Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Saling Berebut Titel Paling Indie, Buat Apa, sih?

Iqbal AR oleh Iqbal AR
20 Februari 2020
A A
Bukan Lebih Diterima, Nasib Musik Indie Masih Sama Sejak Dulu terminal mojok.co

Bukan Lebih Diterima, Nasib Musik Indie Masih Sama Sejak Dulu terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Jika melihat bagaimana dinamika perkembangan musik di Indonesia sekarang ini, kita jelas patut untuk berbangga diri. Banyak bermunculan musisi-musisi baru yang semakin memeriahkan industri musik kita. Berbagai macam rilisan dari berbagai macam genre banyak bermunculan dan beraneka warna. Acara-acara musik juga banyak hadir tiap pekannya, mulai dari yang berskala kecil hingga acara berskala besar. Satu hal yang menjadi kunci: kemudahan teknologi. Inilah yang membuat segala sesuatu, mulai dari menjadi musisi, membuat lagu, dan membuat acara musik menjadi semakin mudah saat ini.

Namun, dari banyaknya yang terjadi di dunia musik kita, ada satu perdebatan yang seharusnya tidak terjadi. Ada semacam perdebatan di beberapa kalangan penikmat musik: siapa di antara mereka (atau idola mereka) yang seleranya atau musiknya paling indie?

Oke, tunggu sebentar, kita mundur sejenak. Mungkin kita ingat perdebatan beberapa tahun sebelumnya (setidaknya 5-15 tahun sebelumnya) tentang musik indie dan musik mainstream (label besar). Perdebatan atau lebih tepatnya perbedaan ini seakan membuat jarak yang cukup jauh antara masing-masing musisi dan masing-masing penggemar. Titel-titel yang menempel juga aneh-aneh. Mulai dari musisi yang ada di ranah mainstream dianggap norak dan kampungan, atau musisi-musisi yang ada di ranah indie dianggap tidak jelas, begitu pula dengan fansnya.

Perdebatan ini akhirnya mereda beberapa tahun belakangan. Memudarnya jarak dan hilangnya batas-batas yang memisahkan ranah indie dan mainstream menjadikan dunia musik kita menjadi lebih dinamis dan kolaboratif. Penikmat musik juga sudah banyak yang mengerti apa definisi dari indie, yang sebenarnya lebih mengarah pada pergerakan, bukan pada genre.

Tapi ternyata, masih ada semacam perdebatan di dalamnya, tentang mereka-mereka yang merasa paling indie, dan ini jelas menjangkit di kalangan fans. Bukan hanya membuat ekosistem yang tidak menyenangkan, hal-hal semacam ini juga membiaskan lagi definisi mengenai frasa indie mengarah pada genre-genre tertentu, bukan lagi pada gerakan atau sikap.

Kalau boleh dibilang, munculnnya beberapa musisi baru menjadi “penyebab” adanya perdebatan ini. Kemunculan mereka jelas menciptakan ekosisitem baru. Sialnya, ada beberapa orang di dalamnya yang terjangkit penyakit sok indie tersebut. Watak-watak seperti itulah yang memberi pondasi sebuah pengakuan hingga perdebatan bahwa dia lah yang paling indie, hanya karena dia mendengarkan musisi tersebut. Atau dia yang merasa paling pertama dan paling lama mendengarkan musisi tersebut.

Saya terpaksa harus sebut beberapa nama musisi yang setidaknya sering disebut sebagai alasan ke-indie-an banyak orang. Ada nama .Feast, Hindia, Pamungkas, dan Ardhito Pramono. Saya pribadi tidak ada masalah dengan musisi-musisi yang saya sebutkan ini, musik mereka easy listening semua. Akan tetapi, bagaimana kelakuan fans mereka yang merasa sok indie hanya karena mereka fans musisi tersebut jelas membuat ekosistem menjadi kurang menarik.

Beberapa orang di dalam masing-masing basis penggemar saling berebut titel paling indie di antara mereka. Tidak tahu juga apa bentuk support mereka terhadap musisinya, entah itu selalu beli karyanya atau datang tiap kali manggung. Pokoknya, mereka merasa paling indie saja.

Baca Juga:

Aksi Liar Sok Rock n Roll dan Destruktif di Panggung Musik yang Kerap Merugikan Tidak Bisa Dibenarkan!

5 Starter Pack Remaja Jompo Saat Nonton Festival Musik

Hampir setiap hari, ada saja argumen-argumen di media sosial, mengenai perebutan pengakuan ini. Mulai dari pernyataan yang bilang, “…aku sudah basah, kalian baru nyemplung dengerin si A, bla bla bla…” sampai yang mencela-cela genre musik yang lain dan merasa musiknya atau musisi yang disukainya paling keren.

Apa sebenarnya yang mereka kejar dari berebut titel ini? Pengakuan dari orang lain, di-waro, di-notice idolanya, atau sekadar menghibur diri sendiri? Kalau sikap mereka yang seperti itu hanya mengejar pengakuan dari orang lain, harusnya mereka malu dengan orang-orang yang sudah dari dulu berkecimpung di pergerakan musik independen. Kalau berharap di-waro idolanya, saya rasa tidak mungkin, malah yang ada sikap mereka dianggap norak oleh idolanya sendiri. Kalau sekadar menghibur diri sendiri, saya cukup heran: kok, ada orang yang menghibur diri sendiri dengan sikap yang terlalu bodoh ini?

Lagian, buat apa juga bersikap seperti itu? Merasa paling indie? Merasa musiknya paling keren? Tidak perlu seperti itu. Tidak ada gunanya juga, malah kadang menjadi hal yang berdampak negatif terhadap musisi terkait. Daripada berebut titel seperti itu, mending kita support karyanya, beli album atau merchandise lainnya, dan datang ke konsernya. Support dengan cara itu saja, tidak perlu berlebihan. Kalau berlebihan, tidak membuat kalian jadi keren, malah jatuhnya jadi norak.

BACA JUGA Mengkritisi Anak Indie yang Tidak Tahu Arti Musik Indie atau tulisan Iqbal AR lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2021 oleh

Tags: Ardhito PramonoHindiaIndieMusik
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Lupa Membawa Earphone Saat Bepergian Sendiri Itu Rasanya Hampa Banget Nggak, sih?

Lupa Membawa Earphone Saat Bepergian Sendiri Itu Rasanya Hampa Banget Nggak, sih?

31 Januari 2020
4 Lagu Barat yang Wajib Ada di Playlist-mu biar Makin Semangat LDR Terminal Mojok

4 Lagu Barat yang Wajib Ada di Playlist-mu biar Makin Semangat LDR-an

23 Juli 2022
Bisakah Kita Menikmati Musik Tanpa Peduli Pilihan Politik sang Musisi? (Pixabay.com)

Nggak Ada Masalah Musisi Terjun ke Dunia Politik, asalkan…

4 Maret 2023

Melalui Lagu Kita Kembali ke Masa Lalu

5 Maret 2020
Lagu “34+35” Ariana Grande Saru Banget Dilihat dari Sudut Pandang Serat Centhini mojok.co/terminal

Lagu “34+35” Ariana Grande Saru Banget Dilihat dari Sudut Pandang Serat Centhini

8 Maret 2021
Mari Bersepakat 'Terbang Bersamaku' Adalah Lagu Kangen Band yang Terbaik terminal mojok.co

‘Juminten’ Adalah Lagu Kangen Band Paling Tidak Masuk Akal

26 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
Aku Cinta Kartasura, Kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

Aku Cinta Kartasura, kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

12 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.