Beberapa tahun terakhir, Purwokerto mulai sering muncul dalam percakapan sebagai destinasi “slow living” yang murah dan nyaman. Narasi ini semakin kuat berkat media sosial, cerita para pelancong, hingga konten creator maupun public figure yang menyebutnya sebagai alternatif dari hiruk pikuk kota besar.
Tapi sebagai seseorang yang tumbuh di kota ini, saya bertanya-tanya, apakah Purwokerto benar benar murah? Kalau iya, kenapa saya tidak merasakannya?
Purwokerto, kota yang terlihat murah dari luar
Bagi pendatang, terutama dari kota besar, Purwokerto memang terasa murah. Harga makanan sederhana seperti nasi rames, gorengan, atau warung kaki lima masih bisa dikatakan terjangkau. Biaya hidup secara umum juga terlihat lebih ringan jika dibandingkan kota seperti Jakarta atau Bandung.
Tidak heran jika banyak yang datang lalu berkata, “Hidup di sini enak, murah, dan tenang.” Namun, benarkah itu mencerminkan realitas seluruh masyarakatnya?
BACA JUGA: Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas
Banyumas dan tradisi merantau
Di sisi lain, ada fakta menarik yang jarang dibahas dalam narasi “murah” ini. Kabupaten Banyumas tercatat sebagai salah satu daerah dengan jumlah pemudik yang sangat besar, bahkan berdasarkan data KAI jumlah penumpang yang turun di Stasiun Purwokerto saat lebaran menempati peringkat pertama dengan total 20.286 penumpang. Apa artinya?
Secara sederhana, tingginya arus mudik menunjukkan bahwa banyak masyarakat Banyumas bekerja di luar daerah. Mereka merantau ke kota besar atau pusat ekonomi lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Jika sebuah daerah benar-benar “cukup” secara ekonomi bagi warganya, maka dorongan untuk merantau tidak akan sebesar itu. Di sinilah muncul pertanyaan penting. Jika banyak orang harus keluar untuk mencukupi kebutuhan hidup, apakah label “murah” pada Banyumas, ataupun secara detil, Purwokerto, masih relevan?”
Perantau sebagai agen promosi tak langsung
Menariknya, para perantau ini juga berperan besar dalam membentuk citra Purwokerto saat ini.
Mereka pulang kampung, membawa cerita, mengunggah momen di media sosial, dan secara tidak langsung memperkenalkan kampung halaman mereka sebagai tempat yang nyaman dan layak dikunjungi.
Dari sinilah narasi mulai terbentuk kalau Purwokerto itu adem, hidupnya santai, biayanya terjangkau. Tanpa disadari, promosi ini bersifat organik dan secara tidak langsung berefek pada kuatnya narasi tentang Purwokerto di media sosial.
Dua wajah “murah” di Purwokerto
Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Di satu sisi, Purwokerto masih menyimpan wajah lamanya tempat di mana makanan sederhana tetap terjangkau dan kebutuhan dasar bisa dipenuhi tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Nasi rames, gorengan, atau warung kaki lima masih menjadi penopang kehidupan sehari-hari yang terasa “ramah” bagi banyak orang.
Di sisi lain, wajah baru perlahan muncul dan semakin terlihat. Coffee shop dengan harga yang tak jauh berbeda dari kota besar mulai menjamur, diikuti restoran dengan kelas menengah hingga premium, serta gaya hidup urban yang semakin berkembang. Pilihan semakin banyak, tapi begitu pula dengan standar pengeluaran.
Akhirnya, “murah” di Purwokerto tidak lagi bisa dilihat sebagai satu wajah tunggal. Ia menjadi relatif, tergantung bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Bagi yang hidup sederhana, Purwokerto masih terasa terjangkau. Namun bagi mereka yang mengikuti ritme gaya hidup modern, kota ini tidak selalu semurah yang dibayangkan.
Murah itu soal perspektif
Di titik ini, menjadi jelas bahwa “murah” bukanlah identitas tetap sebuah kota, melainkan pengalaman yang berbeda bagi setiap orang. Bagi pendatang, Purwokerto mungkin terasa murah. Bagi warga lokal, terutama dengan pendapatan yang ada, tidak semua hal terasa demikian. Murah bukan hanya soal harga, tapi juga soal daya beli.
Purwokerto hari ini sedang berada di persimpangan, antara kota yang nyaman untuk ditinggali
dan kota yang mulai berkembang dengan dinamika baru. Maka mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi, “Apakah Purwokerto murah?” Melainkan, “Murah bagi siapa, dan dalam konteks apa?” Karena di balik narasi yang sedang naik daun, selalu ada realitas yang lebih kompleks dan layak untuk dipahami lebih dalam.
Penulis: Fereza Muhammad
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















