Saya pernah menulis di Terminal Mojok soal apresiasi terhadap rujak buah di Surabaya yang “disusupi” tahu. Sebab, kehadirannya menjadi penyeimbang di antara buah-buahan yang asam dan manis. Tapi, kali ini, pendapat berbeda harus saya sampaikan untuk rujak cingur.
Secara makna, rujak itu mestinya berisi buah-buahan, bukan sayur. Apalagi sayur yang dicampur dengan cingur. Bagi yang belum tahu, cingur adalah moncong sapi yang direbus hingga empuk. Mendengarnya saja sudah aneh.
Rasanya kelewat kompleks
Moncong sapi jadi bagian dalam rujak cingur yang paling sulit diterima oleh lidah. Saya tahu cingur sudah dioleh sedemikan rupa sehingga bersih dan layak makan. Namun, sulit dimungkiri, banyangan congor sapi yang berlendir selalu terlintas ketika menyantapnya. Saya yakin nggak sendiri. Begitu mendengar hidung sapi, saya yakin, sebagian orang akan merasa merinding ketika harus mengunyahnya. Ini membuat keberadaan cingur dalam hidangan jadi semacam ujian berat. Sensasi mengunyahnya terasa begitu asing.
Selain congor sapi, tantangan lain dari kuliner ini adalah rasanya yang terlalu kompleks seolah-oleh tidak memebri jeda ketika dikunyah dimulut. Maklum saja, di dalam rujak cingur Surabaya ada buah, sayur, lontong, cingur yang dicampur jadi satu. Di satu suapan, unsur seperti manis gula, asin-gurih petis, pedas cabai, asam dari belimbing wuluh atau asam jawa, serta kacang hadir bersamaan. Mungkin terdengar kaya sekali dengan rasa, tapi percayalah, hal itu justru membuat saya menganggap bahwa rujak cingur punya konsep yang kurang jelas. Sebab terlalu nano-nano.
Bisa jadi, bagi pendatang yang terbiasa dengan rasa yang dominan satu arah (manis kecut), rujak cingur Surabaya bisa terasa terlalu ramai, sulit diterka mana rasa utamanya. Tentu ini bukan soal enak atau tidak enak, melainkan soal adaptasi lidah yang coba menganalisa tiap komponen dalam rujak cingurnya.
Baca halaman selanjutnya: Petis …



















