Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Purwokerto Murah? Murah untuk Siapa? Kenapa Warga Asli Tidak Merasakannya?

Fereza Muhammad oleh Fereza Muhammad
27 Maret 2026
A A
Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa tahun terakhir, Purwokerto mulai sering muncul dalam percakapan sebagai destinasi “slow living” yang murah dan nyaman. Narasi ini semakin kuat berkat media sosial, cerita para pelancong, hingga konten creator maupun public figure yang menyebutnya sebagai alternatif dari hiruk pikuk kota besar.

Tapi sebagai seseorang yang tumbuh di kota ini, saya bertanya-tanya, apakah Purwokerto benar benar murah? Kalau iya, kenapa saya tidak merasakannya?

Purwokerto, kota yang terlihat murah dari luar

Bagi pendatang, terutama dari kota besar, Purwokerto memang terasa murah. Harga makanan sederhana seperti nasi rames, gorengan, atau warung kaki lima masih bisa dikatakan terjangkau. Biaya hidup secara umum juga terlihat lebih ringan jika dibandingkan kota seperti Jakarta atau Bandung.

Tidak heran jika banyak yang datang lalu berkata, “Hidup di sini enak, murah, dan tenang.” Namun, benarkah itu mencerminkan realitas seluruh masyarakatnya?

BACA JUGA: Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

Banyumas dan tradisi merantau

Di sisi lain, ada fakta menarik yang jarang dibahas dalam narasi “murah” ini. Kabupaten Banyumas tercatat sebagai salah satu daerah dengan jumlah pemudik yang sangat besar, bahkan berdasarkan data KAI jumlah penumpang yang turun di Stasiun Purwokerto saat lebaran menempati peringkat pertama dengan total 20.286 penumpang. Apa artinya?

Secara sederhana, tingginya arus mudik menunjukkan bahwa banyak masyarakat Banyumas bekerja di luar daerah. Mereka merantau ke kota besar atau pusat ekonomi lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Jika sebuah daerah benar-benar “cukup” secara ekonomi bagi warganya, maka dorongan untuk merantau tidak akan sebesar itu. Di sinilah muncul pertanyaan penting. Jika banyak orang harus keluar untuk mencukupi kebutuhan hidup, apakah label “murah” pada Banyumas, ataupun secara detil, Purwokerto, masih relevan?”

Baca Juga:

7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated: Kombinasi Rasa yang Memanjakan Lidah dan Semua Cocok Jadi Buah Tangan

Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Perantau sebagai agen promosi tak langsung 

Menariknya, para perantau ini juga berperan besar dalam membentuk citra Purwokerto saat ini.
Mereka pulang kampung, membawa cerita, mengunggah momen di media sosial, dan secara tidak langsung memperkenalkan kampung halaman mereka sebagai tempat yang nyaman dan layak dikunjungi.

Dari sinilah narasi mulai terbentuk kalau Purwokerto itu adem, hidupnya santai, biayanya terjangkau. Tanpa disadari, promosi ini bersifat organik dan secara tidak langsung berefek pada kuatnya narasi tentang Purwokerto di media sosial.

Dua wajah “murah” di Purwokerto

Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Di satu sisi, Purwokerto masih menyimpan wajah lamanya tempat di mana makanan sederhana tetap terjangkau dan kebutuhan dasar bisa dipenuhi tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Nasi rames, gorengan, atau warung kaki lima masih menjadi penopang kehidupan sehari-hari yang terasa “ramah” bagi banyak orang.

Di sisi lain, wajah baru perlahan muncul dan semakin terlihat. Coffee shop dengan harga yang tak jauh berbeda dari kota besar mulai menjamur, diikuti restoran dengan kelas menengah hingga premium, serta gaya hidup urban yang semakin berkembang. Pilihan semakin banyak, tapi begitu pula dengan standar pengeluaran.

Akhirnya, “murah” di Purwokerto tidak lagi bisa dilihat sebagai satu wajah tunggal. Ia menjadi relatif, tergantung bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Bagi yang hidup sederhana, Purwokerto masih terasa terjangkau. Namun bagi mereka yang mengikuti ritme gaya hidup modern, kota ini tidak selalu semurah yang dibayangkan.

Murah itu soal perspektif

Di titik ini, menjadi jelas bahwa “murah” bukanlah identitas tetap sebuah kota, melainkan pengalaman yang berbeda bagi setiap orang. Bagi pendatang, Purwokerto mungkin terasa murah. Bagi warga lokal, terutama dengan pendapatan yang ada, tidak semua hal terasa demikian. Murah bukan hanya soal harga, tapi juga soal daya beli.

Purwokerto hari ini sedang berada di persimpangan, antara kota yang nyaman untuk ditinggali
dan kota yang mulai berkembang dengan dinamika baru. Maka mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi, “Apakah Purwokerto murah?” Melainkan, “Murah bagi siapa, dan dalam konteks apa?” Karena di balik narasi yang sedang naik daun, selalu ada realitas yang lebih kompleks dan layak untuk dipahami lebih dalam.

Penulis: Fereza Muhammad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Purwokerto: Sisi yang Tidak Terlihat karena Romantisasi Berlebihan dan Menutupi Kenyataan yang Ada

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2026 oleh

Tags: banyumasbiaya hidup di purwokertopurwokertoumr banyumas
Fereza Muhammad

Fereza Muhammad

Terbiasa hidup dalam imajinasi dan dunia fantasi, tapi diam-diam memperhatikan realitas di sekitarnya. Tumbuh di Purwokerto dan suka mengamati perubahan yang terjadi.

ArtikelTerkait

Alun-Alun Purbalingga Bikin Saya Cemas karena Masalahnya Itu-itu Aja dan Tidak Kunjung Ada Perbaikan Mojok.co

Alun-Alun Purbalingga Bikin Saya Cemas karena Masalahnya Itu-itu Aja dan Tidak Kunjung Diperbaiki

14 Mei 2025
Tips Beli Rumah biar Nggak Tertipu Harga Murah terminal mojok.co

Sebelum Nuntut Cowok Harus Punya Rumah Sebelum Nikah, Sebaiknya Kalian Cek Harga Rumah Dulu

24 Agustus 2021
UNU Purwokerto, Kampus Swasta yang Sudah Berdiri Lumayan Lama, tapi Masih Nggak Terkenal

UNU Purwokerto, Kampus Swasta yang Sudah Berdiri Lumayan Lama, tapi Masih Nggak Terkenal

15 Desember 2025
5 Kelebihan Kuliah di Purwokerto yang Mesti Diketahui Calon Mahasiswa: Nggak Kalah dari Semarang dan Solo banyumas

Banyumas Tak Seindah Cocote Komika yang Singgah di Purwokerto

23 Mei 2025
5 Keunikan Purbalingga yang Tidak Dimiliki Daerah Lain (Unsplash.com)

Keluh Kesah Menjadi Warga Kabupaten Purbalingga

22 Maret 2023
Hidup di Patikraja Banyumas: Jauh dari Keramaian, Restoran yang Ada Cuma Rocket Chicken, tapi Suasananya Bikin Damai di Jiwa

Hidup di Patikraja Banyumas: Jauh dari Keramaian, Restoran yang Ada Cuma Rocket Chicken, tapi Suasananya Bikin Damai di Jiwa

22 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi Mojok.co

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi

21 Maret 2026
7 Kesalahan Kecil dalam Pengerjaan Skripsi yang Sering Bikin Mahasiswa Dapat Banyak Revisi, Baca Baik-baik biar Nggak Makin Stres

Alasan Saya Memilih Tugas Akhir Skripsi meski Pilihan Lain Terlihat Lebih “Waras”

22 Maret 2026
5 Kasta Penunggang Yamaha NMAX Dari Hina sampai Berbahaya

5 Kasta Penunggang Yamaha NMAX, dari yang Hina sampai yang Paling Berbahaya

22 Maret 2026
Bupati Blora, Kontenmu Nggak Akan Mampu Menutupi Bobroknya Kinerja Pemkab!

Bupati Blora, Kontenmu Nggak Akan Mampu Menutupi Bobroknya Kinerja Pemkab!

25 Maret 2026
WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

27 Maret 2026
Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu

Derita Menikah dengan Orang Bandung: Tidak Pernah Merasakan Drama Mudik hingga Selalu Diejek

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • 5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta
  • ‘Na Willa’, Merangkul Inner Child, dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan
  • Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok
  • Ibu Jadi Sayang Kucing padahal Awalnya Benci: Dirawat Seperti Anak Sendiri, Terpukul dan Trauma saat Anabul Mati dalam Dekapan
  • Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya
  • Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.