Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ratu Kalinyamat, Sosok Pemberani dari Jepara

Annisa Herawati oleh Annisa Herawati
21 September 2020
A A
ratu kalinyamat jepara perang portugis mojok

ratu kalinyamat jepara perang portugis mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Tiga abad sebelum kelahiran R.A. Kartini, Jepara pernah dipimpin oleh seorang wanita yang mendapat julukan dari Portugis sebagai de kranige dame yang memiliki arti sosok wanita pemberani. Diego de Couto melukiskannya sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica yang berarti seorang wanita kaya dan sangat berkuasa. Sosok itu adalah Ratu Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat yang bernama asli Retna Kencana merupakan putri ketiga dari Sultan Trenggono dan cucu dari sultan pertama Demak, Raden Patah. Sejak masih gadis, Retna Kencana sudah diberikan mandat untuk menjadi adipati di daerah Jepara, Pati, Kudus, dan Rembang. Setelah berusia matang, Retna Kencana menikah dengan lelaki dari negeri seberang bernama Pangeran Toyib yang bergelar Pangeran Hadiri karena ia merupakan seorang lelaki yang datang dari Aceh ke Jepara.

Pernikahan Retna Kencana tidak bertahan lama karena sang suami tewas terbunuh oleh pasukan Arya Penangsang sebagai akibat dari kemelut perebutan kekuasaan di internal Kesultanan Demak. Babak hidup inilah yang membuat kehidupan Retna Kencana berubah. Demi menuntut keadilan atas kematian sang suami yang amat dicintainya, ia melakukan mertapa awewuda wonten ing redi Danaraja, kang minangka tapih remanipun kaore, yang terjemahannya bahwa Retna Kencana akan bertapa dengan telanjang di Gunung Danaraja dan yang dijadikan kain hanyalah rambutnya yang terurai.

Sesanti yang termaktub dalam Babad Tanah Jawi tersebut merupakan sebuah kiasan yang memerlukan interpretasi lebih lanjut. Hayati mengungkapkan maksud dari sumpah tersebut ialah bahwa Retna Kencana tidak peduli lagi dengan pakaian mewah dan perhiasan selayaknya seorang ratu. Retna Kencana hanya fokus memikirkan cara bagaimana bisa membalas dendam atas kematian sang suami dan saudaranya yang telah dibunuh oleh Arya Penangsang. Di Gunung Danaraja itulah, ia mengatur strategi untuk menumbangkan Arya Penangsang.

Balas dendam tersebut berhasil ia lakukan melalui kerja sama dengan Jaka Tingkir. Pada tanggal 10 April 1549, Retna Kencana dilantik secara resmi menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Jepara yang sempat mengalami kemerosotan ekonomi berhasil pulih kembali di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat. Selama 30 tahun memegang kekuasaan tertinggi di Jepara, Ratu Kalinyamat berhasil menjadikan Jepara sebagai salah satu kota pelabuhan terbesar di Nusantara.

Aktivitas perdagangan di laut Jepara semakin ramai dengan banyaknya pedagang dari luar Jawa yang singgah di Jepara. Sebaliknya Jepara juga berhasil melakukan ekspor beras, gula, madu, kayu, kelapa, kapuk, dan palawija ke daerah Bali, Maluku, Makassar, dan Banjarmasin. Dengan demikian, rakyat Jepara dapat hidup makmur selama pemerintahan Ratu Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat tak hanya berpengaruh bagi Jepara maupun Demak. Pengaruhnya diakui oleh dunia internasional bahkan Portugis juga mengakui kehebatan Ratu Kalinyamat, sosok ratu pemberani dari tanah Jepara. Sama seperti Pati Unus, sang paman, Ratu Kalinyamat merupakan sosok anti-Portugis yang berani melancarkan serangan ke pasukan Portugis.

Ratu Kalinyamat pernah mengirimkan pasukan sebanyak dua kali untuk menyerang Portugis. Atas permintaan Raja Johor untuk melakukan perang suci, pada 1551 Ratu Kalinyamat mengirimkan sebanyak 40 kapal dengan pasukan sebanyak empat hingga lima ribu prajurit untuk melakukan ekspedisi ke Malaka yang saat itu telah diduduki Portugis. Bersama dengan kapal armada Malaka, pasukan Jepara dengan gagah berani berhasil merebut tanah Malaka dan berhasil melakukan pengepungan selama tiga bulan lamanya. Namun, serangan balik pasukan Portugis begitu hebat hingga membuat pasukan Malaka memutuskan untuk mundur. Sementara itu, pantang bagi pasukan Jepara untuk mundur. Mereka tetap bertahan untuk bertempur baik di darat maupun laut. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mundur karena seorang panglimanya gugur dalam perang tersebut.

Baca Juga:

Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

Kegagalan pertama tak membuat Ratu Kalinyamat putus asa. Wataknya yang kuat sebagai bentukan dari berbagai pengalaman pahit yang terjadi pada hidupnya membuat ia pantang menyerah untuk melawan Portugis. Pada 1573, ia diajak oleh Sultan Aceh, Ali Riayat Syah, untuk menyerang Malaka. Sayangnya, armada Jepara terlambat datang yang memberikan keuntungan bagi Portugis, sehingga membuat Aceh menelan kekalahan. Armada Jepara baru tiba pada 1574 yang terdiri dari 300 buah kapal layar dengan 15.000 prajurit pilihan. Panglima perang saat itu dipimpin oleh Laksamana Kiai Demang yang dalam catatan Portugis disebut dengan nama Quilidamao.

Portugis menggambarkan serangan Jepara ke Malaka seolah-olah hendak menelan bumi dengan berbagai serangan salvo dan mesiu. Setelah berhasil memborbardir Malaka, pasukan Jepara mendarat dan membangun parit sebagai benteng pertahanan. Namun, sayang sekali saat armada Jepara menyerang kembali, 30 buah kapal besarnya malah terbakar yang memaksa Jepara untuk membatasi pergerakan. Kesempatan ini dimanfaatkan Portugis untuk menyerang balik Jepara.

Setelah tiga bulan pasukan Jepara berusaha untuk bertahan dengan melakukan blokade laut, akhirnya mereka memutuskan untuk mundur karena kekurangan bahan makanan. Diperkirakan dua per tiga kekuatan angkatan perang Jepara musnah dan sebanyak 7.000 orang Jepara dimakamkan di Malaka.

Meskipun dua kali penyerangan yang dilakukan Jepara mengalami kegagalan, Portugis mengakui bahwa Ratu Kalinyamat merupakan sosok pemimpin wanita yang pemberani dan gigih dalam menentang penjajahan. Dua kali penyerangan tersebut juga berhasil membuat Portugis kalang kabut dan mengalami banyak kerugian. Nama Ratu Kalinyamat tetap abadi bak bunga yang mampu menebarkan keharuman bagi sekitarnya yang tak lekang oleh zaman.

BACA JUGA 3 Kota Terlarang untuk Dikunjungi Presiden Indonesia dan tulisan Annisa Herawati lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2020 oleh

Tags: jeparamalakaportugisratu kalinyamat
Annisa Herawati

Annisa Herawati

Cah asli Blitar

ArtikelTerkait

Nelangsa Warga Perbatasan: Dianggap Demak, Nyatanya Lebih Akrab dengan Jepara

Nelangsa Jadi Warga Perbatasan: Dianggap Demak, Nyatanya Lebih Akrab dengan Jepara

5 Mei 2025
Plat Nomor K dan Jepara Remajamu Merusak Nama Baik Orkes (Pixabay)

Kebiasaan Anak Muda di Daerah Plat Nomor K Khususnya Jepara yang Merusak Nama Baik Orkes Dangdut

24 November 2023
Jepara Adalah Kota Ukir, Kota yang Ahli Memahat Indah kecuali Masa Depan Warganya

Jepara Adalah Kota Ukir, Kota yang Ahli Memahat Indah kecuali Masa Depan Warganya

26 Desember 2025
keumalahayati inong balee aceh mojok

Keumalahayati, Inong Balee, dan Akhir Tragis Cornelis de Houtman

1 Oktober 2020
Jepara Ketinggalan Zaman, tapi Warganya Tetap Bahagia mebel jepara

4 Hal yang Bikin Saya Kangen dengan Jepara, meski Saya Enggan untuk Balik Merantau ke Sana Lagi

31 Juli 2025
Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

19 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Juru Selamat yang Bikin Menderita para Pekerja (Wikimedia Commons)

KA Sri Tanjung Adalah Juru Selamat Bagi Kaum Pekerja: Tiketnya Murah dan Nyaman tapi Bikin Menderita karena Sangat Lambat

18 Maret 2026
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi Mojok.co

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.