Rekomendasi Memilih Arang untuk Bakar-bakar di Tahun Baru yang Baik dan Benar – Terminal Mojok

Rekomendasi Memilih Arang untuk Bakar-bakar di Tahun Baru yang Baik dan Benar

Artikel

Bayu Kharisma Putra

Malam Jumat nanti kita akan menyambut malam pergantian tahun. Seperti halnya anak kampung dan anak gang yang lain, saya berencana untuk melakukan acara bakar-bakar bersama para tetangga dan keluarga. Kegiatan yang entah kenapa dibenci oleh sekitar 10% dari populasi kampung saya, haram katanya. Mari kita saling menghargai pendapat dan kepercayaan masing-masing. Jadi, ini sekadar saran untuk yang mau saja.

Bakar-bakar adalah salah satu kebudayaan kita saat ada tahun baru yang menjelang. Anda boleh membakar jagung, sosis, ayam, ikan, burger, sate, dan masih banyak lagi. Hal yang tak boleh dilupakan adalah menggunakan arang yang tepat.

Boleh jadi bumbu yang Anda buat sedap, bahan yang dipilih segar, tapi tanpa arang yang tepat, niscaya bukan sedap maksimal yang Anda dapat. Arang sangat menentukan hasil dari bakaran makanan. Ia mampu menentukan aroma, tekstur, sampai ke rasa dari makanan. Bahkan masih banyak kok pedagang yang berpendapat, 50% kenikmatan itu, terletak di arangnya. Sebagai manusia yang punya warung dan kebetulan jualan berbagai jenis arang, saya berikan rekomendasi yang baik untuk BBQ-an.

#1 Dari kayu kelengkeng

Mata kucing, nama lain kelengkeng, buah manis dan agak mahal itu. Kayu kelengkeng merupakan kayu yang paling sering digunakan untuk membuat arang bakar. Hampir semua penjual sate, ikan dan ayam bakar, sampai pedagang cilok keliling, memakainya. Arang kelengkeng terkenal lebih awet dan punya aroma yang khas. Namun, harus hati-hati, ia sering meletupkan bara, ya seperti itulah arang kelas super, bara yang tahan lama, tak mudah dinyalakan tapi tak cepat habis. Selain karena awet dan aroma enak, ia memiliki kekuatan saat terkena tetesan bumbu ataupun kecap, tak akan mati, tetap berapi-api. Ia memang lebih mahal dibanding arang pada umumnya. Akan tetapi, Anda tak perlu khawatir, ia awet banget, sehingga Anda tak akan rugi. Arang kelengkeng cocok untuk bakar apa saja.

#2 Arang biasa

Arang paling murah, terbuat dari kayu apa saja yang ada. Biasanya ia dijual di pinggir jalan saat akan tahun baru. Mudah menjadi bara, tapi mudah juga habis. Lantaran dari kayu yang lunak, asapnya cenderung banyak dan baunya kurang sedap. Ia biasanya juga merupakan pecahan sisa dari pabrik pembuat arang. Makanya sering dijumpai arang yang remuk dan pecah berkeping-keping. Untuk bakar daging tidak disarankan, baunya kurang sedap dan mudah mati saat kena tetesan lemak, kecap, atau bumbu. Namun untuk jagung atau sosis, arang ini cocok. Saran saya, saat menggunakannya jangan terlalu sering mengipasinya, karena ia mudah sekali berasap.

#3 Dari kayu jati

Harganya lumayan mahal, terbuat dari dahan dan akar jati, biasa disebut limbah jati. Di daerah saya, arang ini biasa digunakan untuk bakar ikan, asapnya memiliki aroma yang mampu menghilangkan amis dan bau tanah ikan. Sayangnya,  jenis ini susah didapatkan. Seperti kita tahu, tak banyak lagi pohon jati yang tersisa, semua habis jadi kursi dan meja.

#4 Dari batok kelapa

Saya tak terlalu senang dengan arang ini, susah laku. Walau saya harus mengakui, baunya harum dan sedap. Ia sering digunakan untuk membuat daging atau ikan asap. Memang asapnya sangat berlimpah dan harum. Sangat cocok untuk dijadikan arang bakar ikan atau sate kambing. Niscaya bau tak sedap daging akan hilang. Selain itu, ia dipercaya mampu membuang kolesterol daging. Pernah saya coba untuk membuat mangut lele, rasanya jos gandos. Pernah juga saya gunakan untuk bikin sate ayam dan kambing, mantap juga. Kekurangannya adalah sangat susah menjaga baranya, kipas harus bergerak terus agar tak mati.

#5 Dari kayu rambutan

Arang dari kayu rambutan ini, terbilang jarang yang suka. Padahal ia tak kalah dengan arang kelengkeng. Yang berbeda adalah keawetanya saja. Bara yang dihasilkan sangat baik, mengingat harganya yang murah. Lumayan tahan saat terkena cairan, mudah dipecah juga. Ia cocok untuk apa saja. Namun, saya sarankan untuk jagung dan sosis. Kalau untuk kambing atau sapi, baranya terlalu besar, bisa-bisa hanya luarnya yang matang. Namun, ini bisa disiasati dengan manajemen kipas yang baik, pelan, dan tak terlalu sering.

Yah, saya kira segitu saja dulu. Mungkin nanti kita sambung di lain kesempatan. Saya bakul areng mengucapkan, selamat tahun baru dan bakar-bakar, Mylov~

BACA JUGA Starterpack Muda-mudi Bantul di Malam Tahun Baru dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Baca Juga:  Nggak Usah Bikin Resolusi Tahun Baru Kalau Isinya Masih Sama dengan Tahun Lalu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
6


Komentar

Comments are closed.