Jadi pekerja Cikarang, agaknya, jauh lebih mendingan ketimbang kerja di SCBD
Akhir tahun lalu bapak saya baru pensiun sebagai pekerja di salah satu pabrik daerah Cikarang. Sejak itu beliau jadi lebih sering cerita tentang pekerjaannya dulu. Mungkin akhirnya kini bapak merindukan kegiatan yang dulu sangat membosankan baginya.
Berangkat dari berbagai cerita bapak, saya jadi menyadari beberapa hal. Ternyata ada berbagai benefit dari perusahaan yang bisa bikin pekerja Cikarang lebih hemat. Bahkan benefit ini, setahu saya, nggak didapatkan kakak-kakak SCBD.
Saya disclaimer dari awal ya, berbagai benefit ini nggak semua dimiliki perusahaan di Cikarang. Semua tergantung manajemen perusahaan masing-masing. Tapi, nggak sedikit kok perusahaan di sana yang punya semua benefit ini.
Diberikan makan saat bekerja
Jauh sebelum ada program MBG, pabrik-pabrik di Cikarang sudah memberikan fasilitas makan gratis bagi pekerjanya. Saya paham sih kenapa kebijakan perusahaan ini ada. Mungkin supaya para pekerja bisa masuk setelah istirahat tepat waktu dan nggak terjadi kasus keracunan makanan di perusahaan.
Makan berat yang diberikan perusahaan ke pekerjanya pun nggak kaleng-kaleng. Hampir pasti gizinya seimbang. Ada proteinnya (biasanya dari ayam), ada seratnya dari sayur-sayuran dan karbohidratnya dari nasi.
Coba kita bandingkan dengan kakak-kakak SCBD. Sepengetahuan saya, di sana kalau makan siang pasti di luar kantor, tentu dengan biaya sendiri. Biaya sekali makan di sana nggak bisa dibilang sedikit. Dalam sekali makan kakak-kakak SCBD bahkan bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah.
Pekerja di pabrik Cikarang dapat seragam kerja
Setiap hari ada fashion show di SCBD. Kurang lebih begitulah gambaran glamornya gaya busana pekerja di sana. Lha gimana, wong dari ujung rambut sampai ujung kaki yang kakak-kakak SCBD pakai brand ternama semua.
Pemandangan yang berbeda 180 derajat terjadi di Cikarang. Nggak ada tuh pekerja Cikarang yang kebanyakan gaya saat berpakaian di pabrik. Bukannya nggak mau, tapi lebih ke nggak bisa sih.
Pasalnya, pabrik di Cikarang telah memberikan seragam kerja ke karyawannya. Jadi nyaris semua pakaiannya sama. Paling yang sedikit membedakan hanya pada aksesoris yang dipakai saja. Itu pun kadang nggak boleh dipakai saat bekerja.
Ada fasilitas mobil antar-jemput
Perkara transum Cikarang kalah telak dengan SCBD. Kita sama-sama tahu lah Jakarta itu daerah dengan transum terbaik. Sementara transum di Kota Industri terkesan masih seadanya.
Pabrik-pabrik di Cikarang tahu persis masalah ini. Makanya, mereka menyediakan fasilitas mobil antar-jemput karyawan gratis di titik-titik tertentu. Untuk karyawan ini lumayan banget buat menghemat biaya transportasi bulanan.
Dengan adanya fasilitas tersebut, semurah-murahnya biaya transportasi kakak-kakak SCBD tetap kalah sama pekerja Cikarang. Terlebih buat kakak-kakak SCBD yang pakai mobil pribadi. Nggak tau dah habis berapa uang bensinnya.
Lembur di Cikarang itu dibayar, bukan disebut loyalitas
Pekerja pabrik di Cikarang nggak kenal yang namanya lembur dengan alasan loyalitas. Mereka masuk dan keluar pabrik tepat waktu. Andai kata disuruh lembur, mereka dibayar sesuai dengan aturan yang berlaku.
Bukan malah dibayar pakai alasan loyal pada perusahaan atau atasan. Eh, kadang dibayar sih. Tapi pakai donat atau kue-kue fancy lainnya.
Yang sabar ya kakak-kakak SCBD. Makanya kita sebagai buruh wajib berserikat. Agar hak-hak yang seharusnya kita terima nggak diselewengkan oleh perusahaan.
Kembali lagi ke bapak saya. Kini sebagai pensiunan beliau hanya bisa mengenang masa-masa kerjanya. Setiap cerita masa jayanya, terlihat dari mimik wajah sampai binar matanya, ada rasa bangga menjadi pekerja Cikarang. Saat bercerita ekspresi beliau seolah ingin berkata “jika harus menjalani sepuluh ribu kehidupan, saya tetap memilih jadi pekerja Cikarang ketimbang kakak-kakak SCBD”.
Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Cikarang Gemerlap sekaligus Gelap bagi Buruh: Eksploitasi hingga Tumbal Pabrik Terjadi di Sini
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















