Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Realitas Hiper: Alasan Kenapa Ada Orang yang pas Chattingan Seru Banget tapi pas Ketemu Garing

Riyanto oleh Riyanto
14 Juni 2020
A A
realitas hiper, screenshot chat

Serius Nanya, Emang Boleh Share Screenshot Chat Pribadi ke Medsos?

Share on FacebookShare on Twitter

Pernah denger istilah hyperreality? Kalau diterjemahkan sih jadi realitas hiper. Intinya sih realitas yang lain dari realitas kita saat ini dan disebabkan oleh teknologi. Semua manusia di planet ini memiliki realitas hipernya sendiri-sendiri di berbagai media, tetapi umumnya berkaitan dengan media sosial.

Pernah kepikiran nggak kalau kita menciptakan diri kita yang lain di media sosial? Kita mencoba menciptakan versi terbaik kita untuk ditampilkan dunia, atau setidaknya versi yang benar-benar berbeda dari diri kita di dunia nyata. Ada yang di dunia nyata pendiem, eh di Instagram, atau Twitter, atau Facebook, mendadak menjadi cerewet atau bahkan gampang marah-marah. Atau itu oknum penebar kebencian yang menghujat-hujat pihak tertentu, pas ditemui malah kalem. Atau kalau pernah ada perang bacot di komen ig sampai semua nama binatang keluar termasuk dinosaurus termasuk godzilla, eh pas ketemu langsung cuma lirik-lirikan manja. Nah, itu semua terjadi karena kita berada di realitas hiper dan menjadi diri kita yang lain atau bahasa kerennya virtuality you, alias kamu yang virtual, dan begitu berbeda dengan kamu yang sesungguhnya.

Pernah punya temen yang doyan live di media streaming seperti Bigo Live atau semacamnya? Yang dikit-dikit melakukan live dan bertemu teman-teman virtualnya, lalu bisa tertawa-tawa sampai heboh? Di satu sisi memang kadang nyebelin, tetapi di sisi lain itu adalah cara mereka menikmati realitas hiper, sekedar karena realitas itu lebih menyenangkan baginya. Dan sadar atau tidak, sebenarnya kita sama saja, hanya kadarnya berbeda dan medianya berbeda.

Contoh paling gampangnya sih saat kita lagi mbribik gebetan. Nggak mungkin pake surat-suratan lagi dong, pasti mainnya serba digital, entah DM Instagram atau langsung ke nomor whatsapp kalo punya. Nah, pas ngobrol lewat chat kita bisa bahas apa saja mulai dari politik, sosial, fisika kuantum, teori nuklir, perang dunia, sampai invansi alien sekalian. Pokoknya seru banget ngobrolnya dan bisa ketawa-ketawa sendiri. Eh pas ketemu langsung, kita malah plola-plolo bingung mau ngomong apa. pernah pasti, kan? Ngaku aja! Nah itu juga bagian dari kenikmatan realitas hiper itu.

Memang pada dasarnya manusia cenderung senang membicarakan dirinya sendiri meski kadarnya berbeda-beda antar manusia ya. Pernah coba ngitung saat temen cerita tentang masalahnya, terus respon kita justru bilang ‘Kalo aku malah pernah lebih parah,’ dan dimulailah kita membahas diri kita alih-alih dengerin curhatan temen kita. Sayangnya—atau untungnya?—hal itu diperparah dengan media sosial. Realitas hiper yang notabennya virtual membuat kita semakin bebas membicarakan diri kita sendiri. Mau terima atau enggak, saat kita bikin instastori meski isinya cuma ngerepost postingan orang lain, itu kita sedang membicarakan diri kita sendiri—memberitahu dunia tentang apa yang kita sukai dan kita bagikan.

Di media sosial, khususnya Instagram, kita memposting hal-hal tentang diri kita, berharap akan dinotice lingkungan realitas hiper kita, dan saat mendapatkan like, kita merasa senang. Semakin banyak like juga semakin senang. Apalagi kalau banyak yang berkomentar, akan semakin bahagia. Nah, realitas hiper kita memberikan mekanisme kebahagiaan yang sangat simpel, kan? Jauh lebih simpel daripada realitas kita yang sesungguhnya. Itu pula kenapa tidak ada fitur dislike pada Instagram, sebatas agar kita tidak menjadi sedih di realitas itu. Gimana nggak sedih dapat dislike kalau nggak dapat like aja udah sedih banget?

Tetapi sayangnya, apakah sebenarnya yang melakukan like terhadap sebuah postingan itu karena benar-benar mereka menyukainya? Well, beberapa memang mungkin menyukainya, tetapi jangan lupa juga bahwa kita sering tekan tombol like secara sembarangan apa pun postingan yang muncul di beranda IG kita, kan? Bahkan waktu gambarnya loading saja sudah dilike.

Kita juga seneng kalau yang nonton insta story kita banyak, padahal kan banyak yang nonton insta story cuma klik klik klik tanpa diliatin sama sekali. Kok diliatin, masih buffering aja udah diskip.

Baca Juga:

Quora Media Sosial Paling Nggak Toxic yang Pernah Saya Coba, Bikin Betah

Anggapan LinkedIn Sosmed Toxic Hanyalah Kedok bagi Mereka yang Nggak Siap Menghadapi Dunia Profesional

Jadi, realitas hiper benar-benar tampak menyenangkan, pun bahkan memberikan kebahagiaan yang sangat mudah, tetapi jangan juga lupa bahwa semua itu hanyalah semu belaka. Beda ya kalau kita menggunakan media itu untuk sesuatu yang produktif, untuk jualan dan laku banyak misalnya, itu benar-benar kebahagiaan yang harus disyukuri.

Nah, tetapi selain bikin bahagia secara instan, realitas hiper juga bisa bikin sedih secara instan. Lha kok bisa? Ya karena semua orang berlomba-lomba menampilkan sisi terbaik diri mereka—dan kebanyakan malah trying so hard buat bikin konten sebagus mungkin—itu bakal bikin kita yang kontennya biasa aja minder. Membandingkan diri kita dengan yang lain. Gelisah karena postingan temen jalan-jalan mulu, atau nongkrong di kafe mulu. Terus kita mengidap anxiety tiap malam hanya gara-gara minder liat kebahagiaan temen kita.

Itu hanya di urusan postingan orang lain, belum sama postingan kita sendiri. Pernah bikin postingan yang likenya di bawah sepuluh? Itu menyakitkan sekali rasanya. Kita sudah niat ngedit berjam-jam, begitu diposting sedikit banget yang respon, sementara temen kita sekali bikin postingan langsung dapet beribu-ribu like. Nah, permasalahan dapat like saja bisa bikin kita sedih, gimana kalo nanti ada fitur dislike? Bisa-bisa jumlah yang susah tidur malam-malam karena anxiety semakin membludak.

BACA JUGA Alasan Kenapa Kita Pelan-Pelan Perlu Meninggalkan Instagram dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Juni 2020 oleh

Tags: chattinganrealitas hiperSosial Media
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

ArtikelTerkait

kata siap

Panduan Mengganti Kata “Siap” Pas Chattingan biar Nggak Dikit-Dikit Siap

6 April 2020
Beberapa Update Fitur WhatsApp yang Sangat Dibutuhkan sama Penggunanya terminal mojok.co

Update Fitur WhatsApp yang Sangat Dibutuhkan Penggunanya

13 Agustus 2021
relationship goals

Relationship Goal yang Sering Terlupakan: Ayah-Ibu dan Kakek-Nenek Kita

12 September 2019
chattingan sama calon mertua, membalas whatsapp

Panduan buat Kalian yang Baru Pertama Kali Chattingan Sama Calon Mertua

31 Mei 2020
tanda pagar twitter dengan latar merah muda

Sebelum Bikin Tagar, Hal Ini Penting Diketahui

3 Mei 2019
Menelusuri Aktivitas Muda-Mudi Pelaku Chat Anon lewat Chatbot Telegram terminal mojok.co

Beda Karakter Orang yang Menyebut Dirinya “Aku/Saya/Gue” Pas Chattingan

4 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons)

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

19 Maret 2026
Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

20 Maret 2026
KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.