Sales, Profesi Mulia, Ujung Tombak Sebuah Perusahaan – Terminal Mojok

Sales, Profesi Mulia, Ujung Tombak Sebuah Perusahaan

Artikel

Sampai sekarang, profesi sales sering mendapat stigma negatif. Semua sales dianggap cuma bermodalkan “mulut licin” sampai pakaian seksi saja. Bikin konsumen sulit menolak untuk tidak membeli produk yang ditawarkan.

Padahal, dunia per-sales-an duniawi tak sesederhana itu. Bahkan di beberapa perusahaan, sales menjadi divisi tersendiri yang memiliki beragam peran. Tak hanya itu, sales merupakan profesi yang menjadi ujung tombak perusahaan, lantaran berinteraksi langsung dengan konsumen.

Menjadi sales itu nggak gampang, perlu punya mental baja dan tahan banting. Tak jarang, calon konsumen menolaknya mentah-mentah, ditambah mencaci produk yang dijual.

Secara sederhana, sales adalah profesi yang menjual produk, barang, atau jasa untuk sampai ke tangan konsumen. Karena itu, mereka harus paham betul barang atau jasa yang dijual. Sehingga, seorang sales harus memiliki loyalitas dan totalitas yang tinggi terhadap perusahaan.

Mungkin kebanyakan dari kita hanya mengenal SPG atau SPB, padahal dunia sales tak sesempit itu. Di antaranya ada sales representative yang biasanya bertugas menjadi ujung tombak proses penjualan, yang biasanya akrab kita kenal dengan brand ambassador atau agen penjualan.

Kemudian ada sales management yang biasanya bertugas menetapkan tujuan dan analisis penjualan. Selain itu, ada juga sales administratif yang biasanya bertugas membantu tim penjualan mengurus keperluan administrasi. Misalnya, izin perjalanan.

Masyarakat kita sering salah paham mengenai sales dan marketing. Padahal, proses kerja dari kedua divisi itu jelas berbeda. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, sales bertugas menjual produk agar laku di pasaran.

Baca Juga:  Pengalaman Jadi Surveyor: Dikira Minta Sumbangan Sampai Jualin Produk

Sementara itu, marketing bertugas untuk merencanakan produk, menetapkan harga,  mempromosikan produk, serta mendistribusikan barang untuk memuaskan konsumen. Secara sederhana dapat dipahami bahwa marketing merupakan strategi untuk meningkatkan penjualan.

Sebagai orang yang menggeluti bidang industri kreatif, saya tentu pernah mengalami fase jatuh bangun dan pahit manisnya dunia bisnis, terutama bisnis makanan. Seperti kata pepatah, dalam hidup tidak ada yang instan.

Dahulu saya pernah menjadi sales yang bertugas memasarkan produk atau jasa di kampung dan perumahan serta menyebarkan brosur di perempatan lampu merah. Saya akui itu bukan pekerjaan yang mudah.

Selain harus berpanas-panasan melawan terik matahari, saya harus memaksa diri untuk memenuhi target harian. Belum lagi harus benar-benar tabah menghadapi kenyataan bahwa belum sempat promosi saja sudah diusir.

Lantaran pernah berada pada fase yang seperti itu, ditambah lagi benar-benar merasakan sendiri sensasi menjadi “orang lapangan”, saya mulai menyadari bahwa sales itu profesi penuh kebanggaan.

Karena itu, saat ini, ketika saya melihat seorang sales menyebarkan brosur di pinggir jalan atau perempatan lampu merah, saya sangat antusias untuk menerima brosur mereka. Hal itu lantaran saya pernah merasakan apa yang sedang mereka jalani.

Bahkan, tak jarang banyak orang yang tidak menghargai keberadaan mereka dengan menolak atau pura-pura tidak tahu. Selain itu, banyak juga yang belum sempat membaca isi brosur sudah membuangnya begitu saja.

Baca Juga:  Memburu Koordinator Manusia Silver

Apabila merasa tidak butuh informasi dari brosur tersebut ya sebaiknya dibawa terlebih dahulu atau buang pada tempatnya. Jangan membuangnya begitu saja. Selain menjadi sampah, tentu akan menyakiti hati.

Akan jauh lebih baik jika kita mulai terbiasa memanusiakan manusia dengan menghargai pekerjaan seseorang. Kita hanya perlu mendengarkan ketika promosi produk, jangan mengusirnya atau menolak mentah-mentah begitu saja.

Beri mereka kesempatan untuk berbicara dan menawarkan produknya, kalian tidak diharuskan membeli produk yang ditawarkan. Hargai cara mereka bekerja, bukan malah merendahkan harga diri mereka.

Saya sering menyaksikan SPG rokok yang mendapat kekerasan verbal dari calon konsumennya. Dari mulai dianggap sebagai bahan bercandaan sampai pada iseng “menawar” tubuh si SPG.

Miris melihat perilaku masyarakat kita yang belum bisa menghargai pekerjaan orang lain seperti SPG. Karena itu, banyak dari anggota masyarakat yang masih menganggap remeh profesi ini.

Padahal, sales adalah ujung tombak perusahaan untuk menjual produk agar sampai ke tangan konsumen. Tanpa mereka, mungkin kita akan sulit mendapat produk dengan promo-promo yang ditawarkan.

Berbahagialah kalian yang bekerja sebagai sales, kalian lebih mulia daripada mereka yang hanya menghabiskan anggaran negara dengan sia-sia.

BACA JUGA Resolusi Mental 2019 yang Harus Dibiasakan Sejak Hari Ini dan tulisan A. Fikri Amiruddin Ihsani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.