Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Salut Buat yang Bisa Nonton Film Selesai sampai Selesai!

Muhammad Sabilurrosyad oleh Muhammad Sabilurrosyad
20 Agustus 2021
A A
Salut Buat yang Bisa Nonton Film Selesai sampai Selesai! terminal mojok.co

Salut Buat yang Bisa Nonton Film Selesai sampai Selesai! terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi generasi milenial, pernikahan sudah menjadi bahasan yang relevan. Generasi yang sempat tumbuh dengan joke-joke jomblo di internet ini perlahan menua dan melangkah ke tahapan pikiran hidup selanjutnya, salah satunya soal makna pernikahan.

Sebagai seseorang yang menua, ada banyak perubahan yang mengiringi, termasuk soal selera tontonan. Yah, meskipun saya masih betah dengan tontonan menghibur sebagai fasilitas escapism, saya mulai menagih tontonan-tontonan yang bisa jadi fasilitas untuk bergelut dengan keresahan hidup, termasuk menyoal tema percintaan yang dewasa.

Pada 13 Agustus lalu, sebuah platform layanan streaming bernama Bioskop Online merilis sebuah film dengan biaya sewa termahalnya. Selesai, sebuah film kedua dari Tompi yang kembali berduet dengan Imam Darto di posisi penulis. Sempat sukses di Pretty Boys sebagai film pertama, mereka kembali berkolaborasi dengan maksud membuat film yang tampil beda.

Film kedua Tompi kali ini menyoroti drama rumah tangga dengan konten perselingkuhan. Takut dianggap basi, Tompi sampai harus menjelaskan bahwa yang namanya film temanya itu-itu saja, yang penting eksekusinya. Ya benar, setuju.

Menurut saya, membuat film yang sederhana baik itu secara tema maupun design produksi justru lebih menantang. Hal-hal yang sederhana punya kelebihan untuk membuat sesuatunya tampak lebih relate nan membumi. Di sisi lain, mengemas hal yang sederhana menjadi sesuatu yang menarik itu sulit.

Tompi harus berhati-hati di sini. Esensi utamanya adalah mengemas kesederhanaan agar tetap menarik. Namun, aksesori masalahnya cukup banyak, mulai dari tidak terjebak dari kemalasan menciptakan ulang sesuatu yang sama hingga bagaimana memaknai apa itu klise.

Film Selesai dibuka dengan statement yang menarik oleh Ayu yang diperankan oleh Ariel Tatum. “Pernikahan itu seperti menyatukan 2 roti menjadi 1. Butuh cinta sebagai menteganya dan yang namanya mentega, yah bisa habis.” Sebuah dialog yang memberi set up bahwa film ini mengeksplore soal pernikahan, intrik rumah tangga.

Film Selesai memang bercerita mengenai hubungan suami istri antara Ayu dan Broto. Sejak awal film, memang terlihat pasangan ini punya masalah yang tampak sulit dibicarakan. Mereka tampak berusaha menjalani hari bak pasangan bahagia meski hati mereka sebenarnya gundah gulana menyimpan sesuatu. Beberapa hari kemudian, Ayu menemukan celana dalam wanita di dalam mobil sehingga dia menuduh Broto selingkuh.

Baca Juga:

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita

Semenjak itu suasana rumah mulai berubah. Ada adu argumen, ada cekcok, hingga akhirnya Ayu memutuskan pergi dari rumah. Ndilalah, kok pas-pasan dengan kedatangan ibu mertua tersayang yang akhirnya membuat Ayu tidak jadi minggat. Memang, film ini punya banyak kejutan, bahkan banyak lagi setelah ini.

Melihat tema cerita yang mengangkat konflik pernikahan membuat saya punya ekspektasi akan sajian film-film konflik rumah tangga lainnya. Saya teringat beberapa film, di antaranya ada Malcolm & Marie, Marriage Story, dan Before Midnight. Apa kesamaan tiga film itu? Ketiga film itu punya tema sederhana yang berhasil dikemas menarik dengan senjata berupa dialog adu bacot yang kuat.

Ketiga film itu punya adegan-adegan cekcok yang menarik. Selain berhasil mengarahkan mood penonton seperti tegang atau romantis modal bacotan castnya, adegan cekcok itu berhasil mengupas perspektif masing-masing karakter. Sehingga, penonton diberi posisi yang dilematis menentukan siapa yang salah dan benar karena berhasil memahami kerumitan situasinya. Kerumitan yang tampaknnya hampir selalu ada di hubungan pernikahan. Hal ini yang biasanya saya tagih, pengupasan perspektifnya.

Hal ini tidak saya rasakan di film Selesai. Saya tidak menuntut agar film ini menyerupai referensi film-film yang saya sebutkan tadi. Film ini punya pendekatan yang berbeda, dan sejujurnya secara niat hal ini menarik. Sayangnya, pengupasan perspektifnya tumpul. Hal-hal yang dijanjikan Tompi selama promo film ini tidak dapat saya nikmati.

Film Selesai tampak menabrakan segala batas-batas yang ada. Salah satunya batas antara serius dan komedi yang tampaknya ingin ditabrak-tabrak. Kadang ketika saatnya adegan serius, adegan komedi sering tiba-tiba muncul secara acak. Bahkan saat adegan serius atau cekcok terjadi, musik justru memberikan kontras mood dengan nada-nada jazz yang komikal, dan itu memang unik dan beda. Sayangnya secara mood, saya bingung harus bereaksi seperti apa. Di saat serius, yang harusnya saya ikut terhanyut dalam tensi justru membuat saya tidak bisa menganggapnya serius.

Itulah yang membuat perspektif-perspektifnya tumpul. Saya sulit memahami konteks argumennya karena penabrakan serius dan komedi ini. Seolah yang saya tangkap film ini mencoba stylish dengan tameng berusaha tampil beda, pokoknya keren karena beda, tapi pada akhirnya mengorbankan substansi. Hal ini semakin diperparah dengan dialog-dialog yang tak punya bobot, plus karakter-karakter yang tidak didalami. Aspek-aspek yang tak digali ini menjadi korban karena mengutamakan tampil beda seperti  tata audio visual, pilihan adegan, hingga berbagai twist minim set-upnya. Pening saya nonton film ini, duh 40 ribuku.

Dikutip dari KINCIR, Tompi mengatakan bahwa dari film ini, orang bisa begitu marah sampai mudah mengucapkan kata kotor. Saya kira, statement ini menjanjikan adegan orang cekcok yang memaksa orang mengucapkan kata kotor dan akan ber-impact pada kondisi psikologis tertentu yang menarik.

Contoh terbaik ada di film Marriage Story, di adegan cekcoknya. Ada kalanya di saat dia telah mengucapkan sesuatu yang menyakitkan, sekian detik setelahnya dia merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan lawan bicaranya. Namun, saya sebagai penonton paham, ada kondisi rumit tak terelakan, dan ujungnya saya tak bisa menilai benar dan salah lagi karena konflik rumah tangga itu sangat rumit. Saya justru jadi malah berempati.

Film Selesai tak punya pesona ini. Kata-kata kotor yang keluar, kata-kata menyakitkan yang ada, ya sekedar pameran ngatain orang biar tampak keren karena berani vulgar. Efek psikologisnya? Kayak nonton anak SD saling ejek doang, lah, sensasinya.

Pada akhirnya, Selesai memang berhasil tampil beda menyajikan konflik rumah tangga dan perselingkuhan. Bodo amat bikin nyaman apa nggak nontonnya, pokoknya beda. Twist-nya tidak kuat dan tidak punya empati juga nggak apa-apa, yang penting beda. Permisi, saya mau makan tempe dicocol keju dulu.

BACA JUGA The World of the Married Nggak Cuma Soal Cerita Perselingkuhan Lee Tae-oh dan tulisan Muhammad Sabilurrosyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: Anya Geraldinefilm SelesaiGading MartinPernikahanperselingkuhan
Muhammad Sabilurrosyad

Muhammad Sabilurrosyad

Tukang nonton.

ArtikelTerkait

nikah drive thru mojok.co

4 Kemungkinan yang Akan Terjadi jika Layanan Nikah Drive Thru Dijadikan Alternatif

24 Juni 2020
Di Sunda, Pesta Pernikahan Dianggap 'Wah' Ketika Menggelar Acara Dangdutan terminal mojok.co

Di Sunda, Pesta Pernikahan Dianggap ‘Wah’ Ketika Menggelar Acara Dangdutan

25 November 2020
perempuan galak

Benarkah Perempuan Galak Itu Susah Dapat Jodoh?

5 September 2019
wanita single kapan menikah mojok

3 Pertanyaan dan Nasihat yang Menjengkelkan bagi para Wanita Single

5 November 2020
pernikahan di desa bedanya di kota hajatan mojok.co

Meluruskan Salah Paham Soal Pesta Pernikahan di Desa yang Bisa Berhari-hari

30 Maret 2020
Menikahkan Korban Pemerkosaan dengan Pelaku Adalah Pemikiran Paling Ugal-ugalan! terminal mojok.co

Menikahkan Korban Pemerkosaan dengan Pelaku Adalah Pemikiran Paling Ugal-ugalan!

28 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang Mojok,co

Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang

5 Juni 2026
Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras Mojok.co

Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras

3 Juni 2026
5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

4 Juni 2026
Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

2 Juni 2026
Kopi Klotok Tidak Lagi Menarik, Warga Jogja Pilih Menghindar (Wikimedia Commons)

Kopi Klotok: Kuliner Wajib bagi Wisatawan, tapi Semakin Banyak Warga Lokal Jogja yang Memilih Menjauh dan Mencari Tempat Lain

6 Juni 2026
Kesamaan Prinsip From Doubter to Believer Liverpool & Tekkadan (Unsplash)

Liverpool dan Tekkadan Punya Kesamaan, Sama-sama Memegang Prinsip: From Doubter to Believer

3 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.