Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Saya Dituduh Antek Syi’ah karena Tinggal di Iran

Ulummudin oleh Ulummudin
5 Maret 2021
A A
Iran antek syiah mojok

Iran antek syiah mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sebelumnya tak pernah terbayangkan saya akan hidup di negeri para Mullah, Iran. Tapi nyatanya takdir membawa saya sampai ke sana. Sebagai orang yang dibesarkan dalam kultur Islam tradisional, saya jelas merasakan gegar budaya ketika pertama kali tiba di sana. Kejutan yang dimaksud adalah perbedaan dalam praktik ibadah khususnya.

Sebelum berangkat ke Iran, saya selalu diminta waspada oleh teman-teman karena katanya orang sana tidak ramah terhadap penganut Sunni. Bahkan, sebagian mereka berkata bahwa nyawa saya akan terancam karena ke-Sunni-an yang melekat pada diri saya. Dengan sedikit khawatir, saya tetap berangkat.

Ketika di sana, saya pun tetap menunjukkan identitas Sunni dalam beribadah. Suatu saat, saya ikut berjamaah di masjid. Dengan perasaan berdebar, saya salat seperti yang saya praktikkan di Indonesia. Awalnya, saya menjadi pusat perhatian karena berbeda dengan cara mereka. Akan tetapi, saya tidak mengalami bentuk kekerasan baik secara fisik maupun verbal. Mereka hanya menanyakan dari mana asal saya. Selebihnya, basa basi khas Persia.

Perbedaan salat pun jika diperhatikan tidak begitu signifikan. Ketika berdiri, Syi’ah hanya membiarkan kedua tangannya menjuntai ke bawah, sedangkan Sunni meletakkan kedua tangan di atas perut. Perbedaan lainnya adalah mereka selalu qunut pada rakaat kedua sebelum ruku’, bukan sesudah seperti Sunni. Selain itu, ketika sujud, mereka harus menggunakan alas berupa tanah kering yang selalu tersedia di masjid. Selebihnya sama dan tak ada perbedaan yang berarti.

Hal lain yang kawan-kawan saya persoalkan adalah mereka beranggapan Syi’ah hanya salat tiga kali. Setelah saya menyaksikan sendiri, anggapan tersebut kurang tepat. Yang tepat adalah mereka tetap salat lima kali hanya saja dalam tiga waktu. Duhur digabung dengan asar, magrib dengan isya, dan terakhir subuh. Persis seperti praktek jamak takdim dalam kebiasaan Sunni.

Yang paling menjengkelkan adalah justru tuduhan-tuduhan yang menerpa pada diri saya. Setelah orang-orang di kampung mengetahui saya belajar di Iran, mereka menganggap saya perlu diwaspadai. Tak pelak, itu cukup mengganggu pikiran saya. Saya merasa seperti tidak punya masa depan jika suatu saat pulang ke kampung tercinta.

Padahal, di Iran saya tidak belajar agama melainkan hanya belajar bahasa Persia. Saya tertarik belajar bahasa Persia karena puisi-puisi sufistik banyak ditulis dalam bahasa ini. Penyair-penyair terkenal seperti Hafez dan Sa’di juga turut andil untuk mendorong saya ke sana.

Setelah masa belajar singkat saya selesai, saya akhirnya kembali ke kampung. Dan benar saja, saya dicurigai sebagai antek-antek Syi’ah. Banyak desas-desus yang mengatakan jangan dekat-dekat dengan saya karena takut terpengaruh dan nanti menjadi penganut Syi’ah. Mereka langsung menghakimi saya tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Stigma antek Syi’ah pun resmi saya sandang.

Baca Juga:

Selain Minyak, Inilah Industri yang Berpotensi Anjlok Efek dari Perang Dunia Ketiga

Perang Iran Israel: Meledak di Langit, Imbasnya Dirasakan Warga Bantul yang Lagi Bingung Caranya Beli Gas 3 Kilo

Belum lagi ketika melamar pekerjaan di institusi berbasis agama misalnya, melihat riwayat hidup dengan keterangan pernah di Iran bisa menjadi kendala tersendiri. Apalagi jika suatu saat saya berencana pergi ke Amerika, kemungkinan ditolak untuk mendapat visa sangat besar karena ada jejak Iran di dalam paspor.

Saya bertanya-tanya dalam hati kenapa ketika berbicara tentang Iran, aspek politik dan keagamaan yang selalu dominan. Masyarakat seakan sudah mempunyai persepsi yang tertanam dalam otak bawah sadar bahwa Iran sama dengan Syi’ah.

Memang benar mayoritas masyarakatnya penganut syi’ah. Namun, kita jangan menutup fakta jika di sana juga hidup kelompok Sunni, Kristen, bahkan Yahudi dan Majusi yang di Indonesia saja belum tentu ada. Kelompok-kelompok minoritas ini bahkan mempunyai perwakilan di parlemen untuk menyuarakan aspirasinya.

Kita juga melupakan fakta lain bahwa Persia mempunyai peran besar dalam perkembangan Islam sunni. Imam Ghazali, Imam Muslim, Imam Haramain, dan ulama-ulama besar lainnya adalah ulama yang berasal dari Persia. Tanah Khurasan juga menjadi tempat tumbuh suburnya sufisme yang menjadi corak Islam yang masuk ke Indonesia.

Nampaknya, ke-syiah-an mereka telah membuat sebagian masyarakat amnesia dan antipati terhadap Iran. Dalam hal ini propaganda media-media yang menebarkan kebencian kepada mereka yang berbeda berhasil. Menjadi berbeda seakan-akan menjadi ancaman dan harus dimusnahkan.

Saya kira sudah saatnya kita membangun komunikasi yang mengedepankan pendekatan budaya bukan agama. Dengan budaya, kita belajar untuk memahami lian tanpa prasangka. Kita diajak untuk meningkatkan kesalingpahaman dan mencoba memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan diri mereka sendiri.

Aspek budaya inilah yang nampaknya masih kurang dieksplorasi. Padahal, budaya dapat menjadi jembatan untuk membangun perdamaian. Secara insting, manusia mempunyai sifat penasaran dan rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang baru. Dalam budaya ada nilai-nilai universal yang dianut, sehingga kita akan berusaha mencari persamaan tanpa menafikan adanya perbedaan.

Berdasarkan apa yang saya alami, ternyata untuk dianggap sebagai antek Syi’ah, kita hanya perlu tinggal di sana dan menunjukkan sedikit apresiasi kepada negara yang disebut dengan Iran. Sesederhana itu.

BACA JUGA Derita Laki-Laki Tanpa Kumis dan Jenggot di Iran dan tulisan Ulummudin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Maret 2021 oleh

Tags: iransyiah
Ulummudin

Ulummudin

Pernah nyasar di Iran selama sewindu

ArtikelTerkait

Perang Iran Israel Panasnya Sampai Pantat Orang Bantul (Unsplash)

Perang Iran Israel: Meledak di Langit, Imbasnya Dirasakan Warga Bantul yang Lagi Bingung Caranya Beli Gas 3 Kilo

17 Juni 2025
Rekomendasi Squad yang Bisa Jadi Kawan Mabar Iran Melawan Player Top Global Macam Amerika

Rekomendasi Squad yang Bisa Jadi Kawan Mabar Iran Melawan Player Top Global Macam Amerika

9 Januari 2020
di toko buku

Di Toko Buku, Syiah-Sunni dan Komunis-Fasis Tak Pernah Saling Bertengkar

3 Juli 2019
Kali Ini Beneran “It’s Coming Home”, kan, Inggris_ (Unsplash)

Kali Ini Beneran “It’s Coming Home”, kan, Inggris?

22 November 2022
erupsi gunung sinabung bencana alam karena ulah manusia di indonesia mojok.co

Sebelum Takut sama PD III, Takutlah Dulu sama Bencana Alam Buatan Manusia

8 Januari 2020
iran mojok

Derita Laki-Laki Tanpa Kumis dan Jenggot di Iran

9 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.