam membantu saya mengelola kecemasan. Hasilnya, saya tidur lebih nyenyak, dan hari-hari terasa lebih bermakna.

Secara keseluruhan, dampak ini membuat saya menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Saya tidak lagi mencari ketenangan di luar, karena Muhammadiyah mengajarkan bahwa itu ada di dalam hati yang terhubung dengan Tuhan dan sesama.

Menemukan ketenangan di Muhammadiyah adalah anugerah terbesar dalam hidup saya. Organisasi ini bukan hanya tempat memperdalam beribadah, tapi sekolah kehidupan yang mengajarkan keseimbangan. Dan ingatlah: ketenangan sejati datang dari iman yang dipraktikkan.

Penulis: Budi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bersekolah di SMA Muhammadiyah Adalah Salah Satu Keputusan Terbaik yang Pernah Saya Ambil Dalam Hidup Ini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version