Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Begini Rasanya Jadi Orang Syiah di Indonesia

Zaki Annasyath oleh Zaki Annasyath
7 Oktober 2020
A A
syiah indonesia muslim sunni mojok

syiah indonesia muslim sunni mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa tahun silam, ketika terlibat suatu obrolan tentang Islam, seorang teman mengatakan sesuatu yang bukan hanya bikin jantung saya dag-dig-dug, tapi juga aeorobik. Teman saya itu bilang begini, “Syiah itu aliran sesat. Mereka ada di mana-mana. Hati-hati loh kamu,”

Jujur saya jiper seketika. Diskusi yang tadinya berjalan menyenangkan kini terasa amat menekan. Penuh bahaya. Dia nggak tahu kalau saya, temannya yang kerap berbagi kegembiraan dan kepedihan bersama di perantauan, lahir dan besar di keluaraga penganut aliran Syiah taat. Perkataannya tadi, tentu saja, kembali membangkitkan perasaan takut saya gara-gara menjadi seorang Syiah di Indonesia.

***

Dulu, meskipun keluarga saya beraliran Syiah, sejak kecil saya malah mengenyam pendidikan di sekolah agama beraliran Ahlu Sunnah. Setiap sore saya belajar agama bersama teman-teman di rumah seorang ustad dari NU. Waktu itu saya belum tahu betul perbedaan antara Syiah dan Sunni. Maklumlah, masih anak bawang. Apa sih yang bisa diharapin dari pemikiran anak kecil selain main dan main dan main?

Saya mulai merasa kalau saya sedikit berbeda itu waktu ikut pesantren kilat khusus Syiah, kelas empat SD. Di sana, seorang ustad menjelaskan kepada kami macam-macam ajaran dasar aliran ini.

Salah satu yang diajarkan adalah persoalan taqiyyah. Taqiyyah, sederhananya, yakni kebolehan menyamarkan identitas ke-Syiah-an bagi seseorang saat merasa jiwa dan raganya terancam bahaya. Kata beliau, selama masyarakat muslim Indonesia secara umum belum bisa menerima aliran Syiah, saya diperbolehkan menyamarkan identitas ke-Syiah-an saya.

Ketika menyimak penjelasan ustad, alih-alih mengiyakan, saya malah merasa itu ajaran konyol dan nggak mungkin saya gunakan. Ngapain sih main sembunyi-sembunyi segala? Emang apa hal paling buruk yang bisa dilakukan masyarakat ketika tahu kalau saya Syiah?

Aduuuh, kalau dipikir-pikir sekarang, itu adalah pikiran yang amat sangat ndlogok. Sebuah contoh paten kenaifan yang paripurna. Tapi, apa boleh bikin? Waktu kecil saya memang belum mampu mencerna potensi bahaya yang bisa dilakukan suatu masyarakat. Hati dan pikiran saya masih putih mulus kayak jubah Rizieq Shihab yang baru matang dari laundry.

Baca Juga:

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Begitulah. Pokoknya setelah menyimak penjelasan Ustad tadi, saya masih percaya diri dengan identitas Syiah yang melekat. Saya masih berani melakukan takbiratul ihram dengan tidak menyedekapkan tangan. Saya juga tetap sering menghadiri peringatan Syiah seperti Asyura dan Arbain tanpa adanya rasa was-was. Dan jujur, kalau dipikir-pikir, kepolosan itu malah membuat hidup begitu ringan dan gembira (Apa sih yang lebih menggembirakan selain bisa menjalankan keyakinan tanpa takut dikoplok-koplok masyarakat?)

Namun, sialnya (Atau beruntungnya?) kepolosan yang memunculkan kegembiraan tadi ternyata cuma bertahan sampai saya menginjak bangku SMP. Gara-garanya adalah kemunculan demo anti-Syiah yang digawangi salah satu ustad dari sebuah pondok pesantren. Demo yang kelak bertahan hingga beberapa tahun kemudian itu, seolah menghancurkan kepolosan saya selama ini.

Dari demo itu saya mulai sadar bahwa ada penolakan nyata dari masyarakat muslim Indonesia secara umum terhadap aliran Syiah. Saya kemudian coba mengorek informasi lebih jauh dengan bertanya ke beberapa kerabat.

Ternyata penolakan dari masyarakat muslim Indonesia secara umum terhadap Syiah ada di mana-mana. Saudara saya, misalnya, cintanya harus kandas beberapa meter sebelum nikah gara-gara orang tua pacarnya tak ingin punya menantu Syiah. Om saya mesti kehilangan sahabat terdekatnya lantaran pernah mengaku kalau dirinya Syiah. Apa nggak nyesek tuh?

Selain itu saya juga mulai ngeri-ngeri sedap gitu ketika mau menghadiri salah satu peringatan Syiah. Sebabnya, pada suatu hari, tempat diadakannya peringatan Asyura sampai harus dijaga tentara. Dijaga tentara, coy.

Bagi saya waktu kecil, itu mengerikan banget. Kesannya kayak bakal ada sesuatu yang membahayakan nyawa gitu. Akhirnya, keluarga saya pun memutuskan buat nggak hadir lagi pada peringatan Asyura.

Tapi, puncaknya, yang membuat saya betul-betul memutuskan untuk melakukan taqiyyah secara total adalah peristiwa pengusiran penganut Syiah di Madura. Berita itu saya dengar ketika masih SMP. Kaum Syiah yang sudah bertahun-tahun tinggal di sana harus rela meninggalkan rumahnya karena desakan dari warga.

Setelah membaca berita tersebut, pikiran saya melayang-layang. Bayangkan ketika pada suatu hari yang cerah, Anda dan keluarga yang sedang menonton televisi dikejutkan dengan suara derap kaki segerombolan orang yang menuju rumah Anda. Mereka semua membawa senjata macam golok, pedang, pisau, batu, dan sebagainya. Kemudian dengan kasar, mereka mendobrak rumah Anda, berteriak “Allahuakbar” sambil mengusir Anda sekeluarga tanpa memberi kesempatan untuk berdialog. Pedihnya, beberapa orang yang turut mengusir adalah tetangga sebelah rumah, yang kerap menghabiskan waktu bersama di sore-sore senggang.

Sungguh adegan di atas, sangat mungkin terjadi pada keluarga saya kalau saya tak berhati-hati. Betapa ngerinya terusir secara hina dari rumah cuma karena berbeda aliran kepercayaan.

Padahal sependek pengetahuan saya, rumah seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia. Dan setiap manusia berhak merasa nyaman dan aman terlepas dari keyakinan apapun yang dianut. Pandangan sesederhana itu kenapa sulit dicerna dan dikunyah masyarakat muslim Indonesia secara umum? Atau itu sama sekali tak berlaku di Indonesia?

Beneran deh, itulah kali pertama saya berharap tidak tinggal di Indonesia. Maaf kalau saya berpikiran seperti itu, tapi beginilah adanya. Mungkin ada dari pembaca yang menyebut saya tidak nasionalis atau sejenisnya. Nggak apa-apa. Kalau ternyata nasionalisme hanya bikin sengsara, saya rela dicap tidak nasionalis.

Saya lalu melakukan taqiyyah. Setiap aktifitas yang bercirikan Syiah tidak lagi saya lakukan di tempat umum. Keberanian saya melempem, tak lagi seperti waktu masih anak-anak dulu.

***

Balik ke obrolan saya tadi. Ketika dia bilang kayak gitu, saya diam aja, tidak berani mendebat ataupun menyela. Gimana ya, rasanya saya nggak punya kekuatan sama sekali. Rasanya kayak, yaudahlah terserah mau ngomong apa. Daripada keselamatan saya dan keluarga terancam.

Oh iya, sebetulnya sampai detik ini saya masih ragu lho mengenai ke-Syiah-an saya. Lha gimana, salah satu syarat jadi orang Syiah itu adalah harus punya akhlak paling baik kepada sesama. Nah masalahnya, saya merasa akhlak saya masih babak belur. Belum mencapai level “baik”setitik pun.

Jangankan mengaku Syiah, mengaku Islam aja saya ragu. Menjadi Islam menurut saya ya harus punya akhlak yang baik kepada sesama. Itu orang-orang yang demo menolak dan mengusir kaum Syiah dari rumah sendiri apakah pantas dianggap Islam?

Atau jangan-jangan bagi mereka, mengusir seseorang dari rumahnya sendiri adalah sebenar-benarnya akhlak yang baik kepada sesama ? haha. Bisa jadi, bisa jadi.

*Berdasarkan pengalaman nyata seorang teman saya

BACA JUGA Ngakunya Pecinta Kucing, tapi Cuma Cinta Kucing Impor dan tulisan Zaki Annasyath lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2020 oleh

Tags: Indonesiaislammuslimsunnisyiah
Zaki Annasyath

Zaki Annasyath

Medioker

ArtikelTerkait

Level Pedas Orang Indonesia Memang Tingkat Dewa, Bahkan Naga pun Belajar Mengeluarkan Api dari Orang Indonesia

Level Pedas Orang Indonesia Memang Tingkat Dewa, Bahkan Naga pun Belajar Mengeluarkan Api dari Orang Indonesia

9 Agustus 2024
Model Dakwah Ala Kultum Pemuda Tersesat Sudah Ada Sejak Zaman Rasulullah terminal mojok.co

Kultum Pemuda Tersesat: Akhirnya Ada Wadah untuk Pertanyaan Liar Seputar Agama

1 September 2020
Ironi Indonesia Negara Dermawan: Rakyatnya Kesusahan, Pemerintah Berpangku Tangan dan Malah Bertepuk Tangan

Ironi Indonesia Negara Dermawan: Rakyatnya Kesusahan, Pemerintah Berpangku Tangan dan Malah Bertepuk Tangan

18 November 2023
Mengurus Visa Schengen Jadi Momok bagi Orang Indonesia yang Ingin ke Eropa Mojok.co

Mengurus Visa Schengen Jadi Momok bagi Orang Indonesia yang Ingin ke Eropa

26 Januari 2025
penjarahan artefak indonesia mojok

Penjarahan Artefak Nusantara: Maling yang Terlalu Pintar atau Kita yang Konsisten Abai?

28 Juni 2021
Sisi Gelap Mahasiswa Indonesia di Mesir yang Belum Banyak Diketahui Orang  Mojok.co

Sisi Gelap Mahasiswa Indonesia di Mesir yang Belum Banyak Diketahui Orang 

5 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gultik Blok M Jaksel, Kuliner Penuh “Kebohongan” yang Telanjur Dikenal Enak dan Murah  Mojok.co

Gultik Blok M Jaksel, Kuliner Penuh “Kebohongan” yang Telanjur Dikenal Enak dan Murah 

14 April 2026
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

18 April 2026
UIN Malang dan UIN Jogja, Saudara yang Perbedaannya Kelewat Kentara

Biaya Hidup Murah, Denah Kampus Mudah Adalah Alasan Saya Masuk UIN Malang

19 April 2026
Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
Membayangkan Apa yang Akan Terjadi Jika di Bogor Tidak Ada Angkot terminal di bogor angkot jakarta

4 Hal Menyebalkan dari Oknum Sopir Angkot yang Bakal Kamu Temui saat Berada di Jakarta

16 April 2026
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co

Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak

17 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang
  • Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual
  • UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah
  • iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru
  • Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang
  • Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.