Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi Mojok.co

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi (unsplash.com)

Ada hari-hari di mana hidup terasa berjalan begitu lamban. Biasanya, perasaan itu muncul ketika dompet sedang tipis-tipisnya, sementara deret kebutuhan berbaris panjang menunggu giliran. Lucu juga kalau dipikir-pikir, bisa-bisanya laju hidup bergantung pada rezeki berupa lembaran rupiah. Tapi, yah, namanya juga manusia. Hidupnya tidak pernah lepas dari urusan dunia.

Kabar baiknya, segala sesuatu yang ada di muka bumi ini sudah dijamin rezekinya oleh Tuhan. Saya yakin konsep ini tidak hanya ada di ajaran agama Islam saja, tapi juga di agama lain. 

Rasa-rasanya saya nggak pernah dengar ada Tuhan dari agama tertentu yang pelit bin medhit. Tuhan, memang Maha Penyayang pada umatnya.

Soal rezeki ini, saya termasuk orang beruntung karena bulan ini duit datang bertubi-tubi. Walaupun saya percaya, rezeki tak melulu soal uang, ia bisa berbentuk banyak hal. 

Pertama, tunjangan saya akhirnya cair 

Sejak pindah tempat kerja, proses pencairan tunjangan saya seperti jalan di tempat. Dana yang seharusnya saya terima setiap bulan, tidak kunjung ada hilalnya. Dari awal sebenarnya saya sudah tahu kalau hal ini akan terjadi. 

Berbagai langkah antisipasi juga sudah dilakukan agar kondisi keuangan tidak terlalu terguncang. Namun, tetap saja, rasa berharap itu ada. 

Untungnya, kabar baik itu akhirnya datang, rezeki itu akhirnya tiba. Beberapa hari lalu, setelah berbulan-bulan menanti, hak saya akhirnya dibayarkan secara utuh. Komplit plit plit plit. 

Ya Rabb, rasanya mak’plong banget. Ini bukan semata soal duitnya ya. Cairnya tunjangan ini menunjukkan data-data saya valid dan diakui. 

Selang beberapa hari setelah tunjangan cair, seorang kawan tiba-tiba menghubungi saya. Dia meminta bantuan saya untuk menjadi moderator seminar nasional yang diselenggarakan di sekolahnya. 

Tanpa banyak pertimbangan, langsung saya iyakan. Saya senang memandu acara, senang juga berinteraksi dan membangun suasana. 

Jadi, ya, nggak ada alasan untuk menolak tawaran tersebut walaupun kawan saya bilang kalau honornya hanya untuk beli bensin saja. Oh, nggak masalah. Untuk sesuatu yang saya sukai, saya rela berkorban. Haishhh, lambeku~

Tapi, rezeki yang selanjutnya terjadi sungguh di luar dugaan

Selesai acara, ketika saya mampir SPBU untuk sholat, saya iseng membuka amplop honor yang saya terima. Begitu lihat nominalnya, saya auto melongo. 

Lha, ini mah bukan buat beli bensin, tapi BENSIN!! Banyak banget…

Gongnya, terjadi pada keesokan harinya. Ketika mau bayar barang yang dibeli oleh anak saya, lagi-lagi saya dibikin kaget. Kali ini, kaget karena saldo di rekening yang tiba-tiba membuncit. Seingat saya, saldo terakhir itu imut banget. Karena penasaran, saya pun membuka mutasi rekening. 

Jeng jeng jeng… ternyata ada transferan uang hadiah lomba dari kementerian yang bulan lalu saya ikuti. Auto nyengir kuda lah diri ini. Hadiah lomba yang semula dijanjikan cair paling lambat awal Juli, akhirnya cair juga di pertengahan Juli ini. 

Rezeki yang bertubi-tubi ini tentu saya membuat saya bersuka hati. Jumlahnya memang tidak seberapa dibanding jumlah duit tersangka korupsi yang belakangan ini ramai diberitakan. Seujung kuku pun tidak ada. Tapi, saya bahagia. 

Kebahagiaan yang saya yakin tidak pernah dirasakan oleh mereka yang melihat uang bukan lagi sebagai alat untuk menyambung hidup, melainkan sebagai sesuatu yang bisa datang datang tanpa usaha, meski harus mengorbankan nurani. Itupun kalau mereka punya.

Penulis: Dyan Arfiana Ayupuspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Konsep Rezeki yang Jauh dari Logika dan Probabilitas.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version