Dulu, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) selalu menjadi pilihan utama siswa Madura untuk berkuliah. Selain biayanya terjangkau, lokasinya tidak perlu pindah pulau. Makanya, dulu saya sedikit kecewa, karena sebagai lulusan SMK, jurusan sosial-humaniora UTM tidak mau menerima saya. Akhirnya, dengan terpaksa saya pilih kampus di Surabaya dan berpisah dengan teman-teman saya yang banyak memilih UTM.
Meskipun itu membuat saya sedih, tapi agaknya pertimbangan itu bagus bagi UTM untuk menjaring siswa yang benar-benar berkualitas.
Tapi, itu cerita masa lalu. Kini, reputasi UTM seperti berputar 180 derajat. Siswa di Madura sendiri mikir-mikir lagi untuk kuliah di kampus ini. Saya melihat sendiri fenomena ini saat membujuk ponakan saya agar mau ke UTM. Dengan pedenya, dia bilang tidak mau kalau harus kuliah di sana. Katanya, mending ditunda saja kalau harus ke UTM.
Saya merenung, semenurun itukah reputasi Universitas Trunojoyo sampai ditolak siswa Madura sendiri?
Peminat kampus Universitas Trunojoyo Madura makin menurun
Setelah saya coba telusuri, tanggapan ponakan saya ternyata sama dengan respons siswa di tempat saya mengajar. Rata-rata mereka enggan memilih UTM sebagai kampus pilihan. Meskipun ada, mereka bilang akan jadi pilihan terakhir kalau sudah tidak ada alternatif lain. Dalam hati saya, “Ah, sombong amat, padahal dulu UTM itu jadi rebutan siswa dari Pulau Garam ini.”
Karena saya kepo, saya mencoba menelusuri daya saing UTM beberapa tahun ke belakang. Dan hasilnya, ternyata betul UTM makin tidak diminati oleh siswa SMA.
Berdasarkan data SNPMB 2026, banyak prodi di Universitas Trunojoyo Madura yang peminatnya menurun. Di kampus ini, ada belasan prodi punya persentase diterima di atas 50%. Bahkan, ada 8 prodi yang kalian nggak belajar aja, kemungkinan bakal diterima, sebab lebih banyak kuotanya daripada pendaftarnya.
Dunia internal mahasiswa yang problematik
Kalau dipikir lebih jauh, saya berpendapat, menurunnya peminat Universitas Trunojoyo Madura sebetulnya cukup beralasan. Beberapa tahun ke belakang, memang banyak fenomena ataupun kejadian yang kian membuat nama baik UTM tercemar. Misalnya saja, pelaksanaan PKKMB yang harusnya jadi ajang bersenang-senang, di UTM sering meninggalkan kesan yang kurang nyaman.
PKKMB terakhir kemarin saja, bahkan melibatkan presiden mahasiswanya dalam penculikan penganiayaan mahasiswa baru. Haduh!
Tapi, bukan itu saja yang menurut saya membuat reputasi Universitas Trunojoyo Madura menurun. Dunia politik di kampus itu juga sangat tidak sehat. Segala cara agaknya dibenarkan untuk mendapat kursi jabatan. Misalnya, presma yang jadi pelaku kekerasan, eh tetap menjabat sampai akhir. Presma pengganti yang sekarang, legitimasinya juga dipertanyakan, kapan pemilunya, siapa lawannya, kok tiba-tiba kepilih jadi presma. Hadeh!
Terakhir, yang juga bikin saya geram, mahasiswa nonaktif bisa menjabat jajaran eksekutif di kampus kebanggaan orang Madura ini. Isu ini saya diberi tahu teman saya yang kuliah di UTM. Bahkan, saya dikasih lihat NIM si mahasiswa, sampai statusnya di PDDIKTI. Gila, kan!
UTM harus segera berbenah
Ada pepatah mengatakan ikan busuk dimulai dari kepalanya, bukan dari ekornya. Artinya, kalau mau kualitasnya bagus, harus dijamin dulu kepalanya harus bagus. Maksud saya, dalam kasus UTM, nama baik kampus ini sebetulnya bisa saja dikembalikan, caranya para pimpinan di universitasnya harus mau mulai berbenah.
Misalnya, pertama, bentuklah lingkungan universitas yang sehat dan tegas. Terutama dunia politik mahasiswa yang mulai seenaknya saja. Kedua, fokus kualitas, jangan kuantitas. Percuma naro kursi daya tampung puluhan bahkan ratusan, tapi yang kesaring nggak niat belajar. Terakhir, mulailah jadi teladan sebagai kelompok intelektual akademik, kurang-kurangi terlibat masalah politik. Bayangin, kalau pimpinan universitasnya saja nimbrung di kursi politik, bagaimana mahasiswanya nanti.
Ya itulah saran dari saya sebagai warga Madura yang sampai saat ini masih bangga dengan kampus UTM. Saya harap kampus ini benar-benar mau memperbaiki diri, karena, bisa dibilang, kampus UTM lah yang menjadi pondasi keilmuan di Pulau Garam ini!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sisi Gelap Kuliah di Universitas Trunojoyo Madura, Kampus Murah yang Nggak Semua Orang Bisa Betah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















