Saya termasuk mahasiswa yang sejak awal kuliah punya cita-cita cukup klasik, yaitu ingin jadi dosen. Alasannya sederhana dan agak idealis, karena dosen itu ngajar mahasiswa dan kerjanya kelihatan intelektual. Membaca buku, diskusi, mengajar, lalu pulang membawa wibawa akademik.
Namun, semua romantisme itu mulai retak pelan-pelan ketika saya mulai mendengar curhatan dosen saya sendiri. Bukan soal mahasiswa yang malas atau birokrasi kampus yang ribet. Tapi soal gaji mereka yang kadang hampir setara dengan uang bulanan mahasiswanya.
Bayangkan saja, untuk menjadi dosen seseorang harus menempuh pendidikan panjang. Minimal S2, ya idealnya S3, menulis tesis dan disertasi yang bikin stres. Lalu ketika resmi mengabdi, gajinya belum tentu menyentuh dua digit. Bahkan untuk sekadar menyamai UMR saja masih harus bersyukur dan banyak berdoa.
Di titik ini, mimpi menjadi dosen berubah dari cita-cita mulia menjadi latihan keikhlasan tingkat lanjut.
Padahal, tuntutan profesi dosen tidak main-main. Ada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus dipenuhi. Mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Belum lagi kewajiban administratif seperti BKD, laporan kinerja, target publikasi, dan tekanan mental menghadapi sistem yang sering kali lebih suka angka daripada proses. Semua itu dijalani dengan upah yang sering kali tidak sebanding dengan biaya pendidikan dan energi yang sudah dikeluarkan.
Maka wajar jika banyak calon dosen mendadak mikir ulang, bukan karena malas mengabdi, tapi karena ingin tetap bisa hidup layak.
Lakukan apa saja biar penghasilan bertambah
Sebelum bicara idealisme dan pengabdian, ada satu fakta pahit yang sebenarnya sudah jadi rahasia umum. Yaitu, gaji dosen di Indonesia itu ngepas banget dengan UMR, bahkan sering kali masih di bawahnya.
Dari cerita dosen-dosen yang curhat ke saya, gaji dosen pemula ada yang belum sampai 3 juta rupiah per bulan. Itu pun masih harus dipotong BPJS serta berbagai potongan administratif lain. Angka di slip gaji mungkin tampak “cukup” di atas kertas, tapi di dunia nyata rasanya seperti latihan bertahan hidup. Ironisnya, tidak sedikit dosen yang masih ngekos, menunda beli rumah, bahkan harus menghitung ulang pengeluaran cuma demi memastikan akhir bulan tidak berubah jadi akhir segalanya.
Di saat yang sama, tuntutan profesional tetap berjalan tanpa diskon, tampil rapi di kelas, update literatur, riset harus jalan, administrasi harus beres, dan mahasiswa tetap dilayani dengan senyum akademis yang seolah tidak pernah lelah.
Melanggar kode etik demi bertahan hidup
Pada akhirnya, karena penghasilan yang sering kali tidak cukup untuk menutup kebutuhan hidup, banyak dosen terpaksa mencari jalan samping. Ada yang jadi konten kreator, ngajar di beberapa kampus sekaligus, buka les privat, sampai mengambil pekerjaan di luar dunia akademik yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tri Dharma, seperti makelar mobil atau kontraktor jasa alat berat.
Bahkan, di balik tembok kampus yang menjunjung tinggi integritas ilmiah, terselip cerita ironis tentang dosen yang membuka jasa joki tugas. Bukan karena mereka tidak paham etika akademik, tapi karena realitas ekonomi sering kali lebih galak daripada buku pedoman moral.
Baca halaman selanjutnya

















