Kecamatan Soreang di Kabupaten Bandung itu memang juara kalau soal suasana pensiun. Udaranya masih bersih bikin paru-paru tersenyum, aksesnya sudah dimanjakan Tol Soroja, dan statusnya mentereng sebagai ibu kota Kabupaten Bandung. Kurang apa lagi coba?
Akan tetapi setelah saya kontemplasikan lagi sambil meratapi nasib terjebak macet di Jalan Kopo yang panjangnya berasa seperti melewati jembatam sirathal mustaqim, saya sadar ada satu “dosa besar” yang luput disebutkan, Soreang itu tidak punya mal.
Iya, Anda tidak salah baca. Sebagai jantung pemerintahan dari wilayah Kabupaten Bandung, Soreang ini masih suci dari pusat perbelanjaan modern. Kalaupun Anda melihat gedung megah dengan tulisan “mal”, jangan senang dulu. Itu adalah Mal Pelayanan Publik. Isinya bukan gerai sepatu branded atau bioskop yang memutar film box office, melainkan loket buat mengurus KTP, pajak dan birokrasi lainnya.
Sudah saatnya Soreang punya mal sendiri. Bukan demi gaya-gayaan biar dibilang kota, tapi demi harga diri kabupaten.
Kehadiran mal bisa mendongkrak perekonomian Kabupaten Bandung
Kehadiran mal itu bukan cuma soal konsumerisme atau pamer gaya hidup. Ini soal perputaran ekonomi. Selama ini, warga Soreang dan sekitarnya kalau mau makan di restoran franchise populer atau sekadar nonton bioskop, pilihannya cuma satu, pergi ke Kota Bandung.
Bayangkan kalau mal berdiri di Kecamatan Soreang. PAD (Pendapatan Asli Daerah) kabupaten nggak akan bocor ke tetangga sebelah. Lapangan kerja terbuka buat warga lokal, mulai dari staf administrasi, mbak-mbak tenant, sales perumahan, sampai abang-abang parkir resmi atau juga parkir liar. Jadi, uang warga Soreang ya berputar di Soreang lagi dan untuk kemajuan Soreang.
Baca juga: Soreang, Tempat Pensiun Paling Ideal di Kabupaten Bandung.
Orang Soreang tidak perlu bergantung pada mal di Kota Bandung
Mari bicara jujur-jujuran. Pergi ke Kota Bandung dari Soreang itu butuh perjuangan mental yang luar biasa karena harus melewati Jalan Kopo nerakanya di perbatasan. Oke, kita punya Tol Soroja yang memangkas waktu, tapi ujung-ujungnya kita tetap akan tetapi kena macet di jalan lain yang berbatasan dengan Kota Bandung.
Kalau Soreang punya mal, warga nggak perlu “turun gunung” jauh-jauh cuma buat cari sepasang sepatu baru atau baju kalcer. Dengan adanya mal sebagai pusat hiburan sendiri, beban jalanan Kota Kembang yang sudah sesak itu bisa berkurang. Warga bahagia dan mental tetap terjaga.
Masalah gengsi dan pemekaran Kabupaten Bandung Timur
Selama ini, wajah Kabupaten Bandung masih diselamatkan oleh The Matic Mall di Kecamatan Majalaya. Tapi ingat, wacana pemekaran Kabupaten Bandung Timur (KBT) itu nyata, bukan sekadar mitos belaka. Hanya masih terhalang moratorium DOB (daerah otonomi baru) dari pemerintah pusat.
Kalau Kecamatan Majalaya resmi masuk Kabupaten Bandung Timur, otomatis The Matic Mall jadi milik mereka. Nah, Kabupaten Bandung induk sisa apanya?
Masa iya Soreang yang sekelas ibu kota Kabupaten Bandung nggak punya mal satu pun, sementara wilayah hasil pemekarannya malah punya pusat perbelanjaan yang berdiri gagah? Apa nggak malu tuh kalau ditanya kabupaten tetangga? Jangan sampai statusnya doang ibu kota, tapi fasilitas hiburannya kalah sama “anak baru”.
Sudah saatnya Soreang Bandung punya mal
Soreang memang tempat tenang untuk pensiun, tapi jangan sampai ketenangan itu berubah jadi kesepian karena tertinggal zaman. Kita butuh ruang publik di mana anak muda Soreang bisa nongkrong tanpa harus menghabiskan bensin ke arah kota, dan para orang tua bisa belanja bulanan tanpa harus pusing memikirkan macetnya jalah pulang pergi ke kota.
Sudah saatnya Soreang Bandung punya mal. Biar kalau ditanya orang luar, “Di ibu kota Kabupaten Bandung ada apa aja?”, kita nggak cuma jawab, “Ada gedung Pemda sama Menara Sabilulungan doang.” Kita ingin dengan bangga menjawab, “Ada mal juga, Bos, nggak kalah sama Kota Bandung!”
Penulis: Acep Saepulloh
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Soreang: Nyaman untuk Ditempati, tapi Tidak untuk Mencari Rezeki.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
