Informasi
ADVERTISEMENT

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

#2 Biaya hidup di Purwokerto vs Salatiga

Purwokerto menawarkan biaya hidup yang relatif rendah. Data BPS 2023 menyebutkan biaya hidup di sana berkisar di angka Rp1,2 jutaan per bulan. Nominal ini memang hanya hitungan secara umum, bisa jadi lebih besar, tapi setidaknya ini bisa menjadi patokan. Beberapa versi data lain menyebutkan Rp5 jutaan per bulan. Tapi dari data yang sama, itu tetap menempatkan Purwokerto sebagai salah satu dari 10 kota dengan biaya hidup termurah di Indonesia.

Sementara Salatiga, menurut data yang sama, justru masuk sebagai kota dengan biaya hidup tertinggi di Jawa Tengah. Biaya hidup di Salatiga setidaknya tembus Rp2 jutaan per bulan. Sekali lagi, ini hanya nominal secara agregat sebagai gambaran umum.

Dari sisi biaya hidup, Purwokerto ternyata sedikit lebih unggul. Dan ini tentu bisa dijadikan sebagai pertimbangan kalau mau slow living.

#3 Indikator mobilitas

Di Purwokerto, mobilitas dan kemacetan masih relatif wajar. Artinya kemacetan tetap ada tapi tidak sampai membuat seseorang jadi depresi atau stres. Itu saja hanya ada di beberapa titik di perkotaan. 

Meski statusnya hanya ibu kota kabupaten, Purwokerto cukup luas. Setidaknya untuk ukuran kota kabupaten, ia sudah punya objek wisata tersendiri seperti Baturraden.

Untuk di Salatiga, mobilitas dan kemacetan hampir tidak terasa. Kotanya yang kecil juga membuatnya terasa semua serba dekat sehingga mobilitas untuk mencari kebutuhan apapun terasa lebih cepat dan efisien. Kamu nggak butuh satu hari untuk mengelilinginya.

Dari pertimbangan ini, maka bagi saya Salatiga punya keunggulan, terlebih untuk mereka yang ingin cepat dan efisien.

#4 Akses dan fasilitas Purwokerto vs Salatiga

Purwokerto sudah cukup lengkap. Ada rumah sakit, mall, kampus juga banyak. Kehidupan jadi terasa lebih modern karena semua aspek kota ada di sana. Terlebih untuk akses transportasi publik. Ia setidaknya punya stasiun yang jadi perhentian kereta api dari beberapa kota antar-provinsi.

Kalau di Salatiga, fasilitas yang ada cukup, tapi tidak selengkap Purwokerto. Setidak kebutuhan-kebutuhan dasar bisa terpenuhi tanpa harus pergi keluar kota Tapi, akses untuk kereta api pun belum ada, sehingga akses untuk keluar kota hanya mengandalkan bus AKAP.

Dari sisi ini, maka Purwokerto punya keunggulan lebih. Sebab ketersediaan kereta api sangat membantu terutama ingin pergi ke luar kota tanpa ribet.

#5 Tekanan sosial dan gaya hidup di Purwokerto vs Salatiga

Di Purwokerto, kehidupan terasa lebih dinamis dan heterogen karena banyak masuk mahasiswa dari luar. Itu membuat kota ini jadi begitu aktif secara sosial. Kehidupan malam juga terasa hidup karena aktivitas mereka. Pendatang atau perantau yang berdatangan juga membuat kota ini jadi lebih kompetitif.

Sementara itu di Salatiga, kehidupan jauh lebih santai, terlebih kotanya yang terkenal dengan tingginya toleransi. Kehidupan di sana juga tidak terlalu kompetitif sehingga cocok untuk slow living.

#6 Stabilitas dan keamanan

Kalau dari sisi stabilitas dan keamanan, kedua kota ini punya kemiripan. Sebab, tingkat kriminalitas di kedua kota tersebut menurut beberapa data tergolong rendah. Sehingga, keduanya sama kuat di indikator ini.

#7 Peluang ekonomi Purwokerto vs Salatiga

Purwokerto lebih banyak menawarkan aktivitas ekonomi karena mulai banyak industri dan usaha yang masuk. Daya tarik dari pendatang, baik mahasiswa maupun perantau membuat kota ini masih cocok untuk menjadi peluang kerja untuk tetap produktif.

Adapun di Salatiga, peluang ekonomi jauh lebih terbatas. Kecuali status seseorang adalah remote worker yang bekerja dari jarak jauh. Sehingga kota ini benar-benar didesain untuk siapa saja yang benar-benar ingin slow living dan bekerja seadanya.

BACA JUGA: Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

Mana yang lebih baik untuk slow living? Purwokerto atau Salatiga?

Kalau Anda memaknai slow living sebagai fase produktif dan aktif dengan cara yang berbeda, misalnya tetap bisa bekerja, mengajar, menulis, membangun usaha, atau tetap aktif di kehidupan sosial dan komunitas, Purwokerto jadi pilihan yang paling realistis. Sebab kota ini memberikan cukup ruang untuk bergerak tanpa memberikan tekanan berlebihan.

Tapi, kalau slow living adalah masa pensiun untuk mencari ketenangan, kesejukan, ketentraman tanpa beban rutinitas materialistik, Salatiga pilihan terbaik. Di kota ini, kehidupan masih terasa sangat sederhana, repetitif yang tidak menekan, dengan tetap tidak ketinggalan zaman. Sebab peradabannya tetap maju.

Terlepas dari semua itu, Anda harus mendasari pilihan untuk slow living pada pemahaman diri sendiri. Paham Anda membutuhkan dan mencari apa, kondisi keuangan, dan konsekuensi untuk hidup tanpa ambisi. Tanpa memahami semua itu, kehidupan jadi merasa hampa dan tak berguna.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 April 2026 oleh .

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

Exit mobile version