Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya masih ingat betul momen pertama kali status saya berubah dari pegawai tidak tetap—atau bahasa jujurnya: honorer—menjadi PPPK di sebuah kementerian. Rasanya seperti naik kelas dalam hidup. Bukan cuma karena penghasilan yang lebih jelas, tapi juga karena ada semacam pengakuan sosial yang sebelumnya terasa samar.

Dan seperti kebanyakan orang yang baru “naik level”, saya mulai berpikir: sepertinya sudah waktunya punya mobil.

Dulu, waktu masih honorer, naik motor itu bukan pilihan, tapi keharusan. Bahkan kadang bukan soal praktis atau tidak, tapi soal ya memang cuma itu yang bisa diusahakan. Hujan, panas, ban bocor di jalan—semuanya sudah seperti bagian dari rutinitas yang tidak perlu dipikirkan terlalu dalam.

Tapi setelah jadi PPPK, cara pandang saya pelan-pelan berubah. Entah karena penghasilan yang terasa lebih “lega”, atau karena mulai sering membandingkan diri dengan lingkungan sekitar, mobil tiba-tiba terasa bukan lagi kebutuhan sekunder. Ia berubah menjadi semacam simbol: tanda bahwa hidup sudah sedikit lebih “berhasil”.

Lucunya, keputusan itu tidak pernah benar-benar saya hitung secara matang.

Yang saya pikirkan waktu itu sederhana: cicilan masih masuk akal, bensin masih bisa diatur, dan toh saya sudah bukan honorer lagi. Rasanya seperti sudah saatnya menikmati hasil kerja.

Masalahnya baru terasa setelah mobil itu benar-benar ada di garasi.

PPPK memang gajinya lumayan, tapi pengeluaran saya jadi berlebihan

Pengeluaran yang dulu terasa cukup stabil, tiba-tiba punya cabang baru yang tidak kecil. Bensin bukan lagi sekadar isi dua atau tiga hari sekali, tapi bisa jadi rutinitas yang lebih sering. Belum lagi servis berkala, asuransi (yang awalnya saya anggap opsional, lalu jadi terasa wajib), dan biaya-biaya kecil lain yang entah kenapa selalu muncul di waktu yang tidak tepat.

Di titik ini, saya mulai sadar: yang berubah bukan cuma status pekerjaan, tapi juga standar hidup. Dan standar hidup ini punya sifat yang cukup licik—ia naik tanpa permisi.

Yang lebih menarik, saya mulai melihat perbandingan yang cukup jelas. Teman-teman PPPK di daerah dengan skema penghasilan berbeda, ada yang tetap santai tanpa mobil, ada juga yang langsung “gas penuh” seperti saya. Sementara di lingkungan kementerian, ekspektasi tidak tertulis itu terasa lebih kuat: seolah-olah kalau sudah naik status, gaya hidup juga harus ikut naik.

Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada aturan yang benar-benar mengharuskan itu. Tapi ya, manusia jarang bergerak berdasarkan aturan. Lebih sering karena perasaan “tidak enak” kalau terlihat tertinggal. Mungkin FOMO, mungkin gengsi, mungkin juga hal-hal lain.

Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan yang agak mengganggu: punya mobil itu bukan sekadar soal mampu atau tidak, tapi soal bagaimana kita memaknai perubahan hidup. Dari luar, terlihat seperti upgrade. Dari dalam, kadang hanya perpindahan jenis beban.

BACA JUGA: Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

Rasa cukup terasa begitu jauh

Dulu, beban saya adalah bagaimana bertahan dengan penghasilan terbatas. Sekarang, bebannya berubah menjadi bagaimana mengelola penghasilan yang lebih besar tapi dengan pengeluaran yang ikut membengkak. Dan anehnya, rasa “cukup” itu tetap terasa jauh.

Mungkin masalahnya memang bukan pada status honorer atau PPPK, bukan juga pada ada atau tidaknya mobil di garasi. Tapi pada kebiasaan kita yang diam-diam selalu menyesuaikan standar hidup begitu keadaan sedikit membaik—tanpa pernah benar-benar bertanya: ini kebutuhan, atau cuma keinginan yang kebetulan sekarang bisa dibayar?

Penulis: Muhammad Irsyad Azis
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Beban Kerja PPPK Paruh Waktu Mirip ASN, tapi Standard Gaji Honorer: Nasib Guru Muda Makin Tak Jelas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version