Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Saya Bukan Vegan, dan Saya Bukan Pembunuh

Sigit Candra Lesmana oleh Sigit Candra Lesmana
22 Maret 2021
A A
vegan daging hewan jagal mojok

vegan daging hewan jagal mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Suatu hari muncul sebuah pemberitahuan di Instagram saya bahwa akun saya telah diikuti oleh akun yang mengampanyekan untuk mencintai hewan serta menjadi vegan (Tidak makan hewan dan semua produk olahannya). Dari situ saya berpikir bahwa jika admin tersebut ingin mengampanyekan kepada saya untuk berhenti memakan daging hewan, sepertinya dia sudah salah sasaran. Bukan karena saya memang seorang vegan, tapi saya itu jarang sekali makan daging.

Sekali lagi bukan karena keinginan saya, tapi saya terlahir di keluarga yang kurang mampu sehingga daging menjadi barang yang sangat mewah. Saya baru bisa puas makan daging ketika Idul Fitri tiba. Nah, budaya kita selama Idul Fitri pasti berkunjung ke rumah saudara atau kerabat, saat berkunjung ke rumah saudara inilah saya bisa makan daging. Saat Lebaran di rumah juga pasti menyediakan masakan berbahan daging untuk menyambut sanak saudara yang berkunjung.

Jujur saja, momen sekali setahun itu rasanya sangat berat untuk saya tinggalkan, dan saya kira sebagian besar masyarakat Indonesia sama seperti saya. Jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang konsumsi dagingnya begitu brutal, di mana setiap masakannya pasti berbahan daging. Sebagai contohnya makanan yang Amerika banget seperti ayam krispi, hamburger, steak, ham dan bacon, itu semua makanan yang berbahan daging. Jadi jika dibandingkan dengan mereka, konsumsi daging masyarakat Indonesia rasanya belum ada apa-apanya.

Kenyataan ini saya lihat dari kacamata orang miskin, entah jika orang kaya, mungkin setiap hari juga makan daging meskipun dia orang Indonesia asli. Saya tidak keberatan dengan kampanye untuk mengurangi bahkan menghentikan konsumsi daging. Saya lihat tujuannya positif dan baik. Namun, terkadang yang menyebalkan sebagian dari mereka mengampanyekan hal tersebut dengan menyebut kami orang yang masih makan daging adalah seorang pembunuh.

Ayolah, Bro, saya hanya bisa makan daging setahun sekali tapi sudah kau sebut sebagai pembunuh. Bukannya merasa bersalah saya justru sebel dan lama-lama muak dengan kampanye tersebut. Saya pecinta hewan, di rumah saya pelihara kucing dan dirawat dengan baik. Saya juga tidak pernah menebang pohon secara berlebihan sehingga merusak habitat hewan. Satu-satunya pohon yang pernah saya tebang adalah sebuah pohon bambu, itupun saya gunakan untuk tugas kerajinan dari sekolah.

Saya juga pernah menanam benih pohon manga dengan harapan bisa menyumbang oksigen yang bisa dinikmati semua makhluk dan menambal lapisan ozon. Saya juga sedih melihat topeng monyet dan sejak lama memustuskan untuk tidak lagi menonton topeng monyet setelah tau bagaimana si monyet diperlakukan. Saya juga tidak pernah berburu hewan liar. Perburuan yang pernah saya lakukan dulu hanyalah memancing ikan dan pernah sekali nyetrum, hanya sekali.

Bahan terbesar yang saya konsumsi adalah beras serta sayur. Bahkan ikan asin sudah termasuk bahan yang mewah bagi keluarga saya. Jadi apakah saya salah jika saya mengaku pecinta hewan tapi saya bukan seorang vegan? Jika dibandingkan dengan mereka yang membuka lahan dengan merusak habitat apakah saya masih jauh lebih buruk? Saya harap kepada mereka yang seperti itu kalian tidak diam saja.

Saya paham dan mengerti bahwa kalian tidak ingin ada hewan yang tersakiti lagi karena menjadi bahan konsumsi manusia. Saya menentang segala bentuk eksploitasi hewan liar, namun untuk hewan ternak sepertinya itu kebiasaan yang sangat sulit untuk dihentikan. Coba bayangkan bagaimana jadinya jika semua manusia tiba-tiba menjadi vegan, populasi hewan ternak meningkat drastis, lahan rumput semakin sempit dan pada akhirnya mereka mati kelaparan karena kekurangan makanan.

Baca Juga:

Pengalaman Jadi Karyawan Restoran Vegan dan Vegetarian yang Tidak Dirasakan Karyawan Restoran Biasa

Terhadap kehidupan manusia juga pasti berpengaruh. Sektor peternakan tidak akan ada lagi, lalu bagaimana dengan mereka yang menggantungkan hidup kepada sektor tersebut? Bagaimana para peternak, karyawan peternakan, para pemerah susu, pekerja pabrik susu, para pencari rumput, para jagal, serta para penjual daging di pasar, bagaimana mereka semua bisa mendapat penghasilan? Itu semua harus dipikirkan, jangan sampai kampanye yang kalian gaung-gaungkan malah menjadi petaka bagi orang lain.

Coba kampanyenya dilakukan dengan cara yang lebih lembut dan sebelum berkampanye terlebih dahulu dipikirkan solusinya serta lihat targetnya, jangan sampai menyasar orang-orang seperti saya, disuruh berhenti makan daging sedangkan kami makan daging saja jarang. Jika menjadi vegan adalah sebuah hidayah karena demi kebaikan, sampaikanlah hidayah tersebut dengan cara yang lebih baik. Jangan sampai hidayah itu justru terhalangi karena penyampaian yang buruk.

Saya percaya kalian adalah orang-orang baik, perasaan hewan saja kalian pikirkan apalagi perasaan manusia, bukankah begitu?

BACA JUGA Curhatan Orang yang Nggak Suka Daging Sapi, Hidup Jadi Nano-nano dan tulisan Sigit Candra Lesmana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2021 oleh

Tags: vegan
Sigit Candra Lesmana

Sigit Candra Lesmana

Lulusan S-1 yang sedang belajar menulis.

ArtikelTerkait

Pengalaman Karyawan Restoran Vegan dan Vegetarian yang Tidak Dirasakan Karyawan Restoran Biasa

Pengalaman Jadi Karyawan Restoran Vegan dan Vegetarian yang Tidak Dirasakan Karyawan Restoran Biasa

14 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Enak, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal Mojok.co

Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Nyaman, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal

29 Januari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

29 Januari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”
  • Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.