Relevansi Berpikir Positif di Era ‘Positive Vibes Only’

Featured

Avatar

“Jangan mikir negatif terus, ayo semangat!” Pernah dengar kalimat barusan? Atau yang ini, “Kamu harus bersyukur, kamu masih beruntung lho, di luar sana masih banyak kok yang lebih menderita.” Bagi sebagian besar orang, kalimat-kalimat tersebut memang menjadi penyemangat di kala mereka tengah mengalami masalah. Namun apakah cukup ampuh? Atau malah makin memperburuk kondisi hati?

Kadang secara tidak sadar kita sering melontarkan kalimat-kalimat sejenis untuk menyemangati diri sendiri yang sedang bermasalah ataupun ke teman kita yang sedang curhat ke kita mengenai masalahnya. Di lain kesempatan mungkin saat kita curhat ke seorang sahabat tentang masalah kita, secara tidak sadar ia menyemangati dengan cara demikian.

Quote motivasi senada juga banyak bertebaran di sekeliling kita terutama melalui media sosial, ‘positive vibes only’ atau ‘good vibes only’ katanya. Pesan-pesan yang ingin disampaikan tampaknya diperuntukkan sebagai penyemangat dan motivasi agar kita senantiasa berpikir positif di setiap waktu, seberat apa pun masalah yang sedang kita alami.

Karena begitu banyak motivasi tersebut masuk ke kepala kita, entah dari teman yang sering kita curhati atau dari media sosial, tampaknya makin banyak dari kita yang memakai prinsip positive vibes only dalam mengatasi setiap masalah yang sedang kita hadapi. Tetap tersenyum, buang jauh-jauh pikiran negatif, jangan berpikir yang aneh-aneh, tetap fokus pada sisi positif yang bisa diambil dari setiap masalah. Intinya tidak ada hal-hal negatif, titik.

Di era makin derasnya petuah-petuah positive vibes only ini, timbul suatu permasalahan yang cukup dilematis. Apakah dengan mencoba selalu bahagia bisa mengatasi setiap masalah? Untuk itu mari kita berpikir sejenak. Dengan berpikir semuanya baik-baik saja, banyak dari kita yang memendam emosi negatif terlalu dalam, dan hasilnya perasaan bahagia itu hanya ada di permukaan. Dari luar, mungkin kita akan tetap kelihatan tegar, padahal di dalemnya lagi ambyar.

Terlalu terobsesi dengan rasa bahagia dan mengesampingkan hal-hal buruk yang sedang menimpa kita juga menimbulkan dampak yang jarang disadari orang. Pemikiran seperti itu tampaknya dapat mengundang gejala yang dikenal dengan nama toxic positivity. Rasanya cukup kontradiktif bagaimana sesuatu yang baik dan positif dapat menyimpan sisi beracun yang merugikan.

Baca Juga:  Persinggungan Musik Dangdut dalam Hidup Saya

Istilah toxic positivity muncul dalam sebagai bentuk paksaan untuk kita tetap bahagia dan mengabaikan perasaan yang sesungguhnya kita rasakan. Pokoknya harus bahagia, seolah-olah bentuk perasaan dan emosi yang lain tidak memiliki tempat di dalam pikiran kita. Kita buang rasa sedih, takut, marah, jengkel, dan emosi negatif lain ke kesadaran yang lebih rendah.

Namun masalahnya, kita tidak akan pernah bisa membuang emosi begitu saja. Segenap perasaan dan pemikiran yang berusaha kita buang tidak akan pernah keluar dari otak kita dan cenderung terkubur di alam bawah sadar. Jika setiap pikiran buruk itu disangkal atau dipendam hanya untuk senantiasa terlihat positif atau bahagia di depan orang-orang, yang ada emosi pikiran jelek itu menumpuk dan akan bertransformasi menjadi bentuk-bentuk kecemasan dan depresi.

Toxic positivity membuat kita berpura-pura tampak dan terobsesi pada kebahagiaan semu. Memang sih, setiap manusia memang memimpikan kebahagian, tapi jangan sampai terjatuh ke level obsesi. Bukannya menjadi bahagia, bisa-bisa kesehatan jiwanya menjadi terancam.

Demi menyelamatkan kesehatan jiwa kita yang terancam karena embel-embel positive vibes only, alih-alih menjadi paksaan untuk terlihat positif, ada baiknya jika memandang segala masalah dengan lebih realistis, untuk itu muncullah konsep realistic positivity.

Walaupun sama-sama berada dalam satu spektrum positivity, berpikir realistis jauh lebih aman terhadap mental kita. Membangun positifitas yang realistis dimulai dari memaklumi bahwa hidup tidak selalu bahagia dan setiap masalah yang membawa emosi-emosi negatif merupakan hal yang sangat wajar dan tidak perlu dibuang jauh-jauh. Untuk itu kita bisa jauh lebih jujur terhadap perasaan sendiri dan menjadi langkah awal untuk berdamai dengan perasaan negatif tersebut.

Daripada terburu-buru untuk menimpa pikiran negatif dengan dorongan untuk tetap semangat, mengekspresikan perasaan tersebut hingga reda menjadi kunci agar ia tidak mengendap dalam-dalam. Baru kemudian mencari akar permasalahan dari perasaan buruk yang tengah dhadapi selama ini. Tentunya pendampingan dari seorang teman curhat yang kompeten akan sangat membantu.

Baca Juga:  Udah, Santai Aja Menyikapi SPP yang Bisa Dibayar Pakai GoPay!

Bagi kita yang sedang dirundung kemalangan, emosi negatif itu wajar, kok. Hanya dengan menerima dan mengakui keberadaannya tanpa buru-buru ditimpa pikiran positif palsu, kita akan dapat memandang dunia dengan lebih jujur dan realistis.

BACA JUGA Ngapain Nyenengin Orang Tapi Kita Nggak Bahagia? atau tulisan Dicky C. Anggoro lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
17


Komentar

Comments are closed.