Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Rasanya Bermalam di Ketajek Jember, Tempat Konflik Tanah yang Hingga Kini Belum Usai

M Nur Fadli oleh M Nur Fadli
11 Desember 2024
A A
Rasanya Bermalam di Ketajek Jember, Tempat Konflik Tanah yang Hingga Kini Belum Usai

Rasanya Bermalam di Ketajek Jember, Tempat Konflik Tanah yang Hingga Kini Belum Usai

Share on FacebookShare on Twitter

Rasa nyaman hidup sudah semestinya ingin dirasakan oleh setiap masyarakat. Tak pandang harus bertempat di kota maupun desa. Bagi masyarakat kota, wajar saja akses ke mana pun mudah didapat dan tanpa ribet harus bersusah payah melewati jalan bergeronjal. Hal yang sama, seharusnya juga bisa dirasakan oleh masyarakat desa pada umumnya. Tetapi kenyamanan tersebut, kiranya tidak dirasakan oleh masyarakat perkebunan Ketajek Jember.

Saya sedikit ceritakan gambaran seperti apa Perkebunan Ketajek itu. Wilayah yang cukup terjal di sektor perkebunan dengan diapit dua desa ; Pakis dan Suci, di Kecamatan Panti. Letaknya tepat di bawah kaki Gunung Argopuro Jember. Secara singkat, terasa bahwa tempatnya penuh suasana tenang, hangat, serta asri. Itu semua hampir betul, karena ada satu hal yang bikin kedamaian Ketajek “tercoreng”, yaitu karena konflik perebutan tanah.

Ya, Ketajek adalah tempat di mana sejarah konflik perebutan tanah yang hingga kini tak kunjung selesai. Hingga kini, perjuangan masyarakat Ketajek, merebut kepemilikan tanah yang telah dirampas oleh Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Jember belum usai.

Makan tempe seminggu sekali

Di waktu itu, bertepatan dengan Ramadan tahun 2022, saya bersama teman-teman Pesantren Gerakan (PG) Karang Mluwo, berniat bermukim sekaligus belajar sekilas tentang kopi dengan masyarakat serta ingin mengerti kondisi sebenarnya konflik di Ketajek. Kami berangkat menuju Perkebunan Ketajek Jember saat siang menjelang sore. Sebab, selain akses jalan yang rusak dan berbatu, jarak tempuh untuk sampai lokasi perkebunan lumayan jauh.

Sesampainya di sana, kami bahagia, karena kedatangan kami disambut sumringah dan ramah oleh masyarakat Ketajek. Kami pun dipersilakan untuk menempati sebuah rumah kosong, berdekatan dengan rumah salah satu warga perkebunan. Secara berjamaah, juga ikut salat tarawih di satu-satunya masjid yang ada di sana.

Sepantasnya sebagai tamu, aktivitas pertama kami ialah silaturahmi ke rumah warga. Seketika miris, mendengar jumlah kepala keluarga yang bermukim di sana. Kurang lebih tidak sampai 40 KK yang masih bertahan di tanah konflik tersebut. Karena sebagian warga yang lain berpindah tempat, sudah tidak lagi bertempat tinggal di wilayah perkebunan.

Gelak tawa terus mengiringi percakapan hangat kami dengan warga Ketajek. Tentu topik pembahasan dalam percakapan random. Supaya kehadiran kami bagi masyarakat Ketajek, tidak seolah-olah terkesan seperti menyidik.

Ada kalimat percakapan yang hingga sekarang masih saya ingat. Ketika silaturahmi di rumah warga Ketajek yang mengatakan bahwa jauhnya akses ke pasar, ia hanya sempat makan tempe sekali dalam satu minggu. “Ya gimana mas, mau makan tempe, biasanya satu minggu sekali,” tuturnya.

Baca Juga:

Nusron Wahid Keliru, Tanah Milik Tuhan dan Diberikan pada Rakyat, Bukan Negara Indonesia!

Konflik Grup Pencak Silat Tiap Tahun Selalu Terjadi, Nggak Bisa Selesai atau Nggak Mau Selesai?

Hah?

Kondisi Ketajek Jember yang bikin trenyuh

Suhu dingin perkebunan ternyata mulai berdatangan menyentuh kulit dan jam dinding sudah menunjukkan pukul malam. Sehingga kami tidak berlarut-larut meneruskan percakapan. Akhirnya, pamit untuk kembali ke rumah penginapan. Di pagi harinya, ketika masyarakat Ketajek pergi ke perkebunan, kami sepakat untuk turut serta ikut sekaligus membantu apa yang kiranya dapat dibantu. Adapun komoditas yang dihasilkan di sana ada kakao, kopi dan kayu manis.

Kondisi perkampungan di Ketajek Jember yang jauh dari kata cukup memantik rasa empati saya. Salah satu kondisi yang bikin saya trenyuh adalah keberadaan pembangkit listrik. Pembangkit listrik di Ketajek masih begitu sederhana, masih memakai turbin air dan panel surya. Oke, panel surya memang terasa canggih. Tapi cukup atau tidak, itu persoalan lain

Itu pun, daya listrik yang dialirkan ke rumah-rumah warga belum maksimal menyeluruh. Warga Ketajek terbiasa memperkirakan dengan tenaga listrik yang demikian, dapat digunakan untuk apa saja. Selain perkara listrik, ada hal lain yang bikin hati saya lumayan tercubit, yaitu hanya ada satu SD di wilayah tersebut.

Dari beberapa rumah yang saya temui di sana, ada salah satu rumah bagus yaitu milik seorang tengkulak. Beliau bernama Tomo. Dirinya datang di perkebunan di kala musim panen kopi telah tiba. Oleh karena itu, tak jarang warga Ketajek mengais rezeki sebagai modal hidupnya dengan menjadi buruh kopi.

Saksi perjuangan

Tentu para pembaca tak lupa, bahwa di atas saya menuliskan bahwa Ketajek Jember adalah saksi perjuangan konflik tanah yang hingga kini belum kelar. Rasa trauma, masih menghinggapi penduduk Ketajek. Dan kini, saya mau sedikit cerita tentang hal tersebut.

Dulu, pada 1973, warga Ketajek pernah mendapat teror dari pihak PDP Jember, akibat tidak mau menyerahkan tanahnya. Saya tak tahu apakah teror tersebut masih berlangsung hingga sekarang. Tapi melihat trauma yang masih membekas, saya tak ingin menanyakannya.

Jangankan menyelesaikan konflik, warga Ketajek masih diberi ruang untuk tetap tinggal di Ketajek itu sudah bersyukur. Walaupun legalitas kepemilikan tanah diklaim berstatus Hak Guna Usaha (HGU) milik PDP Jember, tapi hingga kini, mereka masih bermukim dan melangsungkan hidup di sana.

Di hari itu, selesai salat zuhur tepatnya mau pamit pulang ke rumah kami masing-masing. Tidak banyak yang kami berikan, justru sebaliknya warga Ketajek telah banyak memberikan pelajaran dan pengalaman. Bahwa tidak semua orang sanggup bertahan di wilayah konflik. Tidak semua bisa kuat berjuang, meskipun kekalahan niscaya datang.

Kami hanya bisa memberi kenang-kenangan Al-Qur’an di masjid sana sebagai bentuk terima kasih kepada warga Ketajek. Cukup atau tidak, saya tak pikir panjang. Yang jelas, saya berterima kasih, dan berpikir keras sepulangnya dari sana.

Penulis: M Nur Fadli
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jember Begitu Unik: Warganya Poliglot, Daerahnya “Metropolitan”, Cuma Butuh Sounding dan Lebih Optimis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Desember 2024 oleh

Tags: ketajek jemberkonflikkonflik agrariaperebutan tanah
M Nur Fadli

M Nur Fadli

Lelaki bermata sipit yang menjadikan pelataran warung kopi sebagai kantor keduanya. Kerap mengubah 'wangsit' dan obrolan tongkrongan menjadi sebuah tulisan yang utuh

ArtikelTerkait

Tak Perlu Kaget Keraton Surakarta Memberi Gelar kepada Gus Samsudin

Tak Perlu Kaget Keraton Surakarta Memberi Gelar kepada Gus Samsudin

30 Desember 2022
tutorial balikan dengan mantan pacar pasangan ngambek marah konflik pacaran pacar janji mojok

3 Cara yang Bisa Laki-laki Lakukan Saat Pasangan Mutung Nggak Mau Bonceng

5 Oktober 2020
Branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia yang Berlebihan

Konflik Pencak Silat Madiun dari Cerita Pelaku: Pertempuran Tak Akan Pernah Berakhir

2 Desember 2022
Cahaya Dari Timur_ Beta Maluku, Film yang Bikin Terharu Meski Ditonton Berkali-kali terminal mojok

Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Film yang Bikin Terharu Meski Ditonton Berkali-kali

19 September 2021
Belajar Toleransi Beragama dengan Datang Langsung ke Ambon terminal mojok.co

Belajar Toleransi Beragama dengan Datang Langsung ke Ambon

21 Oktober 2020
5 Alasan Cikarang Bukan Kota Ideal untuk Pensiun (Unsplash.com)

Menjamurnya Rekomendasi Tempat Tinggal setelah Pensiun Adalah Gerbang Menuju Keruwetan Daerah

22 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.