Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Review Film Pendek ‘Pria’ dan Penerimaan Masyarakat Terkait Homoseksual

Nimatul Faizah oleh Nimatul Faizah
15 September 2020
A A
Review Film Pendek Pria dan Penerimaan Masyarakat Terkait Homoseksual terminal mojok.co

Review Film Pendek Pria dan Penerimaan Masyarakat Terkait Homoseksual terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Film sering kali menjadi media penyampai nilai-nilai budaya. Isu-isu sosial juga kerap disisipkan dalam konflik dan plot. Tidak terkecuali isu yang berkaitan dengan homoseksualitas. Film pendek Pria merupakan salah satunya. Film karya Yudho Aditya ini mengangkat hal yang sensitif dengan latar budaya di pedesaan. Film pendek ini bisa diakses di YouTube secara gratis.

Pria telah memborong sebanyak 10 penghargaan dan 23 nominasi penghargaan internasional. Film pendek Pria menceritakan tokoh Aris (Chicco Kurniawan) yang memiliki orientasi seks ke sesama jenis namun dipaksa menikah dengan seorang wanita. 

Film ini seolah ingin menampilkan bahwa masyarakat timur adalah masyarakat yang heteroseksis. Segala hal yang bertolak belakang dengan heteroseksual bakal ditentang dan tidak diterima oleh kelompok.

Tokoh Aris tinggal di pedesaan yang masyarakatnya sangat agamis dan sangat heteronormatif. Ketertarikan Aris, seorang pria, terhadap guru bulenya yang juga seorang pria sangat ditentang dan dianggap aib.

Kehidupan Aris sebagai seorang homoseksual di budaya masyarakat Timur tidaklah mudah. Aris harus menghadapi anggapan bahwa laki-laki sepertinya hina dan lemah. Sang ibu yang menyadari hal tersebut segera menjodohkannya dengan seorang gadis. Aris dalam posisi lemah sehingga ia tak kuasa menolak perjodohan itu. Bahkan Aris beberapa kali menerima perlakuan kurang mengenakkan dari orang sekitar.

Pertama, saat Aris bertemu dengan calon mertuanya, Pak Fauzi, usai salat berjamaah di masjid. Ditepuknya leher Aris sambil berkata, “Tapi leher kamu lemah sekali ya, nggak pernah latihan ya? Lain kali latihan sama Bapak.” 

Pak Fauzi berkata seolah-olah Aris adalah lelaki lemah. Kedua, saat bertemu dengan keluarga Gita, calon istrinya, Aris dinasihati Pak Fauzi untuk memuaskan kebutuhan istri di ranjang. Secara cerdas, Yudho Aditya memperhalus nasihat dewasa tersebut dengan analogi kencang dan kerasnya jari Pak Fauzi.

Adegan bercakap di tengah hujan yang seharusnya menjadi adegan romantis bagi calon pengantin, justru jadi pil pahit bagi tokoh Aris dalam film pendek Pria. Gita dengan ketus mengatakan bahwa di rumah ada sesuatu yang bau. Sesuatu yang bau yang dimaksud adalah Aris. Aris terlihat menahan amarah. Dia menyadari bahwa Gita mulai tahu orientasi seksual Aris yang sebenarnya.

Baca Juga:

5 Rekomendasi Film Pendek tentang PNS yang Perlu Kamu Tonton biar Tahu Susahnya jadi Abdi Negara

Memang Kenapa kalau Coldplay Dukung LGBT?

Tak cukup mendapat hinaan sebagai orang “bau”, Aris yang merasa kesal karena telah dihina calon istrinya menumpahkan kekesalannya di rumah. Sang ibu yang mengetahui hal tersebut, kemudian berusaha menenangkannya. Ironisnya, bukan ketenangan yang ia dapat. Sang ibu memintanya untuk menggunakan kesempatan menikah untuk hidup tenang.

Kemarahan Aris semakin menjadi saat ibunya memaksanya untuk memakan beras merah yang diketahui berguna untuk membantu kejantanan pria. Adegan ini cukup menyayat hati, sang ibu yang dikiranya akan menerima kondisinya justru tetap memaksanya menikahi seorang wanita. Sang ibu masih juga menganggap bahwa anak laki-lakinya harus makan beras merah untuk mengokohkan posisi Aris sebagai seorang pria.

Tepat sehari sebelum hari pernikahannya, Aris pergi ke rumah pria yang dicintainya, sang guru bule. Dengan pencahayaan yang redup, Aris bercerita jika ia tidak ingin menikah dengan Gita. Terjadi percakapan intens dan adegan Aris dan sang guru berciuman, laki-laki dan laki-laki. Mereka kemudian menangis bersama.

Dari film pendek Pria, masyarakat timur yang digambarkan heteronormatif membuat Aris wajib menikahi seorang wanita walau orientasinya homoseksual. Seolah jika menikah, Aris mampu menjadi lelaki yang sebenar-benarnya. Stigma negatif seperti “bau” dan “laki-laki lemah” juga disandangkan kepadanya, bahkan ia mendapatkan julukan tersebut dari keluarga calon istrinya.

Tak hanya itu, keluarga terdekat Aris, sang ibu, tidak dapat menerima kondisi Aris yang menyukai sesama jenis. Maka tidak heran bila homoseksual lebih memilih merahasiakan hal tersebut dari keluarganya dan memilih kehidupan normal versi masyarakat heteroseksual. Beberapa terpaksa menikah hanya untuk status. Orientasi seksual mereka sama sekali tidak berubah. Pernikahan hanya menjadi sebuah pelarian dan kedok untuk menutup-nutupi perkara yang dianggap sebagai “aib” oleh masyarakat.

Sumber gambar: YouTube Yudho Aditya

BACA JUGA 5 Alasan Menahan Diri ke Bioskop Saat Resmi Buka dan tulisan Nimatul Faizah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: film pendeklgbt
Nimatul Faizah

Nimatul Faizah

Dipanggil Niva. Hobi log-in di akun instagram @dear.niva.

ArtikelTerkait

Memang Kenapa kalau Coldplay Dukung LGBT?

Memang Kenapa kalau Coldplay Dukung LGBT?

17 Mei 2023
KTP Sumber Gambar YouTube BPMTP

Film KTP, Film Pendek yang Wajib Ditonton para PNS agar Makin Berdedikasi

12 September 2021
Demi Nama Baik Kampus: Film Pendek tentang Kekerasan Seksual terminal mojok.co

Demi Nama Baik Kampus: Film Pendek tentang Kekerasan Seksual

31 Desember 2021
Kucumbu Tubuh Indahku

Kucumbu Tubuh Indahku: Sempat Ditolak Tetapi Laku di Pasar Internasional

20 September 2019
3 Rekomendasi Film Pendek Buatan Dinas Kebudayaan Yogyakarta

3 Rekomendasi Film Pendek Buatan Dinas Kebudayaan Yogyakarta

7 Januari 2022
Berita Perselingkuhan Bukan Ladang Penghakiman, Tidak Perlu Merasa Paling Tahu terminal mojok.co

Rekomendasi Film Pendek Bagus di YouTube

19 Desember 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.